Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 43


__ADS_3

Miranti menghubungi sang suami, untuk membicarakan Ricky yang tidak terima ayahnya menikah dengan Soraya. Dia hanya ingin anak dan suaminya berdamai. Miranti tahu pasti, jika Kurniawan tak akan membela diri atas tuduhan Ricky.


Selama lima tahun mengabaikan Ricky sewaktu kecil, membuat Kurniawan dihantui rasa bersalah. Hal ini dikarenakan, sewaktu kecil Ricky sakit hingga berbulan lamanya bahkan hampir meregang nyawa karena merindukan sang ayah. Sejak saat itu Ricky menjadi prioritas Kurniawan.


Tidak heran, jika Ricky menjadi kekuatan sekaligus kelemahan Kurniawan. Bukan berarti dia tidak menyayangi Ricko. Kurniawan pun sangat menyayangi Ricko, tetapi Ricko dan Soraya jauh lebih kuat dibanding dengan Ricky dan Miranti.


Soraya adalah pribadi yang kuat sehingga dia mendidik Ricko menjadi pribadi yang sama dengannya. Tidak mudah goyah akan kabar angin dan ancaman.Tetap tenang menghadapai setiap masalah.


Malam ini, Ricky untuk pertama kalinya duduk bersama kedua orang tuanya untuk makan malam, sejak lima tahun terakhir.


"Sepertinya kita terlalu lama menjauh, lima tahun kita tidak pernah duduk bersama seperti ini. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk keluarga kita," ucap Kurniawan. "Jujur Papa sangat merindukan saat-saat seperti ini."


"Aamiin, semoga Tuhan mendengar do'a kita, Pa," sahut Miranti menimpali.


Akhirnya mereka makan malam bertiga dalam keheningan. Hanya ada suara denting sendok dan piring beradu. Lima belas menit kemudian mereka selesai menikmati santap malam.


"Pa, Ricky mau bertanya tentang hubungan Papa dengan tante Sora. Apa Papa punya waktu?" ucap Ricky tanpa basa-basi lagi.


"Kami sudah bercerai. Jadi, Papa harap kamu tidak pernah mengungkitnya lagi. Karena ada atau tidak Soraya dalam kehidupan Papa, tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap kamu ...."


"Tetap ada, Pa! Anak Papa bukan hanya Ricky saja. Jangan lupa, Ricko masih darah daging Papa!" potong Ricky cepat.


"Kamu tetap pewaris tunggal Kurnia Group. Hanya kamu dan anak cucumu nanti memegang dan memiliki Kurnia Group. Soraya dan Ricko sudah memiliki usaha sendiri tanpa Papa," jelas Kurniawan dengan sabar dan tenang. Tidak terpengaruh sedikit pun dengan emosi Ricky yang meledak-ledak.


Melihat sikap tenang sang papa serta mendengar pengakuan dari beberapa pihak. Akhirnya Ricky meminta maaf pada sang ayah.


"Maafkan Ricky, Pa. Terlalu banyak salah dan dosa Ricky pada Papa."


"Papa sudah memaafkan kamu, Nak."


Sebenarnya Ricky adalah orang yang pandai memanage emosinya. Dia tahu kapan dan pada siapa ledakkan emosinya. Jika sudah meledak sangat sulit untuk diredam, kecuali oleh pawangnya.


"Papa sudah tua Ricky, sudah waktunya untuk memperbaiki diri. Papa tidak ingin ribut lagi denganmu. Oh, ya, sampai lupa Papa," tutur Kurniawan menepuk dahinya.

__ADS_1


"Mulai besok kamu pegang Kurnia Group, nanti kamu akan diajari oleh asisten Papa. Robert akan mengajari dan mendampingimu sampai berhasil," ucap Kurniawan dengan mimik wajah serius.


"Apa? Tidak! Tidak! Ricky tidak mau menjadi pewaris, Ricky ingin menjadi ahli waris," tolak Ricky mentah-mentah.


"Papa sudah tua Ricky! Kamu sudah menikah sekarang. Jadi, tanggung jawab Papa sudah selesai. Sekarang giliran kamu yang melanjutkan usaha keluarga Kurniawan!"


"Banyak kok pengusaha umurnya di atas Papa!" elak Ricky. Dia benar-benar tidak mau jika nanti kesuskesannya karena mendapat warisan.


Bengkel yang Ricky bangun sejak 0 sudah menunjukkan pergerakan yang signifikan. Setiap hari selalu saja ada konsumen yang datang karena pu*s dengan hasil kerja para montir bengkel Ricky.


"Mereka bukan Papa, Ricky! Papa perhatikan, kamu sudah bisa diandalkan untuk memegang perusahaan. Terbukti usaha kamu yang awalnya tidak mendapat konsumen, kini sudah memiliki beberapa cabang dalam waktu kurang dari empat tahun," jawab Kurniawan telak.


"Papa ingin istirahat mengejar dunia, Papa lelah. Besok pagi Papa akan berangkat ke Jogja, ingin belajar di Pondok Ora Aji. Belajar menjadi pribadi yang lebih baik," lanjut Kurniawan.


"Apa-apaan sih, Papa! Pokoknya Ricky tidak mau menjalankan Kurnia Group. Ricky tidak mau kesusksesan Ricky dibayang-bayangi oleh Kurnia Group," sahut Ricky tetap kekeuh pada pendiriannya.


"Kalau begitu, Papa minta tolong sama kamu. Bisa?"


"Minta tolong apa, Pa?"


Ricky diam memikirkan permintaan sang ayah. Ricky merasa bersalah karena telah membencinya. Padahal sang ayah sudah begitu banyak berkorban untuknya, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membalas kebaikan kedua orang tuanya.


"Ricky belum pengalaman, Pa. Kalau Kurnia bangkrut di tangan Ricky bagaimana?" tanya Ricky tidak yakin akan kemampuan sendiri.


"Makanya belajar dari sekarang, mumpung kamu masih muda, Nak!"


"Ricky dimana Rena? Kenapa kamu tidak pernah mau membawa dia kesini?" potong Miranti tiba-tiba.


Ricky langsung teringat jika sejak pagi tadi belum melihat istrinya. Padahal setiap hari dia selalu melihat dari kejauhan keadaan sang istri.


"Maaf Ma, karena emosi Ricky jadi mengabaikan Rena. Kalau begitu, Ricky pamit Ma, Pa!" ucap Ricky sambil berlari keluar.


Ricky menghubungi Aldi untuk menanyakan keberadaan istrinya. Mendengar jawaban dari Aldi, Ricky mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju apartemen.

__ADS_1


Sudah terlalu lama dia mengabaikan istrinya itu. Sekarang dia ingin meminta maaf pada Renata.


Tak butuh waktu lama untuk sampai di bangunan apartemennya. Cukup setengah jam perjalanan saja. Ricky memasuki lift dengan terburu-buru, bahkan dia berlari keluar dari lift begitu pintu terbuka.


Saat masuk, semua lampu tampak menyala. Tanda ada orang di dalamnya. Ricky terus berjalan masuk, mencari keberadaan Renata.


Tampak olehnya, sang istri meringkuk di atas kasur memeluk jaketnya yang belum sempat dicuci beberapa hari ini. Ricky berjalan mendekat dan menyelimuti tubuh istrinya. Setelah itu, dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Rena terbangun dari tidurnya kala mencium aroma segar khas sabun mandi. Matanya mengerjap, menyesuaikan netra dengan sinar lampu yang menyala. Renata sangat hafal dengan aroma sabun yang sampai di hidungnya.


"Mas, Mas Ricky?" teriak Renata sembari bangkit dari tidurnya, dia tidak melihat belakang. Padahal sang suami berada di belakangnya.


Ricky yang berdiri di depan lemari hanya tersenyum, melihat tingkah sang istri yang tampak menggemaskan malam ini. Dengan perlahan Ricky merangsek maju, lalu hap! Ricky memeluk Renata dari belakang, masih dalam keadaan belum berpakaian.


"Maaf. Maaf sudah mengabaikan kamu beberapa hari ini," ucap Ricky sendu, menahan air mata yang akan menetes.


Hampir saja Renata akan memukul Ricky jika tidak ingat dengan aroma sabun yang menguar dari tubuh lelaki berbadan atletis itu.


"Mas Ricky?" tanya Renata dan diangguki oleh suaminya.


Betapa bahagianya Renata, akhirnya dia bisa melepaskan rindu malam ini. Tidak sia-sia dia menunggu berjam-jam.


"Maaf, Sayang. Maaf ...."


*


*


*


Hai semua, aku up double hari ini.


Mampir yuk ke karya temenku, dijamin seru lho!

__ADS_1



__ADS_2