Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 22


__ADS_3

Kedatangan pak Gunadi disambut bahagia oleh anak dan adiknya. Walaupun bahagia, tetapi ada rasa takut dalam benak Rena. Takut pada sang ayah karena telah membuat masalah.


Rena paham betul bagaimana watak sang ayah. Tak akan berhenti mengungkit kesalahan, sebelum kesalahan itu diperbaiki. Namun, akan mudah memberikan maaf jika telah memperbaiki kesalahan tersebut dan tak mengulangnya.


"Kurang apalagi si Ricky itu, Rena? Papa lihat dia sudah menjadi lelaki yang bertanggung jawab. Bahkan dia juga mau membuka hatinya untuk menerima kamu, masih kurang?"


"Tidak ada, Pa. Rena yang salah, belum bisa menerima dia sebagai suami Rena," jawab Rena dengan kepala tertunduk.


"Lalu kenapa kamu menggugat cerai hanya karena dia menggauli kamu? Itu hak dia dan sudah menjadi kewajiban kamu memberi!" bentak pak Gunadi sambil memijit pelipisnya.


"Rena tidak suka caranya, Pa. Sudah Rena katakan belum siap melakukan itu, tetapi dia memper*kosa Rena ...."


"Apa memperko*sa? Hahaha ... Rena, Rena ... sejak kapan seorang suami menggauli istrinya disebut memperko*sa?" potong pak Gunadi.


"Dia memaksa Rena, Pa! Apa itu bukan memoerko*sa?" bantah Rena.


Suhu ruangan itu memanas seketika, padahal ruang keluarga itu berada di tempat terbuka. Siklus udaranya sangat lancar. Namun, obrolan mereka semakin memanas.


"Memaksa? Apa dia melakukan kekerasan saat mengambil haknya?" tanya pak Gunadi memicingkan mata.


"Tidak, Pa. Tapi dia melakukan itunya lama, padahal Rena sudah lemas dia belum berhenti juga. Padahal Rena sudah mengatakan berulang kali tapi selalu dijawab belum, masih jauh. Apanya yang jauh?" jujur Rena dengan polosnya.


"Hffttt ...." hampir saja tawa Gunadi dan Soraya meledak mendengar pengakuan Rena.


"Kuat juga si Ricky ternyata. Hahaha ...." Akhirnya pecah juga tawa Gunadi setelah beberapa saat ditahan.


"Kok malah tertawa sih Papa sama Tante? Nggak lucu tahu! Kalian nggak ngerasain bagaimana sakitnya anu Rena karena ulah Ricky. Satu Minggu baru sembuh," protes Rena karena ditertawakan.


"Ternyata anak dan bapak sama," ucap Soraya keceplosan, perempuan cantik itu langsung menutup mulutnya.

__ADS_1


"Namanya keturunannya, sudah pasti sedikit banyaknya sama, Sora." Pak Gunadi menimpali.


"Walau bagaimanapun juga kamu yang bersalah pada Ricky, Rena. Pulanglah ke rumah suamimu, minta maaflah!" perintah pak Gunadi mutlak dan hanya diangguki oleh Rena.


"Rena masuk kamar dulu, Pa, Tante," pamit Rena, sedikit menyimpan kekesalan karena sang ayah pun ikut membela Ricky. Namun begitu, dia akan belajar menerima semua ini.


"Lalu pernikahanmu dengan besanku, bagaimana? Sudah bertemu dan berbicara dari hati ke hati?" tanya Gunadi pada adik kesayangannya sepeninggal sang anak


"Belum, Mas. 'Kan nunggu jenengan pulang, kita bicarakan dulu berdua. Apa yang terbaik untuk Sora," jawab Sora.


"Rencana kamu sendiri bagaimana?"


"Cerai, Mas. Sora kasihan sama mamanya Ricky. Sepertinya dia kurang sehat, itulah kenapa mas Kurniawan meninggalkan kami."


"Sudah mantap pisah?" tanya Gunadi lagi dan diangguki oleh adik satu-satunya itu.


"Kalau menurut kamu itu yang terbaik, lakukan. Masmu ini akan selalu mendukung yang terbaik untukmu. Sudah waktunya kamu bahagia, Dik!" Gunadi merentangkan tangan meminta sang adik masuk dalam pelukannya.


"Besok kamu temui dia! Biar Masmu ini yang mengatur pertemuan kalian," ucap Gunadi masih memeluk adik kesayangannya


Seminggu telah berlalu, Rena tak juga pulang ke apartemen Ricky. Ricky pun tak mau menjemput Rena di rumah orang tuanya. Ricky lebih memilih mengurus bengkel miliknya yang semakin ramai pengunjung.


Ricky yang sekarang berbeda dengan sebelum mendapat surat gugatan cerai. Walaupun gugatan telah dibatalkan, tetapi tidak ada itikad baik dari Rena untuk memperbaiki. Kartu Ricky masih diblokir oleh Renata sampai sekarang.


"Nggak pulang, no masih diblokir. Apa sih maunya? Kalau memang sudah tidak mau lanjut ngapain juga dicabut tuntutannya?" keluh Ricky pada Aldi, sang sahabat.


Sejak Jonathan menikahi Wenny seminggu yang lalu, kini dia jarang ikut bergabung dengan Ricky dan Aldi. Ricky dan Aldi pun tidak masalah dengan itu. Mereka berdua memaklumi hawa pengantin baru yang sedang dimabuk asmara.


"Mungkin nunggu Lo yang bertindak kali. Nunggu Lo talak gitu," tebak Aldi.

__ADS_1


"Sampai kapan pun nggak bakalan gue talak dia!"


"Yakin Lo?"


"Gue mah gampang, cowok mau nikah lagi juga gak masalah. Kalau dia, tanpa gue talak mana bisa nikah lagi. Apalagi gue masih rutin kasih uang belanja ke dia," jawab Ricky seolah tak mau peduli dengan kehidupan Renata.


"Emang bener sih, kalau kita masih kasih nafkah rutin terus gak kita cerai. Otomatis dia tetap istri walaupun dia tidak pernah menjalankan tugasnya." Aldi membetulkan ucapan Ricky.


Ricky sudah mulai terpengaruh oleh ucapan teman-temannya. Bukan tanpa alasan dia berbuat seperti itu. Semua ini dikarenakan dia sudah lelah menunggu itikad baik dari istrinya yang tak kunjung ada.


Ricky sudah terlanjur kecewa pada Rena, apalagi kemarin dia melihat sendiri dengan mata kepalanya. Rena dan Sandy sedang menikmati makan siang di sebuah kafe, yang biasa dia gunakan nongkrong bersama teman-temannya.


Rena dan Sandy tampak tertawa bahagia saat mengobrol. Berbeda jauh dengan saat bersama dirinya. Rena tidak pernah memberikan senyuman untuk dia.


Kekecewaan Ricky semakin bertambah lagi, ketika sang mertua mengatakan Rena sudah pulang ke apartemennya. Namun, sampai sekarang Rena belum menginjakkan kakinya dia apartemen Ricky.


"Terus sekarang rencana Lo apa, Rick? Untuk masa depan rumah tangga Lo," tanya Aldi penasaran.


"Nggak ada! Gue jalani saja, kalau masih ada jodoh pasti akan bersama," jawab Ricky acuh.


"Kek orang pasrah gitu! Nggak ada usaha Lo buat ngajak Rena bahas ini, gitu? Misalnya, tanya Rena maunya pisah atau bertahan," pancing Aldi, dia ingin tahu bagaimana perasaan Ricky pada Rena.


Tanpa sepengetahuan Ricky, Aldi sudah memberikan rekaman CCTV saat di kafe. Sebelum kejadian yang merenggut harta Rena. Aldi melihat jika Rena seperti menyesali perbuatannya, setelah melihat rekaman itu.


"Bukan pasrah! Gue sudah berusaha, tetapi dia yang tidak mau. Lebih baik gue diam, biar dia yang berusaha. Kalau gue paksa dia, yang ada dia nyalahin gue lagi. Diam dan jalani seperti air mengalir lebih baik dari pada memancing keributan!" ujar Ricky mengeluarkan isi hatinya.


Aldi mengangguk mendengar ucapan Ricky. Aldi merasa saat ini mungkin Ricky ingin menenangkan diri. Tidak mau lagi ada keributan yang memancing emosi.


Aldi tahu betul bagaimana Ricky, dia bukanlah orang yang bisa menahan amarahnya. Tetapi dia pintar mengelola emosi. Meluapkan emosi pada tempatnya.

__ADS_1


Tanpa Ricky tahu, jika sebenarnya Rena sudah pulang ke apartemen. Namun, pergi lagi saat Ricky sedang memeluk seorang wanita.


__ADS_2