
Ricky benar-benar disibukkan dengan pekerjaannya. Masalah datang secara bersamaan di saat dia baru belajar mengelola perusahaan besar. Belum selesai dengan masalah di Surabaya dan kebakaran bengkelnya, kini datang lagi masalah baru.
"Pak, investor dari Singapura membatalkan kerja sama. Mereka bilang kerja kita terlalu lambat, jadi dilimpahkan ke perusahaan lain," lapor Ririn, sang sekretaris.
"Ada lagi?"
"Perusahaan WS Cyber melayangkan tagihan, dalam tagihan tersebut ada perusahan kita melakukan wanprestasi. Sudah tiga bulan tidak melakukan pembayaran jasa mereka ...."
"Tiga bulan? Kemana saja kamu, apa yang kamu kerjakan kenapa bisa selama itu tidak dibayar?" potong Ricky dengan kemarahan yang memuncak, membuat Ririn terjengit kaget dan mundur beberapa langka secara tidak sadar.
Ricky benar-benar tidak menduga akan datang masalah bertubi-tubi menyerangnya.
"Kamu cek perusahaan mana yang belum melakukan pembayaran! Pecat mereka yang melakukan kesalahan!" titah Ricky mutlak.
Ricky melambaikan tangannya sebagai tanda menyuruh Ririn meninggalkan ruangannya.
"Awas saja, kalau sampai ketemu siapa dalang dibalik semua masalah ini! Akan ku cincang-cincang sampai halus. Aaarghhhh!" Sumpah serapah keluar dari mulut Ricky karena saking emosinya.
Di sebuah gedung perkantoran tak jauh dari gedung perusahaan Kurnia Group.
"Bagus! Kerja yang bagus! Jangan sampai kerja kamu ketahuan!" ucap laki-laki muda berumur 23 tahun.
"Baik, Tuan. Selanjutnya apa lagi yang harus saja kerjakan, Tuan?"
"Untuk sementara cukup, kita lihat sekuat apa dia mempertahankan perusahaannya. Keluarlah!"
Setelah orang suruhannya keluar, laki-laki itu menghubungi seseorang melalui smartphone-nya.
"Bagaimana perkembangan kerjamu? Apa sudah memperlihatkan hasilnya?"
" .... "
"Bagus! Jalankan langkah selanjutnya!"
Laki-laki itu langsung mematikan sambungan secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.
......................
Rena mengikuti kuliah dengan mata terkantuk-kantuk. Tadi malam dia harus menenangkan burung cucak rowo-nya yang sudah lama puasa. Badannya terasa remuk redam dan mata terasa lengket.
"Sstttt ... Ren! Rena bangun!" panggil Lola sambil menyenggol lengan Rena, saat diihatnya mata Rena terpejam.
"Ck, anak ini nyalinya gede juga. Kelas dosen killer masih berani tidur," gumam Lola dalam hati.
__ADS_1
Dosen masih menjelaskan di depan, sesekali pandangan matanya terarah pada mahasiswi yang terlihat gelisah sejak tadi. Sambil menjelaskan, dosen muda itu berjalan mendekati kursi Lola yang bersebelahan dengan kursi Rena.
"Ada yang kamu tidak mengerti? Saya lihat sejak tadi kamu gelisah," tanya sang dosen dengan tangan bersedekap di dada dan alis terangkat sebelah.
Lola yang didekati sang dosen pun gelagapan karena kaget. Dia tidak menyangka dosen muda tapi killer itu mendatanginya. Saking kagetnya, Lola mencubit lengan Rena.
Kantuk Rena seketika menghilang mendengar suara bariton sang dosen dan juga cubitan mesra dari sahabatnya. Matanya cerah seketika.
"Mm ..." Lola tidak tahu harus menjawab apa, sejak tadi dia sibuk membangunkan Rena sehingga tidak fokus dengan pelajaran yang disampaikan oleh dosen. Maksud hati ingin temannya selamat, malah dia menggali kuburan.
"Apa, hmm?" Dosen itu masih berdiri di samping Lola menunggu jawaban.
Rena tak kalah penasaran mendengar jawaban dari sohibnya itu, menatap Lola dengan kedua tangan menyangga dagu.
"Siapa nama kamu?" tanya sang dosen kesal karena sejak tadi mahasiswi itu diam tak menjawab.
"L-lola, Pak," jawab Lola terbata.
"Pantas saja nggak bisa jawab! Ternyata nama sama otaknya tidak jauh beda," cibir dosen muda itu.
Wkwkwk ....
Seisi kelas menahan tawa mendengar cibiran yang keluar dari mulut sang dosen. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara ketika dosen itu masuk ke kelas mereka.
Berbeda dengan teman-temannya, Lola begitu kesal hingga melakukan gerakan meninju udara di belakang punggung sang dosen, ketika dosen itu kembali ke depan kelas.
Tidak hanya Lola yang mendapat tugas, semua mahasiswa juga mendapat tugas. Tak lama setelah memberi tugas, kelas pun berakhir.
Hari ini benar-benar hari si*l bagi Lola, dia mendapat tugas double dari dosen muda killer itu.
"Pengen gue tonjok beneran mukanya! Dasar dosen nyebelin. Untung cakep jadi gak jadi gue tonjok," gerutu Lola dengan napas memburu karena menahan kekesalannya.
"Jangan gitu! Entar lo nyesel nonjok mukanya, secara wajah dia itu seperti artis Turki ...."
"Ekemmm!"
Rena langsung bungkam karena tiba-tiba sang dosen itu sudah berada di belakang Lola.
"Kalian berdua ada tugas tambahan karena telah mengghibah saya! Silahkan ambil tugas di ruangan saya sekarang juga! Saya tunggu sampai jam tiga, lewat dari jam tiga kalian tidak akan lulus mata kuliah saya!" ucap sang dosen sebelum berlalu dari hadapan Rena dan Lola.
"Mampoosss! Kapan gue kelar ngerjain tugasnya. Sudah segini banyaknya, masih ditambah lagi ...."
"Udah, ayo buruan! Jam tiga sepuluh menit lagi, mana ruangannya jauh lagi dari sini. Huffftttt!" ajak bumil sambil menarik tangan Lola.
__ADS_1
"Gara-gara lo tau nggak? Gue jadi sial," kata Lola menyalahkan Rena.
"Kok salah gue, sih?"
"Coba kalau lo tadi nggak merem, pasti gue ngga ribut bangunin lo."
"Emang dasarnya lagi apes aja, La. Makanya ada saja jalannya buat kena masalah," jawab Rena.
"Tumben lo bijak?"
Mereka ngobrol sambil berjalan sampai di depan ruangan dosen itu. Saat akan mengetuk pintu, keluar mahasiswi dari kelas lain.
"Mau ketemu Pak Fahri juga?" tanya mahasiswi itu dan diangguki oleh keduanya.
"Langsung masuk aja!'
Lola dan Rena keluar dari ruang Pak Fahri dengan wajah lesu. Keduanya disuruh membuat rangkuman mata kuliah Pak Fahri dari awal semester sampai akhir.
Rena pulang ke kos Mami Sora karena harus mengerjakan tugas, nanti malam baru dijemput Ricky sekalian pulang kantor.
Beberapa jam kemudian ....
Ricky pulang dari kantor langsung menuju kos Mami Sora. Wajahnya tampak lesu, penampilannya juga tampak berantakan karena banyak masalah yang dihadapi.
Stella yang tahu Ricky akan datang, sengaja menunggu di ayunan yang tidak jauh dari pintu pagar. Begitu mobil new pajero putih memasuki halaman, gadis itu langsung berdiri.
Stella benar-benar bertingkah seperti seorang istri yang menunggu suami pulang kerja. Dia langsung merangkul lengan Ricky tanpa aba-aba. Ricky yang merasa risih, langsung mengibaskan tangan Stella dengan kasar.
"Kok gitu sih, Rick? Kita nggak ketemu sudah beberapa hari lho. Emang kamu nggak kangen apa?" rajuk Stella manja.
"Lo apa gue? Kok sampai gue rindukan," jawab Ricky dengan dingin.
"Kok lo gue lagi sih?" protes Stella.
"Stop! Berhenti bersandiwara Stella! Kita tidak pernah menjalin hubungan apa pun, selain teman sekolah. Itu pun saat SMP!" teriak Ricky murka.
"Kalau pun tempo hari gue nolongin lo, itu karena rasa belas kasihan. Siapa pun yang datang ke gue buat minta bantuan, sudah pasti gue bantu sebisanya!"
*
*
*
__ADS_1
Sambil menunggu KyRen up mampir dong ke karya recehku yang baru, masih anyep 🤧