
Renata sedang berdandan di depan kaca. Dia mengaplikasikan bedak dan lipstik tipis-tipis. Tidak lupa maskara dan perona, agar lebih sempurna penampilannya.
"Ren, masih lama?" tanya Ricky yang sudah berpenampilan sempurna.
Hari ini adalah hari wisuda Ricky, dia meminta sang istri untuk mendampingi di acara tersebut. Hal ini dikarenakan orang tua yang terlalu sibuk dengan bisnisnya. Apalagi sejak Ricky memutuskan meninggalkan rumah, komunikasi seakan terputus.
Sejak subuh keduanya sudah bersiap-siap. Ricky sudah mengusulkan menggunakan jasa make up, tetapi ditolak oleh Renata. Dengan alasan bisa make up sendiri.
"Udah kelar, yuk cabut!" jawab Renata sembari mengambil slim bag yang berisi dompet dan ponselnya.
"Cantik banget sih, istri siapa ini?" puji Ricky pada istrinya.
"Gombalanmu terlalu garing!" sahut Rena seraya berjalan melewati Ricky begitu saja dengan wajah memerah.
Ricky langsung mencelos mendengar ucapan sang istri.
"Apa sih susahnya bikin suami senang?" sungut Ricky, mengikuti Rena dari belakang.
Keduanya ke kampus mengendarai mobil agar penampilan Rena tidak rusak terkena angin. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit dengan kecepatan sedang, mereka sampai di kampus. Tampak area parkir yang sudah dipadati oleh mobil para tamu undangan dan orang tua wisudawan/wisudawati.
Ricky membukakan pintu untuk Rena, tak lupa tangannya melindungi kepala Rena agar tidak terbentur dengan atap mobil. Ricky sengaja menyodorkan lengannya agar dipeluk sang istri. Namun, malah menuai protes.
"Ingat! Dalam perjanjian tidak ada skinship. Jadi, tidak perlu bergandengan tangan apalagi berpelukan," ucap Rena tanpa mau menyentuh lengan Ricky sedikit pun.
"Papa dan Tante Sora jadi datang 'kan?" tanya Ricky sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. " Tak apa jika kamu ingin ditatap penuh kecurigaan oleh mereka. Aku sih tak masalah, toh aku akan mengatakan yang sebenarnya pada mereka jika ditanya."
Mendengar itu, Rena menghentakkan kakinya lalu meriah lengan Ricky. Memeluk lengan kekarnya. Keduanya menuju gedung dengan tangan Rena bergelayut pada lengan Ricky.
__ADS_1
"Waahh, pengantin baru tampak semakin lengket saja," sindir tante Soraya yang baru saja berpapasan.
Tidak hanya tante Soraya yang datang, pakai Gunadi dan Ricko pun ikut serta menghadiri acara wisuda Ricky.
"Apa kabar, Tan? Papa," sapa Ricky sembari mendekati mertuanya, kemudian menyalami tangan mereka satu persatu.
"Alhamdulillah, Ky. Selamat ya, sudah jadi sarjana! Papa bangga padamu, masih muda sudah menjadi pengusaha dan menyandang gelar sarjana," sahut pak Gunadi seraya menepuk bahu Ricky pelan.
"Ah, Papa bisa saja. Ricky itu sama kek yang lainnya, Pa. Banyak kok teman Ricky yang bekerja sambil kuliah, kalau mereka bisa berarti Ricky juga harus bisa," jawab Ricky merendah.
Tak berapa lama, sudah ada suara panggilan untuk para mahasiswa yang akan wisuda. Mereka dipersilakan masuk melalui pintu samping, sedang para tamu undangan masuk melalui pintu depan.
Tiga jam berlalu, acara wisuda pun telah selesai. Hanya tinggal beberapa acara hiburan dan ucapan selamat untuk para wisudawan. Sebagian pengunjung acara sudah meninggalkan aula besar itu.
Ricky keluar melalui pintu utama untuk menemui istri dan keluarganya yang sudah menunggu di luar. Ternyata tidak hanya Rena bersama keluarga, om Bimo adik mama Mira pun datang di hari bahagia ini.
"Om Bimo!" panggil Ricky dengan senyum mengembang. Dia sangat bahagia karena kedatangan pamannya yang serasa ayah dan juga sahabat.
"Terima kasih, Om. Sudah menyempatkan datang di sela kesibukan Om Bimo mengurus perusahaan" sahut Ricky meneteskan air mata bahagia.
"Kamu sudah Om anggap sebagai anak Om, walaupun umur Om belum pantas memiliki anak sebesar kamu," ledek laki-laki berusia 38 tahun tetapi jomblo itu.
"Om itu lebih pantas jadi teman dari pada orang tua. Tapi kalau Om Bimo menikah sudah pantas kok, Ricky anggap sebagai ayah. Hahaha ...." jawab Ricky tidak mau kalah.
"Bagaimana kalau kita ke rumah? Tadi Soraya sudah masak banyak untuk merayakan wisuda Ricky," ucap Pak Gunadi menyela.
Akhirnya mereka semua pulang ke rumah pak Gunadi. Renata dan Ricky berada satu mobil, Bimo meminta Soraya untuk ikut bersamanya dengan alasan lupa jalan menuju kediaman Pak Gunadi.
__ADS_1
Kedatangan mereka di kediaman Pak Gunadi disambut oleh anak-anak kos disana. Baik putra dan putri. Mereka seperti ada yang mengkoordinir sehingga tampak kompak dalam menyambut kedatangan pemilik kos.
Tante Sora mengintruksikan kepada para penghuni kos, untuk menata tempat untuk makan bersama. Mereka membentang karpet untuk alas duduk karena acara makan lesehan dengan menu nasi liwet.
Acara makan-makan sebagai syukuran atas keberhasilan Ricky. Mereka semua bahagia karena melihat nilai Ricky yang memuaskan. Walaupun tidak cumlaude akan tetapi lulus dengan IPK 3,44 sudah merupakan suatu kebanggaan tersendiri.
"Ricky, Papa titip anak Papa. Jaga dia, sayangi dia dan bimbing dia!" pesan pak Gunadi pada Ricky.
"Baik, Pa. Ricky pasti menjaga dan membimbing Renata karena Ricky menyayanginya. Kenapa Papa berkata seperti itu, seolah-olah Papa akan pergi jauh?"
"Papa ditugaskan ke Maluku, nanti malam harus berangkat ke sana. Teman-teman Papa sudah berangkat dua hari yang lalu, Papa ijin malam ini berangkat," jelas pak Gunadi.
"Jam berapa, nanti Papa berangkat biar kami antar ke bandara?"
"Jam lima kita berangkat dari rumah, jadwal pesawat Papa jam tujuh malam."
Saat mereka asik mengobrol, ada chat masuk dari Wenny yang mengajak merayakan kelulusan Ricky. Wenny mengancam jika Ricky tidak mau datang, dia tidak pernah mau putus dari Ricky. Sehingga mau tidak mau, Ricky mengiyakan.
Pak Gunadi menyuruh Ricky dan Rena masuk ke kamar untuk berganti pakaian dan istirahat. Rena yang awalnya ketus pada suaminya ditegur oleh pak Gunadi dan diceramahi tante Soraya. Akhirnya Renata mengijinkan Ricky ikut masuk ke kamar.
Sore hari, semua keluarga Pak Gunadi berkemas hendak mengantar kepala keluarga itu dinas ke Maluku. Barang bawaan pak Gunadi tidaklah banyak. Beliau hanya membawa satu ransel besar untuk menyimpan barang-barangnya.
Usai mengantar mertuanya ke bandara, Ricky langsung mengantar tante Soraya dan Ricko pulang. Setelah itu mengantar sang istri ke apartemen dan berganti pakaian.
"Mau kemana?" tanya Rena heran. "Kita baru sampai loh, kok pergi lagi? Memang nggak capek?"
"Tadi sudah telanjur janji sama anak-anak, nggak mungkin aku batalin gitu aja. Kamu tidak usah nunggu aku pulang. Belum tahu pulang jam berapa," sahut Ricky.
__ADS_1
"Kek nggak ada hari esok saja!" gerutu Rena.
"Aku cabut, ya! Usah tunggu aku ...." teriak Ricky, berjalan cepat meninggalkan unitnya.