
Renata masih menekuri ponsel dalam genggamannya. Ponsel milik sang suami yang berisi rekaman dimana suaminya sebagai protagonis yang menolong teman lama.
"Yang dimaksud Sandy di sini ...."
"Ya! Orang yang sama yang setiap hari menemanimu," potong Ricky disertai senyuman.
"Baangsaat memang tuh orang!" teriak Renata kesal.
Orang-orang yang berada di restoran itu menoleh ke arah Renata karena mendengar teriakannya.
"Maaf," ucap Renata seraya mengangguk ke arah mereka satu persatu.
"Pfftttt ...."Ricky menahan tawanya ketika melihat wajah Rena yang tampak memerah karena telah mengundang perhatian pengunjung restoran.
"Dasar suami gak ada ukhluk! Istri dipelototin orang banyak malah tertawa bahagia," gerutu Rena kesal.
"Alhamdulillah sudah mau anggap suami. Akhirnya saat itu tiba juga," gumam Ricky lirih tetapi masih terdengar oleh rungu Renata.
"Dih, lebay!" Renata memutar bola matanya malas.
"Pulang yuk, Yang!" celetuk Ricky tiba-tiba dan langsung mendapat tatapan tajam dari Renata.
"Yang, Yang, kepala peyang!" sahut Rena sambil berdiri dari duduknya dan mulai berjalan meninggalkan meja itu.
"Lah, malah ngambek terus ninggalin begitu saja!" keluh Ricky sembari mengejar langkah kaki Renata.
Kesalahpahaman itu pun berakhir, walaupun belum bisa akur sepenuhnya. Terjadi pertengkaran antar pasangan itu sudah biasa dalam rumah tangga. Hanya bagaimana kita menyikapinya agar pertengkaran itu tidak berbuntut panjang dan berlarut-larut.
"Kenapa malah ninggalin aku, sih? Malu ya jalan bareng suamimu yang jelek ini?" berondong Ricky ketika mereka telah sampai di area parkir.
"Dimana mobil kamu?" tanya Renata mengalihkan pembicaraan.
"Itu!" tunjuk Ricky pada mobil pajero putih yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Baru?" Renata mengamati mobil itu dan bertanya.
"Nggak juga, cuma jarang aku pakai. Malah yang Rush itu yang baru. Kenapa?" jawab Ricky.
__ADS_1
"Masih tampak baru, lagian nggak pernah lihat juga," sahut Renata.
"Itu mobil memang jarang aku pakai, itu papa yang beliin pas ulang tahun ke dua puluh. Kalau yang sering aku pakai, mama yang beli setahun kemudian," jelas Ricky sembari membuka pintu mobil untuk Renata.
"Oo ...." Bibir Renata mengerucut mendengar penjelasan dari sang suami.
"Kamu sendiri keknya jarang bawa kendaraan ke kampus. Aku lihat di rumah ada tiga mobil, kenapa tidak dipakai aja?" Kini gantian Ricky yang bertanya pada Renata.
"Mobil papa cuma satu, yang dua itu mobil tante Soraya. Om Awan itu seorang pengusaha sukses, makanya dia beli mobil sampai dua. Padahal mobil satu aja jarang banget dipakai," cerita Renata.
"Siapa om Awan?"
"Suaminya tante Soraya yang sudah menghilang entah kemana. Cuma duit aja yang pulang. Orangnya nggak pernah pulang selama delapan tahun, bayangkan coba!"
"Ogah! Males aku bayangin sesuatu yang gak masuk di nalarku," sahut Ricky spontan.
"Ya udah, kalau gitu nggak usah tanya lagi!" gumam Renata seraya melihat ke arah luar jendela.
"Ngambek lagi, deh! Perasaan gue sudah banyak mengalah tapi kenapa masih aja gue yang salah," gerutu Ricky, benar-benar tidak paham dengan aturan-aturan perempuan yang absurd.
Sore harinya setelah singgah sana sini, keduanya sampai juga di area parkir apartemen Ricky. Ricky turun hendak membeli makanan untuk makan malam nanti. Hal ini dikarenakan isi kulkasnya hanya berisi minuman kemasan.
"Take away aja deh! Badanku rasanya lengket semua. Butuh berendam air hangat," jawab Renata sembari mengibaskan tangannya di dekat wajah. Wajah Renata tampak berkilau karena belum dibasuh beberapa jam.
"Okeh! Pak, dibungkus dua," ucap Ricky.
Setelah menunggu beberapa saat, kini pesanan mereka telah selesai dibungkus. Mereka berdua langsung masuk apartemen. Ricky bergegas ke kamar mandi begitu saja, meninggalkan Renata yang menyimpan makanan.
Tak lama setelah menyimpan makanan, Renata pun masuk ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Setengah jam kemudian, mereka telah duduk menikmati makan malam mereka.
"Aku harap kejadian tadi dan sebelumnya sebagai pembelajaran untuk kita. Jangan sampai ada salah paham lagi! Untuk itu, kita harus sering berkomunikasi agar tidak terulang kembali," ujar Ricky setelah makanan di piringnya habis dan minum air putih.
"Maaf .... "
"Tidak usah meminta maaf, aku pun membuat kesalahan. Jadi, marilah kita mengucap maaf melalui tindakan kita. Introspeksi dan perbaiki diri agar kita bisa mewujudkan keluarga sakinah mawadah warahmah."
"Pernikahan ini sakral, bukan untuk dipermainkan. Kita sama-sama belajar mengenal dan menerima pasangan. Aku harap kamu bisa membantuku mewujudkan sebuah keluarga yang rukun, bahagia dan sejahtera," mohon Ricky dengan raut wajah yang serius.
__ADS_1
Ricky benar-benar berharap bisa membina rumah tangga hanya dengan sekali menikah. Walaupun pernikahan itu diawali tanpa cinta. Pernikahan yang terjadi sudah menjadi takdir mereka berdua yang harus dijalani.
"Aku akan berusaha, Rick. Aku masih belum bisa mengendalikan emosiku. Jadi, aku mohon kamu tetap membimbingku, walaupun aku berbelok tunjukkan jalan yang lurus," ucap Renata seraya memegang punggung tangan sang suami.
"Kita saling mengingatkan karena kita hanya manusia biasa tempatnya khilaf dan lupa," sahut Ricky, meletakkan tangannya yang bebas ke atas tangan Renata.
Keduanya hanya saling diam dengan tangan terpaut. Diam saling memikirkan kesalahan yang lalu dan rencana untuk menyongsong hari esok.
"Kamu mulai malam ini tidur di kamar utama, kita ini pasangan halal. Tidak dibenarkan tidur terpisah tanpa alasan kuat. Mau 'kan, hmm?" kata Ricky tiba-tiba.
Renata langsung mengangkat kepalanya menatap sang suami. Terkejut. Itulah yang dirasakan Rena atas keputusan suaminya yang tiba-tiba, tanpa pembicaraan sebelumnya.
"Jangan takut! Aku janji tidak akan menyentuhmu tanpa seizin dirimu. Mau ya? Ya?" bujuk Ricky ketika ditatap oleh istrinya dengan intens.
"Yakin kamu tidak akan grep-grep gitu ke aku? Cowok 'kan sensi, kesenggol dikit aja langsung on," tanya Rena meringis, membayangkan disentuh suaminya.
"Kalau kamu tidurnya anteng gak kek gasing sih nggak masalah. Apa kita kasih pembatas guling aja di tengah? Itu pun kalau kamu masih ragu dan gak yakin sama kata-kataku," usul Ricky.
Rena terdiam sejenak, memikirkan usulan Ricky.
"Tidur satu ranjang terus tengahnya dikasih guling sebagai pembatas. Apakah itu aman?"
Otak Rena terus berputar memikirkan apa saja yang akan terjadi jika jadi tidur bersama. Ada rasa takut menghinggapinya. Kejadian saat itu saja masih terasa sakit di area intinya jika teringat.
"Duh, sebenarnya takut bobok bareng. Kalau aku tolak dia marah nggak ya? Masak baru baikan mau marahan lagi, sih?" batin Renata bergidik ngeri.
"Kenapa Ren? Kok sejak tadi melamun," tanya Ricky menyentuh pundak Renata, hal itu sontak membuat Rena terkesiap kaget.
"Ng-nggak kok. Nggak ada apa-apa," jawab Renata gugup.
"Kalau nggak ada apa-apa, ayo ke kamar! Sudah malam, besok kamu ada kuliah 'kan?"
*
*
*
__ADS_1
Hai, aku bawa rekomendasi karya teman lho. Kepoin yuk, gak kalah seru nih ....