
"Masalah Pratama Corp, Om yang membuat perusahaan besar itu gulung tikar?"
"Om tidak pernah membujuk investor untuk mencabut investasinya di Pratama Corp. Om hanya menunjukkan kecurangan yang dilakukan oleh Sandy terhadap beberapa perusahaan. Mereka langsung menarik modal mereka dari Pratama. Sebulan kemudian, mereka menginvestasikan semua dana mereka ke perusahaan Om. Apa itu salah?"
"Om tidak pernah mempengaruhi para investor. Mereka dengan sukarela meninggalkan Pratama, kemudian pindah berinvestasi ke 'Be Sure'. Yaa, walaupun usaha konveksi ini baru berjalan satu tahun, tetapi pertumbuhannya cukup bagus. Wajar jika mereka tertarik untuk mencoba bisnis baru," jelas Bimo panjang dan lebar.
Ricky mendengarkan penjelasan sang paman dengan seksama. Dalam hati membenarkan apa yang dilakukan oleh adik mamanya itu. Tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan. Setiap perbuatan baik pasti akan kembali pada diri kita.
Langit tidak perlu mengatakan dia tinggi. Begitu juga dengan manusia, cukup berbuat kebaikan tanpa perlu mengumumkan pada semua orang. Orang lain akan melihat dengan sendirinya. Setiap apa yang kita lakukan pasti akan kembali pada diri kita suatu saat nanti.
"Sayang ...." Ricky terkesiap, tersadar dari lamunannya kala mendengar suara yang selama ini menemani hari-harinya.
"Ehh, kamu sama siapa, Sayang?" tanya Ricky sembari berdiri dari kursi kebesarannya.
"Diantar sopir. Mana mungkin aku bawa mobil sendiri? Yang ada sangkut di perut stirnya," seloroh Rena menampakkan deretan gigi putihnya.
"Kamu ini ada-ada saja, Yang," ujar Ricky mencubit kecil hidung sang istri karena gemas.
"Mau peluk, kangen!"
Ricky pun memeluk sang istri dari samping, dia tidak bisa lagi memeluk dari depan. Perut Rena sangat besar sekali menurutnya. Kadang Ricky ngilu sendiri melihat sang istri yang masih gesit dengan kondisi perut yang membulat sempurna.
"Mas juga kangen, Sayang. Tumben siang-siang ke sini, ada apa, hmm?" ujar Ricky sembari mengusap lembut lengan wanita yang sangat dicintainya itu.
"Mas, jalan yuk. Kemana gitu, makan siang di mall sekalian cuci mata atau nonton," ajak Rena.
"Boleh, kebetulan Mas juga nggak banyak kerjaan. Yuk!"
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya meninggalkan kantor pusat Kurnia Group. Betapa senangnya Ricky bisa menemani kekasih halalnya jalan-jalan. Selama ini dia terlalu sibuk mengurus usaha, sampai-sampai tidak sempat membawa istrinya kencan.
"Habis ini, kita nonton yuk, Mas. Anggap saja kencan pertama kita," rengek Renata manja usai menghabiskan makan siangnya.
"Baiklah, kamu mau nonton apa, hmm?" tanya Ricky sambil mengusap mulutnya tanda menyudahi makannya.
"Apa saja, yang penting ceritanya bagus. Mm, kalau film terbaru bagaimana?"
"Apapun untuk kamu, Sayang."
Ricky dan Rena berjalan berdampingan menuju bioskop yang ada di mall itu. Begitu sampai, Ricky meminta Rena untuk menunggu di bangku yang tak jauh dari loket.
"Kamu duduk di sini saja, biar Mas yang antri beli tiket. Kalau ikut mengantri nanti kamu dan debay kecapekan," pinta Ricky seraya membimbing Renata duduk di bangku besi.
"Iya, jangan lama-lama ya! Aku nggak mau ditinggal lama," sahut Rena manja.
Ricky mengangguk mendengar permintaan sang istri, dia mengusak rambut kekasih halalnya lalu mencium puncak kepala itu sebelum pergi mengantri tiket.
Usai antri, Ricky membeli minuman dan cemilan. Dia sengaja membeli air mineral kemasan botol 600 ml demi kebaikan istri dan anaknya. Ricky membeli popcorn kemasan jumbo serta kentang goreng kemasan sedang.
"Sudah?" tanya Rena begitu melihat sang suami berdiri di depannya dengan tangan penuh minuman dan cemilan.
"Sudah, yuk masuk," jawab Ricky dengan senyum seribu wattnya.
Rena berdiri lalu mengamit lengan Ricky. Mereka masuk, mencari nomor tempat duduk sesuai tiket. Ternyata mereka dapat tempat duduk di pinggir.
Sepanjang acara film diputar keduanya sama-sama tidak melihat ke layar. Kedua insan itu malah membuat adegan sendiri, bahkan kini tempat duduk Renata telah pindah.
__ADS_1
Ya, mereka saling bertukar saliva dan tanpa sadar Ricky sudah menarik sang kekasih ke atas pangkuan. Mereka terus saling mencecap indahnya cinta tanpa peduli dengan orang di sekitar mereka. Tidak hanya bibir yang menjadi sasaran Ricky, leher serta da da sang kekasih tak luput dari jamahannya.
"Engnghhh ...." lenguhan keluar dari bibir Rena. Mendengar suara itu, akhirnya Ricky dan Rena tersadar akan tindakan mereka yang salah.
Ricky langsung melepaskan Rena dan kembali mendudukkan sang istri di kursi sebelahnya.
"Aku malu," ucap Rena sambil menutup wajahnya dengan dua tangan.
"Hei, tidak apa-apa. Lagian gelap, selain itu mereka pasti sama film yang diputar," ujar Ricky sembari menarik tangan Rena yang menutupi wajahnya.
"Lihat mereka masih fokus menonton film! Jadi, tidak perlu malu," lanjut Ricky seraya memberikan botol air mineral yang sudah dia buka tutupnya pada sang istri.
Rena pun mengambil botol itu lalu, menenggaknya sampai tersisa separuh botol. Tak lama kemudian film yang diputar telah habis, lampu ruangan kembali dinyalakan.
"Kita mau pulang atau lanjut jalan, hmm?" tanya Ricky begitu keduanya sudah keluar dari ruangan itu.
"Pulang," jawab Rena lirih dengan kepala tertunduk.
"Kenapa menunduk? Di bawah ada apa? Sampai suami di sampingnya tidak dilihat," protes Ricky karena Rena terus menunduk.
"Aku malu, Mas," cicit Renata masih menunduk.
*
*
*
__ADS_1
Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temenku. Nggak kalah seru lho!