Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 29


__ADS_3

"Kamu sengaja menguji kesabaranku ya, Ren?" ucap Ricky begitu mereka masuk ke apartemen. Tampak gurat lelah dan kecewa dia matanya.


"Maksudnya?" tanya Renata bingung. "Aku nggak ngerti kamu ngomong apa."


"Tak usah pura-pura, Rena! Apa maksud kamu kasih kopi pahit padaku" cerca Ricky penuh kekesalan. "Atau kamu memang sengaja ingin dihukum?"


"A-aku tidak tahu kalau kopi yang dikasih Susan rasanya pahit. Emang sih kopinya lain dari biasanya. Kalau tahu pahit, pasti aku tambahin gula."


"Kopi dikasih Susan?" tanya Ricky memicingkan sebelah matanya.


"Iya, Susan anak kos. Tadi tuh kopi yang aku seduh kurang satu. Terus kebetulan Susan lewat, aku minta aja ke dia. Dikasih satu, terus katanya kopi dari dia buat kamu aja."


"Kamu tahu tidak kopi apa yang dikasih dia?" tanya Ricky penuh selidik dan dijawab dengan gelengan kepala oleh Renata.


"Kalau misalnya itu racun, bagaimana? Kamu mau aku cepat mati, hmm?" Ricky menggelengkan kepalanya, serasa tidak percaya dengan tingkah Renata.


Ternyata usia dewasa tidak menjamin sifatnya. Raga Renata memang besar dan berusia dewasa, tetapi dalam raga itu berisi jiwa anak-anak. Sifat kekanakan dan kepolosan Renata lebih mendominasi di saat usianya menuntut dewasa.


Renata hanya diam saja dicerca berbagai pertanyaan oleh Ricky. Dia pasrah dimarahi oleh Ricky karena memang dia salah.


"Kamu memang ingin aku hukum sepertinya, hmm? Sudah siap menerima hukumanmu?"


Renata terkesiap mendengar kata hukuman dari sang suami. Dia tidak menyangka jika malam ini harus diakhiri dengan menjalani hukuman dari suaminya.


"B-besok saja hukumannya. Sekarang sudah malam, lagian kamu pasti lelah. Jadi, sebaiknya kita tidur saja, ya?" rayu Rena dengan kaku.


"Karena lelah makanya menghukummu! Hukuman ini siapa tahu bisa mengobati lelahku. Orang bilang, suami lelah itu obatnya hanya istrinya," sahut Ricky seraya berjalan mendekati Rena, mengikis jarak di antara keduanya.


"K-kamu mau aku pijitin?" tanya Rena takut-takut.


"Dengan senang hati! Apalagi pijit plus," jawab Ricky dengan entengnya. Dalam hati Ricky bersorak karena kepolosan Rena.


"Ada untungnya juga punya istri polos. Walau kadang menjengkelkan, tetapi bisa dikerjai."

__ADS_1


Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Reni meminta memijit Ricky di kamar saja. Bahkan dia juga meminta Ricky untuk melepas baju.


Rena meminta Ricky untuk tengkurap sebelum memulai pijatannya. Rena sudah memegang minyak gosok siap untuk memijat sang suami.


"Ternyata pintar juga kamu memijat ya? Kalau tahu seperti ini, aku akan sering meminta kamu pijat," ucap Ricky setelah lima menit dipijat Rena.


"Itu maunya kamu!" cibir Rena sembari mengusap keringat di dahinya dengan lengannya.


Ricky sengaja mematikan AC dalam kamar dengan alasan takut masuk angin. Hanya beberapa menit memijat punggung Ricky, badan Rena sudah basah karena keringat.


"Buka saja bajunya kalau gerah!" ucap Ricky dengan mata terpejam menikmati pijitan yang terasa enak.


Rena mengintip ke arah wajah Ricky. Melihat mata sang suami yang terpejam, Rena pun membuka kaosnya. Kini menyisakan kaca mata pelindung si kembar celana baby dol lengkap.


Tanpa Rena tahu, jika Ricky membuka matanya sebentar untuk memastikan istrinya sudah membuka bajunya. Ricky tersenyum smirk, melihat kepolosan sang istri.


"Kena kau!"


"Aaaa .... " jerit Rena sembari menutup matanya.


Mendengar Rena menjerit, Ricky membuka matanya dan berganti posisi menjadi duduk. Kini keduanya duduk berhadapan di atas ranjang. Ricky menarik tangan Rena agar wajah Rena bisa dia lihat dengan jelas.


Kedua insan pasangan halal itu saling menatap. Entah siapa yang memulai, wajah mereka sudah dekat. Sekarang bibir keduanya sudah saling bertaut, bertukar saliva.


Berawal dari bibir yang saling bertaut, kini tubuh keduanya sudah tanpa sehelai benang pun. Saling menyentuh dan mencecap nikmatnya tubuh pasangan. Berakhir dengan tubuh yang menyatu dan mengejar kenikmatan.


Malam itu pun menjadi malam yang panas untuk pasangan halal itu. Hilang sudah segala rasa kekesalan dan cemburu yang seharian tadi mereka rasakan. Tidak ada lagi prasangka yang menyesakkan dada.


Hanya ada rasa cinta yang tulus di antara mereka. Namun, tingginya ego mereka membuat keduanya sama-sama tidak mau mengakui rasa itu. Tanpa sebuah kata, sentuhan itu mewakili semua rasa yang tengah melanda.


Renata terbangun saat sinar mentari mengintip melalui celah gorden. Badannya terasa remuk redam, pegal dan ngilu. Bahkan intinya pun terasa pedih dan panas, seperti kulit yang tersayat.


Rena melebarkan netranya, kala mendapati dirinya dan sang suami dalam keadaan sama-sama full naked. Selimut yang membungkus mereka pun sudah teronggok di lantai. AC yang sengaja dimatikan membuat keduanya kegerahan dan membuang selimut tanpa sengaja.

__ADS_1


Perempuan usia 20 tahun itu bangun dan turun dari ranjang dengan perlahan. Tertatih berjalan menuju ke kamar mandi tanpa memakai sehelai benang pun untuk menutupi tubuh mulusnya.


Ricky terbangun karena merasakan adanya pergerakan di kasur. Dia memandang tubuh mulus istrinya, sembari tersenyum penuh kebanggaan karena sudah memenuhi tubuh sang istri, dengan maha karyanya.


Apa yang Ricky kerjakan ternyata tidak disadari oleh Rena. Perempuan sedang berendam dengan santainya di bath up memakai sabun aroma terapi.


Setelah puas berendam, Rena pun berdiri dan berjalan ke arah shower. Dia hendak membilas tubuhnya di bawah guyuran air. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sang suami berada di bawah guyuran air shower dengan senjata yang tegak siap bertempur.


Rena pun membalikkan tubuhnya ingin berlari menghindar. Namun, langkahnya kalah cepat dengan sang suami. Akhirnya pertempuran panas di kamar mandi pun tak terelakkan lagi.


Wajah Rena tampak bak baju kusut yang lama teronggok dalam mesin pengering. Bibirnya tampak pucat karena kedinginan, terlalu lama di air. Intinya masih perih tetapi sudah digagahi lagi oleh sang suami di kamar mandi.


Ternyata tenaga suaminya itu bak Gatotkaca yang memiliki kekuatan super. Tidak memiliki rasa lelah sedikit pun. Bahkan wajah laki-laki yang berselisih dua tahun dengannya itu tampak segar.


"Awas, minggir! Aku mau tidur," usir Rena pada laki-laki yang mendekapnya posesif di atas ranjang, setelah sesi pertempuran yang ke sekian.


"Jangan tidur dulu! Kita makan dulu, kasihan lambung kita kalau terlalu lama dibiarkan kosong."


"Yang bikin terlalu lama kosong siapa? Perlu aku ingatkan lagi?" cibir Renata dengan bibir mengerucut, hal itu malah semakin membuat Ricky gemas dan langsung mengecup bibir sang istri.


"Kenapa sih kamu gemesin banget? Jadi, pengen makan kamu lagi," ucap Ricky tersenyum setelahnya.


"Awas saja kalau berani! Aku cincang milikmu sampai halus lalu aku masak," ancam Renata.


*


*


*


Mampir juga ke karya temenku, dijamin seru!


__ADS_1


__ADS_2