
Sejak kejadian itu, Ricky menjadi lebih banyak diam. Dia merasa sangat kecewa karena keluarga istrinya sendiri menyimpan rahasia besar itu. Padahal jika diberitahu lebih awal, dia tahu bagaimana akan bersikap nanti.
Ricky memang tidak marah yang meledak-ledak pada Rena. Dia berubah menjadi dingin. Makan malam romantis yang direncanakan urung dilakukan. Bahkan rencana honeymoon pun gagal total.
Usai acara work shop dan bertemu dengan Faro untuk membahas pekerjaan, Ricky mengajak Renata pulang. Mood Ricky benar-benar hancur, dia menahan kekecewaan itu seorang diri. Suatu saat nanti dia ingin bertanya langsung pada kedua orang tuanya.
Ricky mencoba mengingat-ingat kejadian delapan tahun lalu. Dimana sang papa tiba-tiba membawa mamanya menetap di Singapura. Ricky yang saat itu sudah terbiasa ditinggal kedua orang tuanya, memilih tetap tinggal.
Sebelum kepergian kedua orang tuanya ke Singapura, mereka sering terlibat pertengkaran dan berujung sang papa pergi dari rumah. Pagi hari sang papa sudah berada di rumah. Setiap hari seperti itu, tetapi Ricky tidak tahu alasan kenapa mereka bertengkar hebat.
"Apa karena papa menikah lagi, makanya mama sering marah? Ahh ... kenapa bisa aku tidak tahu apa yang terjadi dengan kedua orang tuaku? Bodohnya aku!" gumam Ricky dengan kedua tangan mencengkeram rambut.
Rena yang tidak sengaja melihat itu hanya diam. Ricky seolah menutup diri sejak tahu sang ayah menduakan mamanya. Bahkan, Ricky lebih sering bungkam ketika di apartemen.
Renata merasa kehilangan Ricky yang dulu, tetapi Rena juga tidak berani menegur. Pernah sekali Rena menegur Ricky yang seolah menjauh darinya. Ricky marah dan meninggalkan apartemen hingga berhari-hari.
Sejak saat itulah, Rena lebih memilih tinggal di kediaman orang tuanya dari pada di apartemen Ricky. Sudah dua minggu berlalu, hubungan Ricky dan Rena semakin renggang. Tak ada komunikasi walau hanya sebatas menyapa.
Kedua insan pasangan muda itu lebih memilih menghindar dari pada bertengkar. Keadaan itu terendus oleh adik mama Ricky, om Bimo. Dia merasa curiga dengan sikap Ricky akhir-akhir ini.
Bermula dari Ricky mengamuk di kantor Pak Kurniawan dan berlanjut di kediamannya. Sampai akhirnya, dua laki-laki kembar beda generasi itu terlibat adu mulut. Tidak berhenti di situ saja, Kurniawan bahkan mengancam akan mencoret nama Ricky sebagai salah satu ahli waris.
Takut menyakiti sang istri yang mulai dicintai, Ricky memilih menjauh. Bukan karena marah pada Renata, Ricky bersikap demikian. Melainkan takut tidak bisa mengontrol emosi dan berakhir saling menyakiti.
"Kamu kenapa Rick? Kalau masalah itu cerita, jangan dipendam sendiri! Ya, walaupun nantinya Om tidak bisa memberi solusi, setidaknya beban kamu sedikit berkurang." Om Bimo mulai mengorek informasi penyebab Ricky lepas kendali.
"Om Bimo tidak usah pura-pura tidak tahu!" dengkus Ricky membuang mukanya karena sangat kesal.
__ADS_1
"Pura-pura bagaimana? Mama kamu saja malah nyuruh Om buat tanya ke kamu!" sanggah om Bimo.
"Kalian pantas mendapatkan piala award. Akting kalian sungguh bagus sampai-sampai aku tidak bisa membedakan mana sandiwara dan mana yang nyata!" cibir Ricky merasa dipermainkan oleh keluarganya sendiri.
Sampai saat ini, tidak ada klarifikasi dari kedua orang tuanya, terutama sang ayah. Hal inilah yang membuat Ricky semakin murka. Hanya cerita singkat dari Renata dia tahu.
"Soal papa kamu yang menikah lagi?" tanya Bimo akhirnya menyerah dan menjelaskan menurut versi dia.
"Kedua orang tuamu dulu menikah karena perjodohan, nikah karena dipaksa lebih tepatnya. Kamu hadir juga karena campur tangan dari orang tua kami, yang menjebak mereka hingga hadirlah kamu," cerita Bimo dengan sangat terpaksa, terlihat dari raut wajah dan sorot matanya.
"Awal mula papa kamu menikah lagi, aku tidak tahu. Yang aku tahu hanya saat papamu diminta orang tuanya untuk meninggalkan istri keduanya. Papamu pun benar-benar pergi meninggalkan anak dan istrinya demi keselamatan mereka."
"Kakek Suryadi tidak pernah main-main dengan ancamannya. Oleh karena itu dengan berat hati bang Kurniawan meninggalkan wanita itu dan anaknya. Papamu memutuskan mempertahankan mama kamu di sisinya," ucap Bimo menutup cerita sesuai dengan yang diketahuinya.
Ricky pun mulai berpikir jika papanya dengan tante Soraya sudah bercerai. Mungkin apa yang dikatakan istrinya benar, mereka kebetulan bertemu. Akan tetapi dia ingin mendengar cerita itu keluar dari orang tuanya sendiri.
"Jika kamu masih belum yakin, pancing kedua orang tuamu agar mau bercerita. Hanya itu jalan satu-satunya," saran Bimo, dia tidak mengetahui cerita yang sebenarnya.
"Papa dan mama tidak mau cerita apa pun mengenai masa lalunya. Bagaimana aku bisa tahu?"
"Besok aku temani kamu bertanya pada Soraya. Siapa tahu dia mau bercerita tentang kejadian lima belas tahun lalu," ujar Bimo mengakhiri pertemuan mereka siang itu. Ricky mengangguk saja tanpa bersuara.
Sementara itu, Renata yang tadi pagi merasa kurang enak badan, bergegas mendatangi kediaman orang tuanya. Setelah Ricky berubah menjadi pribadi yang tidak dikenali lagi, setiap hari dia akan berada di rumah itu sampai sore atau kadang malam hari.
Masa liburan usai menerima hasil ujian, hanya diisi dengan tidur di kamar semasa kecilnya. Apalagi hari ini dia merasa pusing dan sedikit mual, dia memilih meringkuk di dalam selimut tebal. Tidak peduli teriakan sang tante yang mengajaknya jalan.
"Kamu kenapa sih, Ren? Tante perhatikan akhir-akhir ini kok kamu murung terus," tanya tante Soraya, duduk di bibir ranjang Renata.
__ADS_1
"Kepala Rena pening, Tan. Nggak selera makan juga. Rena mau tidur aja," sahut Renata lemah.
"Kamu sudah makan dan minum obat?" Tante Soraya panik melihat keadaan keponakannya yang lemas.
"Nanti aja, Tan! Rena mau tidur aja sebentar," jawab Rena kembali mencari posisi nyaman.
"Ingat jangan lupa makan dan minum obat! Tante mau keluar dulu, kamu tidur aja," pamit tante Soraya pada Rena.
"Iya, iyaa! Nanti bangun tidur langsung makan dan minum obat," janji Rena sebelum akhirnya kembali memejamkan matanya.
Tante Soraya pergi ke pengajian rutin yang biasa dia ikuti selama ini. Dia selalu mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat, jika tidak ke pengajian Soraya akan pergi ke jalanan membagikan nasi kotak untuk para pengamen atau pengemis. Tidak jarang juga dia pergi ke panti asuhan atau menyantuni anak yatim atau masyarakat kurang mampu.
Sepeninggal Soraya di pengajian, Renata hanya tidur saja. Renata tidak makan atau pun minum obat. Badannya benar-benar lemas.
Terlalu memikirkan sikap Ricky yang tiba-tiba berubah, membuat selera makan Renata menguap begitu saja. Dia tidak merasakan lapar sama sekali sehingga sering melewatkan makannya.
Bukan hanya makan yang dia lewatkan, tidurnya pun tidak nyenyak. Mata terpejam tapi pikiran menerawang jauh entah kemana. Pura-pura tidur agar terlihat baik-baik saja oleh keluarganya dan orang lain.
*
*
*
Mampir yuk ke karya temenku, dijamin seru lho!
__ADS_1