Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 40


__ADS_3

"Kamu jangan khawatir, Ricky, proses perceraian kami sedang berjalan. Tante sudah menolak mediasi yang ditawarkan, papamu juga menolaknya. Kami sudah sepakat mengakhiri pernikahan ini," ucap Soraya ketika dilihatnya wajah tegang Ricky.


"Kami saat ini sedang menunggu keputusan hakim dan ikrar talak dari papamu di hadapan hakim. Kamu tenang saja, mama kamu akan jadi istri satu-satunya mas Awan. Aku hanya berharap kamu tidak memperlakukan Renata seperti yang papamu lakukan padaku dan mamamu," imbuh Soraya sebelum berdiri meninggalkan ruangan itu.


"Mm, Soraya tunggu! Apa saya boleh menyimpan nomor telepon Anda?" Bimo ragu-ragu hendak meminta nomor telepon Soraya.


"Untuk?" jawab Soraya dengan pertanyaan singkat dan jelas.


"Jika nanti keponakan saya berulah seperti bapaknya, kita bisa bekerja sama mencarikan solusi terbaik untuk Rena," sahut Bimo mencari alasan.


Soraya mengangguk lalu mengeluarkan kartu namanya. Kartu nama jika ada yang mencari kos-kosan baik kos putra maupun putri. Dalam kartu itu tertera nama panggilan Soraya di kediamannya, MAMI SORA.


"Terima kasih," ucap Bimo dengan raut wajah bahagia, Soraya mengangguk dan meninggalkan ruangan itu.


Laki-laki yang tak lagi muda itu sangat bahagia seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Bimo lekas menyimpan kartu nama itu kedalam sakunya, setelah membaca sekilas nama yang tertera.


Bimo segera memanggil pelayan restoran untuk meminta tagihan pesanannya tadi. Usai menyelesaikan pembayaran, Bimo kembali ke perusahaannya. Sedangkan Ricky kembali ke bengkel.


Sementara itu badan Renata demam tinggi karena perutnya kosong. Tidak ada yang menyadari keadaan Rena saat ini. Dia meringkuk sendirian di dalam kamarnya tanpa ditemani siapa pun.


Ricko pulang sekolah langsung mengikuti bimbingan les di Gemesha. Jam lima sore anak remaja itu baru pulang dijemput oleh kanjeng mami seusai mengisi pengajian. Anak dan ibu itu sampai di rumah menjelang Maghrib.


Sesampainya di rumah, keduanya langsung masuk kamar dan membersihkan diri. Lanjut laporan pada Sang Pencipta, melakukan kewajibannya sebagai umat muslim. Setelah menjalankan ibadah, Soraya langsung menyiapkan makan malam.


"Ricko, panggil Mbak gih! Makan malam sudah siap," perintah Soraya pada anak semata wayangnya, ketika dilihatnya sang anak mendekat.


"Siap, Bos!" jawab Ricko, bergegas ke kamar sang kakak.


Ricko merasa heran ketika mendapati kamar sang kakak gelap gulita dengan jendela yang masih terbuka. Bocah itu langsung menghidupkan lampu kamar itu. Betapa terkejutnya dia saat menyentuh kening Renata. Dia spontan menjerit memanggil sang ibu.

__ADS_1


"Mamiiii! Cepat kesini! Mbak Rena, Mi ...."


Mendengar jeritan Ricko, Soraya pun bergegas menuju kamar Renata.


"Ada apa, Ricko? Kenapa kamu berteriak seperti melihat hantu?" cecar Soraya.


"Mbak Rena, Mi! Mbak Rena!" jerit Ricko kalut.


Soraya pun mendekati Renata dan mengecek kondisi keponakannya tersebut. Tidak ada pergerakan sama sekali. Tubuh Renata sangat panas dan wajahnya pucat sekali.


"Panggil anak-anak! Kita harus segera membawa mbakmu ke rumah sakit," perintah Soraya panik.


Perempuan yang sudah menyandang gelar janda itu, begitu panik. Berulang kali memanggil Renata, tetapi tidak ada jawaban. Renata ternyata tidak sadarkan diri.


Mereka menggotong Renata ke mobil bersama-sama. Ricko meminta bantuan Aldi untuk menyetir mobil ke rumah sakit terdekat. Anak-anak pun berebut ikut ke rumah sakit, padahal kehadiran mereka belum diperlukan saat ini.


"Kalian tidak usah ikut! Jaga rumah kita baik-baik! Jangan sampai ada yang memasukkan lawan jenis ke kamar!" pesan Soraya saat beberapa anak kosnya ingin ikut mengantar ke rumah sakit.


Aldi mengemudikan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia juga khawatir dengan keadaan istri temannya itu. Walaupun dia tidak menyukai tingkah bar-bar Renata, tapi dia terkesan dengan sikap baik Renata sebagai anak pemilik kos.


Aldi juga mendengar jika saat ini rumah tangga sahabatnya dalam masalah. Jika dulu masalah mereka membuat Ricky stres. Kini imbasnya pada kesehatan Renata.


Melihat sendiri bagaimana rumah tangga sahabatnya selama ini, membuat Aldi mikir seribu kali untuk menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dia hanya tidak siap jika tiba-tiba ada masalah dan dia tidak bisa mengambil keputusan yang tepat, makanya akan banyak hati yang terluka.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Aldi sampai di rumah sakit. Kini mereka sedang berdiri di ruang UGD, menunggu dokter selesai memeriksa Renata. Perasaan khawatir menghinggapi Soraya saat ini.


Tadi siang dia sudah memberitahu anak tirinya itu, jika Renata dalam keadaan yang tidak baik. Sepertinya, kabar yang disampaikan Soraya tidak ada pengaruh sama sekali.


"Aldi!"

__ADS_1


"I-iya, Mi," jawab Aldi terbata karena terkejut, tiba-tiba dipanggil ibu kos.


"Mami minta tolong bisa?" tanya Soraya dengan tatapan memohon.


"Apa itu, Mi? Kalau Aldi mampu, pasti akan Aldi penuhi. Jika tidak, Aldi akan mencari orang buat bantu Mami," janji Aldi pada sang ibu kos yang sudah dianggapnya sebagai ibu sendiri.


"Tolong jangan sampai Ricky tahu keadaan Rena saat ini. Ricky butuh waktu untuk berpikir jernih, jadi jangan beritahu dia. Bisa?" ucap Soraya memohon. "Bukan Tante melarang mereka untuk bersatu, akan tetapi biarkan dulu mereka berpisah sementara waktu. Sampai keduanya sadar jika saling terikat dan membutuhkan."


Aldi mengangguk tanda mengerti. Dia lalu menghubungi teman-teman di kosnya, mengatakan jika kabar sakitnya Renata jangan sampai terdengar oleh Ricky atau siapa pun yang kepo.


Lima menit kemudian Renata sudah sadar. Dokter yang menanganinya mengatakan jika Renata hanya terkena gangguan lambung dan dehidrasi. Dokter mengharuskan Renata menjalani rawat inap.


Renata pun dipindahkan ke bangsal rawat inap. Sesampainya di ruang rawat VIP Renata tertidur, dan Soraya meminta Lola dan Susan untuk pulang. Selain itu, Soraya juga berpesan agar keadaan Renata saat ini jangan sampai terdengar oleh telinga Ricky.


Lola dan Susan pun berjanji akan merahasiakan ini. Mereka juga berjanji akan meminta penghuni untuk bungkam. Akhirnya Aldi mengajak Ricko dan dua teman kos lainnya untuk pulang.


"Kamu kenapa, Ren? Apa begitu berat beban pikiran kamu, sampai kamu bisa drop seperti ini?" gumam Soraya seraya tangannya mengusap lembut kepala sang keponakan.


"Ternyata dampak liburan Tante dengan Mas Awan sangat dahsyat. Padahal kami berlibur untuk menyelesaikan masalah di antara kami. Namun, malah menghadirkan masalah baru bagi kalian."


"Hhh ... Tante tidak menyangka sifat Ricky tidak jauh beda dengan papanya. Jika segala sesuatu tidak sesuai kehendak, cenderung menjauhi orang-orang yang memiliki hubungan dengan sumber masalah. Tanpa mau mencari kebenaran," adu Soraya pelan.


Sebenarnya dia tidak ingin mengucapkan itu, tetapi da danya begitu sesak menghadapi masalah ini. Namun, dia harus tetap terlihat kuat dan tegar di hadapan semuanya.


*


*


*

__ADS_1


Mampir yuk ke karya temenku yang lain!



__ADS_2