Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 17


__ADS_3

"Bang, apa kabar? Lama nggak main ke sini, kemana aja?" cerocos bocah berusia 14 tahun itu, tampak bahagia bertemu dengan Ricky.


"Baik, Ko. Abang lagi sibuk makanya nggak kesini," jawab Ricky tersenyum sembari mengacak rambut Ricko.


"Mbak Rena mana, Bang?" tanya anak mami Sora, celingukan mencari keberadaan kakak sepupunya.


"Abang kesini sendiri, mbakmu besok pagi baru kesini. Kenap? Sudah rindu ya."


"Banget! Nggak ada lagi yang ngajak berantem Ricko, Bang. Biasanya ada yang diajak bercanda, eh sekarang sepi. Mbak-mbak yang kos nggak mau diajak main-main," adu bocah remaja yang sekilas wajahnya mirip dengan Ricky.


"Sudah malam, Ko. Tidur gih! Apa mau Abang temeni?" ujar Ricky menatap adik sepupu istrinya dengan intens.


"Beneran Abang mau bobok sama Ricko?" tanya bocah itu dengan wajah berbinar. Ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya.


"Iyaa, ayo! Keburu malam. Besok sekolah 'kan?"


"Iya, Bang."


Mereka pun berjalan beriringan menuju kamar Ricko yang bersebelahan dengan kamar Rena. Kamar bocah itu rapi dan bersih, membuat Ricky berdecak kagum.


"Rapi banget kamarmu. Siapa yang beresin?" tanya Ricky penasaran.


"Ricko 'lah yang beresin. Mau siapa lagi? Mbok Nah mana dikasih sama Mami," sahut Ricko dengan percaya diri.


"Kenapa nggak dikasih?"


"Kata Mami, Ricko harus terbiasa mandiri sejak dini. Apalagi papi Ricko sudah nggak ada. Mami nggak ingin dicap orang nggak bisa didik anak," cerita Ricko dengan wajah sendu.


"Mami itu sudah berhasil mendidik Ricko. Maka, tetaplah menjadi kebanggaan Mami Sora!" ucap Ricky memegang kedua bahu bocah itu, meyakinkan bahwa dia anak yang baik. "Sekarang kita tidur, biar besok tidak bangun kesiangan!"


"Siap, laksanakan!" jawab Ricko dengan posisi tegak dengan tangan memberi hormat.

__ADS_1


Ricky langsung mengusak rambut Ricko dengan penuh kasih sayang. Dia merasa seperti memiliki ikatan batin dengan anak remaja tanggung itu.


Keduanya langsung merebahkan badan dan langsung terlelap begitu menempel bantal.


Renata sampai di kediaman orang tuanya jam lima subuh. Sulitnya mencari kendaraan untuk keluar dari vila, menjadi alasan utama keterlambatan Rena sampai rumah.


"Baru sampai? Langsung mandi terus istirahat saja!" tegur tante Sora saat keluar kamar melihat sang keponakan.


"Iya, Tan," jawab Rena seraya mencium punggung tangan tante Soraya. Setelah itu dia masuk ke kamarnya.


Rena tidak tahu jika Ricky berada di rumah itu. Perempuan yang memiliki tinggi badan hanya 155 centimeter itu, bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Usai membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya, Renata langsung tidur. Tidak peduli waktu berjalan dengan cepat. Saat ini dia hanya ingin tidur nyenyak tanpa gangguan sama sekali.


Ricky terbangun saat mendengar suara seseorang di depan kamar, tetapi dia tidak keluar kamar. Kemudahan dia pun mandi dan dilanjutkan dengan menjalankan kewajiban seperti biasa.


Saat Ricky menggulung sajadahnya, Ricko bangun dan langsung ke kamar mandi. Mengikuti apa yang dikerjakan oleh suami kakak sepupunya itu. Begitulah anak-anak selalu merekam setiap apa yang dilihatnya.


Sama halnya dengan Ricko, remaja tanggung itu mengikuti setiap apa yang dilakukan oleh orang terdekatnya. Seperti pagi ini, misalnya. Dia melihat dan memperhatikan apa yang Ricky kerjakan, akhirnya dia ikuti.


"Ngapain nyariin gue? Nggak dapat jatah Lo, dari bini kok mukanya kusut banget," ejek Aldi begitu keluar dari kamarnya.


"Bang*sat, emang Lo! Ejek aja terooosss! Sudah tahu bini gue kabur masih aja dibahas," cerca Ricky dengan wajah memelas.


"Sudah pulang dia! Tadi gue lihat dia masuk ke rumah utama kok," ucap Aldi memberi tahu.


"Serius Lo?"


"Emang Lo tidur dimana? Bini pulang sampai tidak tahu," tanya Aldi heran.


"Tidur sama kembaran gue," sahut Ricky nyengir.

__ADS_1


"Udah sana, temuin bini Lo! BTW kalau taringnya keluar jangan lari, ya! Hahaha ...."


"Anjeeng Lo!"


"Hahaha!" Tawa Aldi semakin meledak, puas mengejek teman sekaligus bosnya itu. Semua orang juga tahu bagaimana sikap Renata selama ini. Sehingga Aldi menjadikannya sebagai bahan olokan.


Ricky meninggalkan Aldi setelah mengumpat, dia pergi dengan perasaan yang entah. Laki-laki berperawakan tinggi itu memutuskan untuk lari pagi keliling komplek, untuk menenangkan pikirannya.


Setelah satu jam berlari, badan Ricky sudah basah oleh peluh. Rena sudah berada di ruang makan ketika Ricky sampai rumah.


"Dasar cepu! Laki-laki kok punya mulut melebihi bebek," sindir Rena ketika Ricky sedang minum.


"Kalau berani hadapi langsung nggak usah cepu!" Rena terus melontarkan sindiran, namun tidak ditanggapi oleh Ricky.


Ricky kembali ke kamar Ricko begitu menghabiskan minumnya. Dia tidak mau membuat keributan di rumah mertuanya itu.


"Kamu ini bagaimana, sih? Suami baru pulang olahraga bukannya dikasih minum atau ditawari sarapan malah disindir. Kamu memang ya, istri nggak ada akhlak!" omel tante Soraya begitu Ricky meninggalkan meja makan.


"Salah sendiri jadi orang kok cepu. Mending pakai rok aja kalau cepuan mah," sahut Rena dengan entengnya.


Tante Sora berdecak kesal menghadapi keponakannya yang sekeras batu. Anak itu sejak kecil memang selalu saja ada jawaban ketika dinasehati. Terlalu kritis sehingga sering membuat tante Soraya meringis selama mengasuh dan merawatnya.


"Ck, kapan sih kamu bisa bersikap dewasa, hmm? Mbak Hapsari pasti sedih melihat anak kesayangannya seperti ini. Kenapa kamu jadi seperti ini, sejak mbak Hapsari meninggal, Ren? Jadi pembangkang dan susah diatur," keluh tante Soraya dengan wajah sendu, teringat dengan kakak iparnya yang sudah tiada.


"Jangan bawa-bawa mama, Tante! Mama sudah tenang di surga," sahut Rena dengan mata berkilat marah.


Jika mengingat bagaimana sang mama meninggal, emosi Rena langsung meledak. Teringat bagaimana sang mama yang meregang nyawa karena melihat papanya bersama wanita lain. Hapsari memiliki sakit jantung, sehingga saat memergoki suaminya selingkuh dia langsung drop.


Hapsari meninggal karena serangan jantung saat mengetahui suaminya memiliki istri lagi. Setelah Hapsari meninggal, Gunadi menceraikan istri sirinya. Gunadi merasa bersalah dan menyesal. Namun, Renata sudah terlanjur kecewa padanya.


Pak Gunadi menikah lagi karena, Hapsari lebih memilih tinggal bersama Renata di rumah peninggalan orang tuanya, dibandingkan ikut kemana dia ditugaskan. Dia ketahuan saat pulang, istri mudanya ikut serta.

__ADS_1


Ternyata perbuatan pak Gunadi berimbas pada adiknya, Soraya. Soraya dinikahi pengusaha yang mengaku duda, padahal sudah memiliki anak istri. Berbeda dengan Gunadi yang menjatuhkan talak pada istri keduanya, Soraya ditinggalkan begitu saja oleh suaminya.


"Tante hanya kecewa dengan sikapmu, Rena. Tante hanya ingin kamu tidak bernasib sama seperti Tante. Ditinggalkan suami itu tidak mudah. Tante harap kamu bisa hargai suami kamu, turunkan egomu dalam menjalani rumah tangga!"


__ADS_2