Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 28


__ADS_3

Suara riuh tawa menggema di sebuah hunian. Renata asik bermain monopoli bersama Ricko di pendopo, ruangan di mana para anak berkumpul dan menerima tamu. Sudah lama Renata tidak melakukan itu.


"Ren, kamu sudah pamit suami kamu belum, kalau kamu ke sini?" tanya tante Soraya tiba-tiba.


"Mau pamit gimana? Dia loh yang kasih contoh ke Rena. Pergi ke Bandung, antar teman ceweknya nggak pamit. Padahal aku masih di apartemen itu," jawab Rena dengan tenang.


"Kamu tidak boleh seperti itu, Rena. Walau bagaimanapun juga, seorang istri itu harus meminta izin suami setiap kali keluar rumah. Dosa loh kalau main kabur aja!"


"Kenapa sih kalau cowok aja bebas mau keluar rumah sementara cewek selalu saja dikit-dikit harus izin, harus beginilah-begitulah? Capek tahu!"


"Karena sebaik-baik seorang wanita itu tempatnya di rumah, di kamarnya! Seorang wanita itu makhluk istimewa, karena itu harus dijaga, disayang. Seharusnya kamu bahagia mendapatkan suami seperti Ricky."


"Banyak orang di luar sana bertemu dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Kamu itu sangat beruntung. Apalagi Ricky itu seorang suami yang sabar, sangat sabar malah. Nggak gampang lho cari suami yang sesabar Ricky!" Tante Sora menasehati Renata panjang dan lebar, berharap sang keponakan terbuka hatinya. Bisa menerima kelebihan dan kekurangan sang suami.


Sementara itu, Ricky melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar bisa segera sampai di rumah mertuanya. Tadi saat menelpon Aldi, dia diberitahu jika Renata di rumah itu sejak siang.


"Assalamu'alaikum," ucap Ricky dengan napas memburu.


Ya, dia terburu-buru menjemput istrinya. Sejak keluar apartemen hingga tiba di kediaman Admaja, Ricky bergerak cepat memburu waktu seolah akan tertinggal jauh jika tidak bergerak cepat.


"Wa'alaikumusalam ... Ky? Panjang umur kamu, baru juga diomongin sudah nongol begitu saja," sahut tante Sora sembari tersenyum.


"Maaf Tante, Ricky baru bisa jemput sekarang. Tadi Ricky ngutak-atik mesin sampai lupa waktu," ucap Ricky mengusap tengkuknya, cangung.


"Bokis! Kelihatan banget bohongnya. Si Aldi saja sebelum Maghrib sudah sampai tuh. Masak bos kok pulang belakangan, nggak lucu!" celetuk Rena penuh cibiran.


Melihat suasana yang sepertinya akan terjadi keributan. Soraya meminta semua yang ada disana untuk meninggalkan tempat itu. Kecuali Ricky dan Rena.


"Justru bos yang baik itu datang sebelum karyawan, pulang terakhir setelah karyawannya." Ricky menyela dan membela diri sekaligus.


"Halah, usah kebanyakan bohong. Kalau sudah masuk neraka, menyesal pun percuma."


"Astagfirullah, Renata! Mulut kamu ya, omongan itu sebuah do'a. Jadi, jaga omonganmu," teriak tante Soraya.

__ADS_1


"Tante, Rena itu ngomong apa adanya. Jelas-jelas dia pergi sama cewek lain, bahkan cewek itu terang-terangan minta diantar ke Bandung di depan Rena. Mereka berdua keterlaluan Tan, bukan Rena!" balas Rena tak kalah kuat.


Melihat istri dan tantenya bertengkar karena dirinya, Ricky langsung memeluk sang istri. Mencium puncak kepala dan pelipisnya agar kemarahan sang istri mereda.


"Kamu salah paham, Ren. Aku minta maaf karena menciptakan kesan seolah-olah aku menduakanmu. Padahal seharian aku berada di bengkel, setelah mengantar Stella ke stasiun kereta api," ucap Ricky dengan tangan masih memeluk sang istri. "Aku panggil Aldi, sebagai saksi. Atau mau aku panggil karyawanku yang lain?"


Renata terdiam ketika Ricky memanggil Aldi melalui saluran telepon. Bahkan, dia juga meminta beberapa karyawannya untuk membawa rekaman CCTV bengkel yang menunjukkan keberadaan dirinya tadi siang.


Tak menunggu lama Aldi pun datang dan memberikan kesaksian.


"Ternyata Bu Bos kalau cemburu ngeri marahnya!" celetuk Aldi setelah menceritakan betapa sibuknya Ricky tadi siang.


Wajah Renata bak kepiting rebus karena rasa malunya. Dia merasa ditelanjangi dengan perkataan Aldi. Selain itu, dia juga malu karena terlanjur marah-marah seperti orang kesurupan.


Usai Aldi bercerita, dua orang karyawan bengkel juga datang hendak memberikan kesaksian. Namun, sebelumnya mereka telah mengirimkan rekaman CCTV via ponsel. Sehingga, Renata bisa melihat bagaimana sang suami bekerja untuk dirinya.


Renata pun meminta maaf pada sang suami dengan malu-malu.


"Lebih baik kamu minta maaf ke Tante Soraya! Tadi kamu bersuara kuat padanya. Ingatlah selalu, bahwa dia itu orang yang telah mengurus kamu sejak kecil. Tanpa beliau, kamu tidak akan bisa seperti sekarang."


"Beliau tidak hanya mengurus dan merawatmu, beliau juga mendidikmu, mengajarimu segala sesuatu. Sampai akhirnya kamu bisa menjadi seperti sekarang ini. Beliau telah menyayangimu layaknya anak sendiri, bahkan beliau juga bertindak layaknya teman," tutur Ricky menasehati sang istri.


Renata menurut apa yang diucapkan oleh suaminya. Dia menghampiri Soraya dan bersimpuh meminta maaf. Namun, dengan sigap Soraya menarik Rena ke dalam pelukannya.


"Maafin Rena, Tante. Rena salah. Rena terbawa emosi sehingga tidak bisa berpikir jernih, Tante," ujar Rena di antara isak tangisnya.


"Tante sudah maafin kamu. Tante bisa memahaminya. Sekarang kamu hibur suami, bahagiakan dia sebagai permintaan maafmu!" sahut Soraya dengan senyum mengembang.


Renata menatap Soraya seolah tak percaya dengan ucapan sang tante. Melihat Renata menatap penuh pertanyaan hanya diangguki oleh Soraya. Dua wanita beda generasi itupun saling berpelukan.


"Buatkan suamimu dan teman-temannya minum! Kasihan mereka pasti haus karena terlalu lama meredakan amarahmu," titah Soraya tak bisa dibantah oleh Renata.


Renata bergegas ke dapur untuk membuatkan kopi untuk para tamunya. Ternyata kopi sachet milik tante Soraya habis, kebetulan ada anak kos yang melintas.

__ADS_1


"San, lo ada stock kopi nggak?" tanya Renata dengan berbisik.


"Kopi apa Mbak Kos?"


"Kopi sachet, kopi apa aja deh. Yang penting kopi. Tanggung banget nih, kurang satu lagi," jawab Renata.


"Tunggu sebentar, Mbak!" ucap Susan sembari berbalik, meninggalkan dapur menuju kamarnya.


Tak lama kemudian, Susan datang membawa satu sachet kopi dan menyerahkannya pada Renata.


"Yang ini untuk suaminya Mbak aja. Soalnya kopinya beda sama yang tadi," saran Susan.


Renata pun segera menyeduh kopi itu dan membawanya ke depan. Renata meletakkan kopi sesuai arahan Susan. Kopi yang dikasih Susan diberikan pada Ricky.


Di saat semua meminum kopi, mimik mereka biasa saja. Hanya saja, Ricky sempat menampakkan wajah terkejut. Namun, dia tetap menghabiskan kopi yang pahitnya sangat terasa.


Semua pamit pulang, termasuk Ricky. Dia memaksa Renata untuk ikut pulang. Awalnya Rena menolak dengan alasan menginap saja karena larut malam dan itu ditolak oleh Ricky.


Mereka saat ini masih berada di mobil. Ricky sengaja mendiamkan Rena karena kesal. Tadi dia bertanya pada Aldi dan yang lainnya, bagaimana rasa kopi mereka.


Jawaban mereka sungguh mengejutkan. Takarannya sangat pas dan nikmat berarti hanya kopi miliknya yang terasa pahit bak brotowali. Ricky berjanji dalam hati akan menghukum Renata sesampainya di apartemen nanti.


*


*


*


Maaf baru bisa up, diriku sibuk RL 🙏


Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temenku


__ADS_1


__ADS_2