Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 44


__ADS_3

"Kamu kemana saja, Mas? Aku sakit kamu tidak datang menjengukku?" ucap Renata begitu dia ingat tujuan utamanya pulang ke apartemen.


"Laki-laki macam apa kamu? Istri sakit, jangankan menunggui, menjenguk saja tidak! Kalau memang sudah tidak mau lagi, lebih baik kamu pulangkan aku dengan baik-baik," cerca Renata kesal, kesal dan kecewa bercampur menjadi satu.


Ricky mematung mendengar cercaan keluar begitu saja dari bibir sang istri. Padahal dia sudah meminta maaf, akan tetapi sepertinya sang istri sudah sangat kecewa padanya.


Tanpa Ricky tahu jika air mata Renata sudah mengalir deras ke pipinya. Akhir-akhir ini Rena mudah sekali menangis, padahal dia selama ini jarang sekali menangis. Renata terkenal sebagai gadis galak yang kuat, tiba-tiba menangis tanpa sebab.


Rena sendiri sampai tidak mengenali dirinya sendiri. Dalam hati dia ingin marah-marah pada sang suami yang abai, malah menjadi nangis sesenggukan sendiri.


Ricky yang saat itu sedang meletakkan dagunya di pundak Rena, terkejut mendengar isak tangis sang istri. Dia langsung membalikkan tubuh Rena dan menariknya ke dalam pelukan. Mengusap punggung Rena perlahan.


"Maaf, Sayang. Mas khilaf, Mas salah," ucap Ricky lembut, tangannya masih mengusap punggung sang istri. Kadang pindah mengusap lembut rambut Rena.


Tangis Rena semakin pecah, tangannya memeluk erat sang suami yang sangat dirindukannya. Kepala Rena mulai mendusel di da da Ricky yang tela*jang mencari tempat ternyaman.


Ricky yang sudah lama tidak pernah bersentuhan, kulitnya mulai meremang. Tak lama kemudian, si Alif pun terbangun tegak berdiri.


"Sayang, jangan nangis lagi! Mas minta maaf, Sayang. Kamu mau 'kan maafin Mas?" ucap Ricky sambil menahan ga*rahnya.


Rena menganggukkan kepala dan memeluk Ricky semakin erat. Kepala Rena yang terus bergerak di da da Ricky, membuat sang pemilik netra coklat itu pun tidak bisa menahan diri lagi. Dipegangnya dagu Rena, lalu diangkat perlahan sampai netra keduanya bertemu.


Tatapan keduanya terkunci, saling menatap seolah berbicara menyampaikan kerinduan yang telah lama terpendam. Ricky memberanikan diri mendekatkan wajahnya, menatap bibir pink sang kekasih.


Entah siapa yang memulai, tiba-tiba bibir keduanya sudah bertaut. Saling mencecap, meny*sap dan mel*mat. Awalnya ciuman itu hanya biasa saja, tetapi semakin lama semakin menuntut untuk dituntaskan.


Keduanya seakan menyalurkan kerinduan yang telah membuncah di da da. Mereguk manisnya madu asmara untuk melepas dahaga. Setelah sekian waktu saling diam tanpa ada yang mau menurunkan ego.


Kini ego keduanya telah runtuh karena sama-sama butuh. Entah sampai kapan mereka akan menyadari itu. Menyadari adanya rasa yang mengikat batin keduanya.


"Mas, pelan! Perutku bagian bawah sakit," ucap Rena saat Ricky memacu tubuhnya dengan kekuatan penuh.


Entah karena saking rindunya atau terlalu lama tidak melakukan, malam ini melakukannya sedikit lebih kasar dari pada biasanya. Seolah ada sesuatu yang harus dia kejar dan takut ketinggalan atau kehilangan.

__ADS_1


"Maaf, Sayang. Baiklah aku akan kurangi, tadi aku terlalu bersemangat. Hehehe," sahut Ricky seraya mengurangi tempo.


Hampir satu jam keduanya saling berpacu menuju kenikmatan surgawi. Melupakan masalah yang ada di antara mereka.


Keduanya tertidur pulas setelah melewati malam yang sangat panas. Jam tiga malam, Ricky terbangun karena seperti ada yang mencengkram miliknya. Begitu tersadar, dia teringat jika tadi telah melewati malam panas bersama sang istri sebanyak dua kali.


Tangan Rena tanpa sadar sudah menggenggam erat si Alif dengan mata terpejam.


"Sshhh..." desis Ricky pelan saat sang istri mulai mengurut si Alif.


Walaupun matanya terpejam, tetapi Rena cukup membuat Ricky kebat-kebit. Ricky mengarahkan telunjuknya ke pipi sang istri yang tampak masih berlayar di pulau mimpi.


"Yang, Sayang .... " panggil Ricky sambil menoel pipi Rena.


Tak ada perubahan, mata Rena masih terpejam dengan tangan semakin kuat mencengkram miliknya. Tidak hanya itu, Rena menggerakkan tangannya naik turun seperti orang mengelus.


Ricky memberanikan diri untuk menc*um sang istri karena matanya tidak terbuka, walau sudah diganggu berulang kali. Tidak menolak atau pun mengiyakan, membuat Ricky semakin berani. Dengan gerakan cepat, Ricky sudah mengungkung Rena di bawahnya.


Pagi hari, matahari tampak mengintip kedua insan itu melalui celah gorden. Tangan Ricky melingkar di pinggang Rena sedang kepalanya menyuruk di leher sang istri.


Badan Rena terasa luluh lantak tak bertenaga. Sebenarnya dia ingin segera membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan bau. Namun, tubuhnya terasa tak bertulang.


"Mas, Mas Ricky!" panggil Rena seraya mengguncang lengan kekar sang suami yang masih setia melingkari pinggangnya walau sudah bergeser.


"Tidur, Sayang. Sini aku peluk," sahut Ricky dengan mata terpejam.


"Sudah siang, malu sama ayam! Hooammm ...." balas Rena, sesekali menguap karena masih mengantuk.


Tak ada sahutan lagi, Rena pun melihat ke arah sang suami. Ternyata Ricky kembali tertidur.


"Hhh ... dasar kebo!" teriak Renata kesal.


Akhirnya dia memutuskan untuk ke kamar mandi karena merasakan gerah dan lengket. Belum juga melangkahkan kakinya, sang suami terbangun setelah merasakan ada pergerakan di sebelahnya.

__ADS_1


Rena melangkah perlahan menuju kamar mandi, intinya terasa sakit. Rasanya sama seperti saat pertama kali Ricky menggagahinya. Melihat hal itu, Ricky langsung mengangkat sang istri dan membopongnya ke kamar mandi.


Mereka berdua mandi bersama tanpa aktivitas lain. Benar-benar mandi dan saling membantu menggosok punggung dan membilas. Lima belas menit kemudian, mereka telah selesai mandi.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Ricky cemas saat melihat Rena meringis sambil memegang perut bagian bawah.


"Sakiittt ...." jawab Renata dengan air mata sudah mengalir.


"Tahan sebentar! Kita ke rumah sakit sekarang juga. Ok?" ucap Ricky sembari berjalan ke sana kemari mencari kunci mobil.


Setelah ketemu, Ricky langsung menggendong Rena ala bridal style. Rena meringis menahan sakit sepanjang perjalanan. Ricky meletakkan Rena di kursi depan di sebelahnya.


Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah sakit terdekat. Ricky begitu mengkhawatirkan keadaan sang istri. Sehingga dia berteriak sambil membopong tubuh Rena.


"Tolong, tolong istri saya!" teriaknya ketika sudah berada di lobi rumah sakit.


Beberapa orang perawat langsung mendekat, ada yang mendorong brankar untuk membawa tubuh Rena. Rena langsung dilarikan dan ditangani di ruang UGD.


Ricky tidak diijinkan masuk karena takut menganggu aktivitas dokter yang menangani Rena. Dia berjalan mondar-mandir di depan ruangan itu. Ricky begitu takut kehilangan Rena, benar-benar takut.


Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar memanggil keluarga Rena. Ricky pun mendekat pada dokter itu.


"Saya suaminya, Dok. Bagaimana keadaan istri saya? Dia sakit apa, Dok?" cecar Ricky panik.


"Dia ...."


*


*


*


Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temenku!

__ADS_1



__ADS_2