
Ricky mengajak Renata ke pantai setelah selesai makan siang. Hari ini, seminar hanya berisi ramah tamah saja karena acara inti sudah selesai. Jadi, Ricky akan mengajak istrinya mengelilingi destinasi wisata yang ada di Bali.
Pantai Kuta siang ini dipadati oleh wisatawan baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Bahkan pantai itu kini seperti lautan manusia. Namun, jumlah wisatawan saat ini hanya berjumlah separuhnya dari beberapa tahun lalu, sebelum adanya virus Covid mencuat.
"Kita duduk di sebelah sana saja!" ajak Ricky seraya merangkul pinggang istrinya.
Mereka berjalan menuju pohon yang rindang, dimana penjual pernak-pernik kerang duduk menjajakan dagangannya. Mereka duduk di atas limbah kelapa muda yang masih bersabut segar. Renata duduk bersandar pada bahu sang suami.
Renata langsung membuka sepatunya, begitu juga dengan Ricky. Mereka meletakkan sepatu tak jauh dari mereka.
"Mau kelapa muda?" Ricky menawarkan minuman pada sang istri.
"Boleh, tapi yang original ya. Panas terik jangan minum es, nanti gampang sakit," sahut Renata dengan senyum manisnya.
Hari ini sepertinya mood Renata dalam keadaan yang sangat baik. Sejak Ricky masuk kamar dan mengajaknya keluar, Renata tampak lemah lembut seperti wanita pada umumnya. Ricky berharap, hal ini berlangsung selamanya.
Ricky bergegas membeli dua buah kelapa muda yang original, tanpa es batu dan tambahan gula. Ricky dan Rena sama-sama menyukai air kelapa muda dengan rasa original. Air kelapa muda yang masih asli, memiliki banyak khasiat untuk tubuh kita.
Seseorang yang tahu akan manfaat air kelapa murni, akan lebih memilih kelapa muda original dibandingkan dengan es kelapa muda dengan tambahan gula.
Air kelapa muda memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh kita. Seperti, memperlambat proses penuaan, mengatur kadar kolesterol dan tekanan darah, bagus untuk pencernaan, mencegah penyakit batu ginjal, menghalau radikal bebas dalam tubuh, serta mengganti cairan tubuh yang hilang. Selain itu juga dapat menopang kesehatan organ tubuh kita.
Tak butuh waktu lama untuk Ricky membeli kelapa muda, yang letaknya hanya beberapa langkah saja dari tempatnya duduk tadi. Ricky membuka sendiri kelapa muda itu. Dia hanya ingin memastikan jika air kelapa itu benar-benar original.
"Hmm, segarnya!" ucap Renata usai meminum sebagian air kelapa muda yang diberikan oleh Ricky.
"Panas kuat begini memang cocok minum air kelapa muda, Yank. Minuman yang alami itu sungguh menyehatkan. Kita tidak was-was terkena penyakit setelah minum," sahut Ricky sembari memainkan pipet.
Tiba-tiba pedagang yang tadi duduk di dekat mereka, mendekati untuk menawarkan barang dagangannya. Pernak-pernik itu ada yang berbentuk gantungan kunci, kotak perhiasan, gelang, topi dan berbagai cindera mata lainnya.
"Mas, beli gantungan kunci ya? Buat oleh-oleh temen kuliahku," rengek Renata.
"Ambil aja apa yang kamu mau dan suka! Tidak usah tanya lagi, Sayang," jawab Ricky memberi kebebasan pada istrinya untuk belanja.
__ADS_1
Rena mengambil beberapa gantungan kunci dan beberapa gelang. Ricky yang melihat hanya mengernyitkan dahinya. Barang sekecil itu apa berarti buat teman-teman kuliah Rena.
"Memang teman kamu mau hanya dikasih gelang sama gantungan kunci aja? Barang kek gitu apa tampak berharga? Dilihat dari harganya yang tak seberapa," tanya Ricky begitu selesai membayar belanjaan sang istri yang tidak sampai dua ratus ribu itu.
"Ya jangan dilihat harganya dong, Mas. Barang pemberian itu dinilai dari besarnya ingatan kita pada mereka yang menerima. Mereka tidak melihat harga barang yang diberikan, tapi mereka menilai dari niat kita sewaktu memberinya barang," jelas Rena dengan sabar.
"Seperti itukah teman-teman kamu, Sayang? Enak ya, punya teman-teman yang menghargai kita bukan dari harga barang yang kita beri. Teman yang seperti itu wajib dipertahankan," ucap Ricky mulai mengerti tentang istrinya.
"Makanya Mas, kalau cari teman itu jangan yang dari golongan atas saja. Ekonomi menengah ke bawah juga harus kita rangkul. Seperti tadi contohnya, kita membeli barang -barang ini tuh, berarti kita telah membantu dia. Melalui kita dia bisa mendapatkan rejeki. Oleh karena itu, jika kita melihat pedagang kecil yang dagangannya belum laku, kita wajib membeli. Dengan belanja pada mereka, secara tidak langsung kita telah membantu memecahkan masalah ekonomi dia." Rena menjelaskan dengan senyum mengembang sehingga Ricky mudah memahami.
"Mantap! Mantap! Istriku memang the best! Ternyata Allah begitu menyayangiku hingga aku diberi bidadari surga secantik dan sebaik dia," ucap Ricky dengan air mata yang siap tumpah membasahi pipi karena bahagia campur haru.
"Apaan sih, Mas! Lebay," celetuk Rena saat sang suami memujinya.
"Kok lebay? Aku itu ngomong apa adanya lho," sahut Ricky cepat.
"Mas, kita ke sana yuk! Keknya enak deh main air," ucap Renata sambil menunjuk ke arah dekat pantai.
Renata berjalan menyusuri pantai sambil tertawa riang gembira. Ricky mengekor ke mana pun sang istri berjalan. Saat Renata sedang berjalan mundur, punggungnya menabrak seseorang.
"Maaf, Kak," ucap Rena langsung begitu berbalik.
"Punya mata nggak sih? Cantik-cantik matanya buta!" teriak orang yang Rena tabrak.
Seorang perempuan menggunakan bikini dalam pelukan laki-laki.
"Hei, istri saya sudah minta maaf. Kenapa Anda malah memakinya?" teriak Ricky tidak terima istrinya dibentak orang lain.
"Kalau tidak ingin dimaki orang, kalau jalan itu matanya ke depan biar gak nabrak orang! Sudah tahu istri salah malah dibela, nggak ngotak lo!" sahut laki-laki yang memeluk perempuan yang ditabrak Rena tadi.
Ricky menajamkan penglihatannya, sepertinya dia mengenal laki-laki yang memakinya itu.
"Faro! Lo Faro 'kan, Alif Alfaruq?" teriak Ricky tiba-tiba.
__ADS_1
Lelaki yang dipanggil Faro itupun memicingkan sebelah matanya. Menatap Ricky tanpa berkedip.
"The Jungle Road! Ingat?" ucap Ricky, mengingatkan akan kenakalannya saat memakai seragam putih biru.
Saat itu adalah awal mula dia mengenal dunia balap liar, dan akhirnya dia bisa mengenal mesin dan modifikasi kendaraan.
"Lo siapa?" tanya lelaki yang dipanggil Faro itu.
"Gue Ricky. Inget?"
"Ricky, Ricky ... seingat gue Ricky itu anak manja yang badannya paling kecil di antara kami. Walaupun begitu dia yang paling cerdas dan dapat dihandalkan jika kami memiliki masalah," ucap laki-laki itu sambil mencoba mengingat-ingat masa lalu.
"Badan paling kecil tapi berkulit bersih, otak cerdik dan akhirnya dipanggil Kancil ...."
"Beneran ini si Ricky Kancil? Apa kabar, Bro?" teriak Faro senang.
"Iya, ini gue. BTW bini gue dimaafin nggak nih?"
"Dimaafin dong! Sorry, tadi gue reflek aja," jawab Faro tertawa.
Akhirnya mereka saling bertukar nomor dan membuat janji makan malam di sebuah restoran tak jauh dari tempat itu.
Ricky dan Rena kembali menyusuri pantai. Tiba-tiba pandangan Ricky terpaku pada seorang laki-laki paruh baya yang sedan mengoper bola pada anaknya. Betapa terkejutnya Ricky saat melihat sang papa bersama wanita dan seorang anak remaja yang sangat dikenalnya.
*
*
*
Author bawa rekomendasi karya seru nih, mampir yuk!
__ADS_1