Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 61


__ADS_3

Bimo bergerak tanpa sepengetahuan Ricky, hal ini dikarenakan dia sudah curiga sejak awal penawaran kerjasama. Banyak keganjilan dia temukan dalam penawaran kontrak itu. Bimo dengan mudahnya membalik semua serangan yang diberikan lawan.


Jika Bimo sibuk menyelamatkan perusahaan, Ricky sedang berusaha menyelamatkan pernikahannya. Berusaha meraih kembali hati sang istri yang tengah merajuk.


"Sayang, aku beneran minta maaf. Tidak ada maksud ingin marah sama kamu. Tadi itu aku masih ngantuk jadi refleks teriak," bujuk Ricky.


Tadi saat Rena meminta pempek, Ricky sempat teriak karena terkejut. Namun disalah artikan oleh Rena. Akhirnya, Rena kembali ngambek walaupun sudah dibelikan pempek sesuai permintaan.


"Ini pempeknya bagaimana? Kenapa tidak dimakan?"


"Makan aja sendiri! Sudah nggak pengen lagi," sahut Rena ketus.


"Hah? Serius, Yang." Mata Ricky membola mendengar jawaban dari sang istri.


"Mas makan itu semua! Rena sudah tidak selera lagi."


"Kamu cicip dulu sedikit, biar anak kita nggak ileran nanti," bujuk Ricky tanpa lelah.


Akhirnya, Rena betul-betul memakan satu sendok saja. Sisanya, Rena meminta Ricky menghabiskan semua. Rena menunggui Ricky menghabiskan pempek itu.


Demi mendapatkan maaf dari sang istri, seharian ini Ricky rela melakukan apapun permintaan Rena.


"Udah, Yang. Aku sudah nggak sanggup lagi memakannya. Perutku rasanya mau meledak," pinta Ricky dengan wajah memelas, wajahnya sudah dipenuhi keringat.


Ini adalah hasil masakan Ricky yang kelima. Ya, setelah menghabiskan pempek tadi, Rena minta dibuatkan nasi goreng. Setelah itu, mie tieaw goreng, lanjut cap cay, omelet, dan yang terakhir adalah rujak buah ekstra pedas.


Masak sendiri dimakan sendiri, itulah yang dialami Ricky seharian ini. Masalah di perusahaan sudah selesai, tetapi masalah dengan Rena sepertinya tidak ada habisnya. Mulai dari pertama kenal, lalu menikah dan kini akan memiliki anak.


Rena yang melihat penampilan sang suami yang memelas, akhirnya mengiyakan saja ketika Ricky minta berhenti makan.


"Mas, Rena ngantuk. Pengen tidur dipeluk sama Mas," ucap Rena tiba-tiba.


Ricky melongo mendengar permintaan sang istri kali ini, mana mungkin dia tidur setelah mengisi penuh perutnya? Jika tidak dituruti permintaannya, yang ada akan tercipta drama baru lagi dalam rumah itu.


"Boleh, tapi peluknya sambil duduk ya? Perut Mas penuh banget, Sayang," jawab Ricky dengan senyum dipaksakan.


Raut wajah Rena terlihat kecewa mendengar jawaban dari Ricky. Akan tetapi, itu hanya sebentar saja karena setelah itu Rena mengangguk setuju. Ricky pun bernapas lega melihat anggukan kepala sang istri.

__ADS_1


"Tunggu sebentar ya, Mas angkat piring ini ke belakang!"


"Biarin aja! Nanti diangkat juga sama bibi. Sekarang kita masuk kamar aja, aku sudah ngantuk banget."


Mau tidak mau, Ricky mengekor istrinya dari belakang. Ricky merasa aneh, di usia kehamilan istrinya yang ke delapan kenapa masih saja ngidam.


"Sebenarnya dia ngerjain aku apa beneran ngidam sih?" batin Ricky sembari berjalan.


Mereka berdua akhirnya naik ke ranjang, Ricky duduk bersandar pada headboard, dengan salah satu tangannya mengusap lembut kepala Rena. Sedangkan Rena tidur memeluk pinggang sang suami. Tak menunggu lama, Rena pun terlelap dalam buaian mimpi.


Tak lama setelah Rena tertidur, Ricky merasakan perutnya mules. Dengan perlahan, dia melepaskan belitan tangan sang istri. Setelah terlepas, Ricky langsung berlari menuju kamar mandi.


Satu jam kemudian....


Ricky keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat serta berkeringat. Ini sudah ketiga kalinya dia buang air besar. Perut Ricky benar-benar melilit sakit.


Ricky duduk bersandar di sofa, badannya terasa lemas karena bolak-balik ke kamar mandi.


"Nak, kamu tega sama Papa! Ini benar keinginan kamu atau keinginan mama kamu sih?" gumam Ricky sambil memegangi perutnya. "Jika dengan tersiksanya aku, kalian bisa bahagia aku rela. Semua demi kebahagiaan kalian berdua."


Rena yang mendengar gumaman itu mengernyitkan dahinya heran. Penasaran dengan maksud ucapan sang suami. Dia pun beranjak bangun dan mendatangi suaminya di sofa.


"Mas, kamu kenapa? Kenapa bisa seperti ini?" desak Rena penuh kekhawatiran.


"Sakit perut, Yang. Aku sudah tiga kali buang air besar dalam satu jam ini. Kamu kenapa bangun, hmm?"


"Aku nyariin Mas."


"Maaf ya, Mas sakit perut. Kalau Mas balik ke ranjang, takutnya malah keluar di atas kasur. Kalau di sini 'kan lebih dekat ke kamar mandi," ucap Ricky sambil meringis menahan sakit, tiba-tiba perutnya kembali mulas. Dia langsung berdiri dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Rena pun berinisiatif membuatkan minum untuk Ricky. Tidak tega rasanya melihat sang suami tersiksa seperti ini. Semua juga karena salahnya. Rena sengaja membuatkan teh tanpa gula dan air putih yang dicampur dengan sedikit garam dan gula (oralit).


Teh tanpa gula untuk mengurangi rasa mulas dan menghentikan buang air besar. Sedangkan air putih oralit untuk menggantikan cairan tubuh, agar tidak terjadi dehidrasi.


"Minum dulu, Mas! Biar nggak lemes banget," pinta Rena sambil menyerahkan dua gelas air minum yang dibawanya.


"Kok dua?" Ricky heran kenapa dia diberi dua gelas air minum dengan dua warna berbeda.

__ADS_1


"Tehnya buat mampetin BAB kamu, terus biar perutnya hangat juga. Kalau yang ini air oralit biar gak dehidrasi," jelas Rena dengan sabar.


Ricky langsung meminum teh tanpa gula itu setelah duduk di sofa.


"Bwehhh! Kok pahit, Yang?" tanya Ricky dengan mimik wajah kepahitan lalu dia gantian meminum oralit.


"Hwekk! Ini apaan, Yang? Kenapa rasanya aneh begini? Kamu sengaja ya, mau kerjain aku lagi?" cecar Ricky kesal.


"Bukan mau ngerjain. Memang itulah obatnya orang sakit perut. Apa Rena panggilin dokter aja?"


"Nggak! Enggak! Lebih baik aku minum ini dari pada minum obat dari dokter," sahut Ricky cepat.


Terdorong keinginan untuk segera sembuh, Ricky meminum teh dan air oralit itu secara bergantian sampai habis. Usai minum, Ricky tertidur di atas sofa. Sedangkan Rena keluar dari kamar, membiarkan sang suami istirahat.


Sementara itu, Stella sudah dipecat oleh Robert. Dia bergegas menemui Sandy perihal pemecatan dirinya dari Kurnia Group.


"Gue tidak mau tahu! Pokoknya sebelum lo berhasil, lo mesti kerja keras pisahkan mereka!"


"Sand, kenapa kamu nggak mau nolongin aku sih? Mana janji kamu buat bantu aku jika terkena masalah. Sekarang saat aku terkena masalah, kamu tidak mau bantu. Padahal aku kena masalah juga karena kamu," sungut Stella kesal.


''Apa yang harus dibantu? Pratama Corp saja sekarang di ujung tanduk. Masalah gue lagi banyak banget," jawab Sandy dengan entengnya. Tidak terlihat penyesalan di wajah Sandy, yang ada hanya seringai licik dari bibirnya.


*


*


*


BTW aku ada permintaan nih buat readers, minta rate bintang 5 dong. Kalau memang tidak suka dengan karya recehku, tidak usah baca apalagi sampai kasih rate di bawah 5. Tahukah anda, membuat cerita itu tidaklah mudah. Apalagi diriku yang harus mengulang mata kuliah bahasa Indonesia sampai 3x.


Buat reader yang berkenan membantu saya dengan memberi rate bintang lima, saya ucapkan terima kasih. Semoga kebaikan yang kalian berikan akan kembali pada kalian🤲


*


*


Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temenkušŸ¤—

__ADS_1



__ADS_2