Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 64


__ADS_3

Ricky menemani sang istri memilih perabot untuk kamar debay. Ricky hanya bertugas mengikuti sang istri dan membayar tagihan. Sedangkan Rena yang memilih segala pernak-perniknya.


"Cari warna netral saja, Yang. Biar bisa dipakai," ucap Ricky ketika Rena memilih yang feminim.


"Tapi ini lucu, aku suka,"sahut Rena manja.


"Ada pilihan warna lain kok dengan model yang sama. Warna biru aja, jangan pink," saran Ricky.


"Yahh, padahal suka yang ini," rajuk Rena dengan mata yang berembun, siap menumpahkan mutiara.


"Apa mungkin anak kami cewek? Melihat emaknya yang cengeng banget, terus suka banget sama pernak pernik cewek. Aku turuti saja, dari pada nangis di tempat ramai kek gini."


"Ya udah, ambil aja yang kamu suka. Nanti tinggal bayar tagihannya," ucap Ricky akhirnya mengalah.


Rena mengambil semua barang yang dibutuhkan dengan corak yang disukainya. Setelah puas berbelanja, Rena merengek minta pulang. Ricky dengan sabar mengikuti semua kemauan sang istri.


Ternyata nggak sia-sia menuruti kemauan sang istri yang menguras tenaga dan pikiran. Sesampainya di rumah dan masuk ke kamar, Rena minta mandi bersama dan berakhir dengan nana ninu. Kegiatan itu tidak hanya di kamar mandi saja, masih berlanjut di atas ranjang.


Rasa lelahnya menuruti kemauan sang istri hilang seketika, begitu mendapat servis spektakuler dari kekasih halal. Apalagi servisnya dengan durasi lama dan dijamin kepuasannya.


"Mas, capek!" rengek Rena dengan napas memburu sehabis dua ronde bekerja keras untuk sang suami.


"Ya udah sini peluk, kalau capek. Atau pengen dipijit?" sahut Ricky memainkan matanya.


"Diihh, ogah.Yang ada nanti makin lemes dan kehabisan tenaga," tolak Rena sambil menarik selimut dan memejamkan mata.


Hari-hari berikutnya, Rena tidak mau ditinggal di rumah sendiri. Wanita yang sebentar lagi menyandang ibu tidak mau jauh dari sang suami. Ada rasa takut karena belum berpengalaman tentang mengurus bayi


Tidak jauh berbeda dengan sang istri, Ricky merasa tidak tenang. Padahal persiapan lahiran semua sudah dilakukan, kecuali mental mereka.


Di saat yang seperti ini, dukungan dan bimbingan dari orang tua serta orang yang berpengalaman sangat dibutuhkan. Namun, Mama Miranti harus ke Jogja karena Pak Kurniawan tiba-tiba sakit keras.


Soraya menepikan mobilnya saat dirasa jalan mobil seperti tersendat. Belum juga sampai di pinggir, mesin mobil tiba-tiba mati dan tidak bisa distarter lagi. Di belakang mobil Soraya, ada mobil SUV Bentley Bentayga keluaran 2018 ikut menepikan mobilnya.


"Mm, Soraya?" sapa seseorang dari dalam mobil SUV dengan kaca diturunkan sedikit. Orang tampak ganteng dan maskulin dengan kaca mata hitam bertengger di atas hidungnya.


Soraya mengangkat kepalanya saat mendengar ada suara memanggil namanya.


"Pak Bimo Baskoro?" pekik Soraya bahagia, akhirnya bertemu orang yang dikenal di jalan tol ini.

__ADS_1


Bimo mencari tempat parkir yang aman sebelum turun dari mobil, untuk menemui Soraya. Sebelumnya, dia melepas kaca mata mahalnya untuk disimpan. Tak lupa menggulung lengan bajunya hingga siku.


"Kenapa berhenti dengan posisi seperti ini? Ini sangat bahaya, lho," tanya Bimo begitu sudah berada di depan janda beranak satu itu.


"Mobilku tiba-tiba mogok, nggak tahu apanya yang ngulah. Padahal kemarin barusan keluar bengkel, katanya kondisi mesin bagus. Tiba-tiba mogok begitu saja," jelas Soraya.


"Coba buka dulu kapnya, biar aku bantu cek!" perintah Bimo sambil berjalan ke arah kap mobil.


Bimo segera mengecek keadaan mesin mobil, tak lama kemudian dia berteriak.


"Coba hidupkan mesinnya!"


Beberapa menit kemudian terdengar suara mesin mobil menderu tanda sudah bisa melanjutkan perjalanan.


"Terima kasih, Pak," ucap Soraya.


Bimo mengacungkan jempolnya menjawab ucapan terima kasih dari Soraya.


"Mau kemana?" tanya Bimo kaku.


"Mau jenguk Ricky sama Rena, seminggu ini sudah memasuki HPL-nya. Mbak Miranti sedang di luar kota. Jadi, ya menemani Rena biar nggak kesepian di sana," ujar Soraya mengulas senyum.


Keduanya mendatangi kediaman Kurniawan dengan mobil beriringan. Mereka sama-sama memarkirkan mobil di carport samping rumah.


Ternyata kedatangan keduanya tidak diketahui oleh tuan rumah. Mereka langsung masuk begitu saja, setelah art membukakan pintu.


"Siang, Den," sapa art yang sudah mengabdi selama dua puluh lima tahun di kediaman Kurnia.


"Siang, Bik. Dimana mereka kenapa tidak ada suaranya?"


"Ada, Den. Di kolam, Nona tadi merengek minta ditemani renang oleh Tuan Muda," jawab si bibi.


"Kami langsung ke sana saja. Tolong Bibi buatin minuman buat kami!"


"Nona ini?" tanya si bibi ragu.


Bimo terkekeh melihat raut wajah bingung sang art.


"Oh, iya. Saya lupa memperkenalkannya ke Bibi. Ini namanya Soraya. Nama yang cantik secantik orangnya 'kan, Bi?" ucap Bimo mengulum senyum dan mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Betul banget, Den. Dia cocok banget buat masa depan Aden." Si bibi ikut menimpali.


Soraya menggelengkan kepala dan tersenyum, mendengar gurauan antara majikan dan pembantu itu. Perempuan cantik dan bergamis lebar itu berjalan mengikuti langkah Bimo menuju kolam renang.


Tampak Ricky berenang bersama sang istri. Mereka seperti sedang berlomba mencapai ujung kolam. Tak lama kemudian keduanya sudah mencapai ujung dan berpelukan, lalu saling bertukar saliva tanpa menyadari ada dua orang jomblo menatap pasangan muda itu.


"Enak ya? Dunia serasa milik berdua yang lain numpang," sindir Bimo sambil berjalan mendekati keponakannya.


Ricky langsung mendekap Rena, lalu mengajak duduk di dalam kolam agar tubuh telanjang Rena tidak kelihatan. Ricky langsung keluar dari kolam setelah memberi isyarat agar sang istri tetap pada posisi semula sampai dia datang lagi.


Ricky bergegas mengambil daster yang tadi dipakai Rena dan dibiarkan teronggok di lantai begitu saja.


"Sayang," panggil Ricky, sambil mendekati sang istri.


Rena menyembulkan kepalanya, langsung disambut dengan Ricky yang memakaikan dasternya tadi. Setelah itu, Ricky membawa Rena ke kamar mandi untuk bilas dengan air bersih.


"Enaknya mereka berdua! Tidak memikirkan masalah yang menghadang. Huffftt!" ujar Bimo ada nada iri dalam ucapannya.


"Tidak boleh iri karena semua itu sudah sesuai dengan ketentuan Yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa menjalankan saja, tanpa ada hak untuk menolak," celetuk Soraya ketika mendengar keluh kesah lelaki di depannya itu.


"Aku tidak iri, hanya saja ingin seperti mereka yang tidak mengenal tempat kalau pas sayang-sayangan. Jiwa jombloku meronta, melihat keuwuan mereka," sahut Bimo.


"Kalau begitu tidak usah dilihat!" Solusi tepat yang berat untuk dilakukan.


"Gimana nggak lihat, orang mereka sayang-sayangan di tempat terbuka kek gini."


*


*


*


Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temenku. Jangan lupa tinggalkan jejak ya!


Judul: Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas


Author: Alinatasya21


Tsamirah Zahrana Az Zahra adalah seorang gadis Desa berparas Ayu penuh dengan pesona yang mampu membius kaum Adam bertekuk lutut di hadapannya dan berlomba-lomba untuk memantaskan diri mendapatkan Cinta dari Seorang Zahrana. Satu persatu kaum Adam datang silih berganti dalam kehidupan Zahrana, berawal dari ia duduk dibangku SMP. Sampai akhirnya ia lulus pendidikan SMK akhir dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya, ia memilih bekerja dan mencari Jati dirinya.Ia berjuang untuk bisa menjadi seorang Muslimah yang di Ridhoi Allah, namun siapa sangka di tengah proses Hijrahnya dia jatuh hati dengan seorang laki-laki bernama Muhammad Zaid Arkana, hingga ia terjerat dalam lumpur dosa yg tak berkesudahan dan melemahkan biduk iman dan kesucian hati Zahrana. Akankah Zahrana berjodoh dengan Muhammad Zaid Arkana atau akan hadir sosok Pria lain yang akan menjadi sosok Cinta Sejati Zahrana? mari simak kisahnya dalam novel Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas!

__ADS_1



__ADS_2