
Ricky mengajak Renata makan di warung tenda yang ada di depan supermarket. Dia sengaja ingin tahu apakah istrinya itu pernah makan di warung tenda atau tidak.
"Ayuklah! Gue juga lagi males masak," sahut Renata sembari mengikuti langkah kaki laki-laki yang jauh lebih tinggi darinya itu.
Ricky memesan nasi goreng seperti biasanya, lalu bertanya pada sang istri hendak memesan apa.
"Mau makan apa, hmm? Di sini terkenal dengan nasi goreng seafood-nya," tanya Ricky.
"Samain aja!" jawab Renata singkat dan jelas.
Akhirnya Ricky kembali memesan menu yang sama dengan yang tadi dipesannya. Mereka menunggu pesanan tanpa percakapan. Bahkan sampai pesanan mereka datang pun masih diam.
"Bagaimana rasanya? Enak, bukan?" tanya Ricky memecah keheningan di antara mereka.
"Iya." Lagi-lagi Rena hanya menjawab singkat pertanyaan dari Ricky, membuat Ricky enggan mengajak bicara lagi.
Sampai keduanya selesai makan dan kembali ke apartemen, mereka tetap diam membisu tanpa percakapan. Badan Ricky sudah terlalu lelah, sehingga memilih diam dari pada berbicara yang nantinya berujung perdebatan.
Sayangnya gencatan senjata hanya berlangsung beberapa jam saja. Sesaat setelah masuk ke apartemen, keduanya kembali membuat drama. Hal ini dikarenakan keduanya rebutan tempat duduk di ruang tengah.
Rena sedang asik nonton televisi, tiba-tiba Ricky datang membawa laptop dan beberapa buku diktat. Ricky yang hendak mengerjakan skripsi, merasa terganggu dengan suara televisi. Selain itu, meja yang akan Ricky gunakan sudah penuh dengan cemilan milik Renata.
"Bisa nggak pelankan sedikit suara televisinya?" sindir Ricky seraya meminggirkan berbagai cemilan di atas meja.
"Udah pelan ini! Kalau dipelankan lagi, yang ada gue kagak denger," jawab Rena sembari memasukan cemilan ke mulutnya dengan pandangan mata fokus pada televisi.
"Telinga Lo budeg atau gimana, sih? Suara kuat kek geledek gitu dibilang pelan," gerutu Ricky.
Brugh....
Semua cemilan yang ada di meja, disapu dengan tangan oleh Ricky sehingga berjatuhan di lantai.
"Hei Korek Api Kenapa Lo buang makanan gue?" teriak Renata sambil beranjak dari duduknya.
"Bikin penuh meja! Gue mau ngetik di sini," jawab Ricky acuh. "Lain kali kalau ganti nama itu izin dulu sama nyokap gue!"
__ADS_1
"Gue duluan yang duduk di sini, ya! Lo main serobot aja," teriak Renata. "Lagian Lo 'kan bisa ngerjain tugas di kamar. Ngapain juga ngikutin gue di sini?"
Bibir Renata sudah mengerucut hingga mirip segitiga. Melihat hal itu, Ricky langsung mere*mas bibir Rena karena saking gemasnya. Diperlakukan seperti itu, Renata langsung mengamuk.
Tangan Rena memukuli tubuh Ricky tanpa ampun. Ricky yang hendak melarikan diri dari amukannya pun terus dikejar. Tidak hanya itu saja, kedua sandal yang dipakainya pun ikut melayang ke arah Ricky.
"Ampun, ampun!" teriak Ricky dengan napas memburu. Tertawa sambil berlari membuat napas Ricky jadi ngos-ngosan.
"Emang bang*sat Lo! Dikira bibirku ini kelapa apa," omel Renata tidak kalah ngos-ngosan dengan Ricky.
"Kalau pakai tangan marah, berarti pakai bibir boleh 'kan?" tanya Ricky sembari memainkan alisnya naik turun.
Renata kembali mendatangi Ricky hendak memukul lagi tetapi belum sampai mendekat Ricky sudah masuk ke kamar. Sayangnya keduanya sudah sangat kelelahan, sehingga kembali gencatan senjata. Mereka berdua tertidur di kamar masing-masing.
Ricky urung mengerjakan skripsinya, sedang Renata tidak jadi menonton film kesukaannya. Kedua pasangan pengantin baru itu sama-sama lelah berantem, sehingga tidur dengan pulas.
Pagi hari, Ricky terbangun lebih dulu. Dia langsung mandi, setelah itu memasukkan laptop dan buku diktatnya ke dalam tas ransel. Hari ini dia ada jadwal bimbingan skripsi lagi.
"Dasar Kebo! Anak perempuan jam segini belum bangun juga," gerutu Ricky ketika dilihatnya sang istri masih meringkuk dalam selimut.
"Hai, Bro! Sepertinya pagi ini cerah sekali, ya?" sindir Jonathan, teman satu angkatan Ricky.
"Saking cerahnya mau turun hujan ...." sahut Ricky cuek.
"Buahahaha ...." Semua yang ada di lapangan parkir itu tertawa lebar.
"Ricky dilawan!" teriak salah satu dari mereka.
"Rick, cewek Lo tuh?" ucap Jonathan memberi tahu Ricky.
"Gue cabut duluan, guys!" pamit Ricky seraya berjalan meninggalkan teman-temannya, menuju sang kekasih.
"Sayang, kamu kemana aja sih? Aku telepon berulang kali nggak diangkat," tegur Wenny manja.
"Hah!"
__ADS_1
"Kok hah, sih! Kamu kenapa, Sayang? Perasaan lain dari biasanya," tanya Wenny penuh selidik.
"Aku sibuk, Wen. Cari bahan skripsi terus membuat uji coba. Lalu menyusun hasil uji cobanya dalam sebuah kalimat. Kamu kira nyusun skripsi itu nyusun lego? Nyusun lego aja pakai mikir lama, apalagi skripsi," jelas Ricky sedikit kesal.
Wenny merupakan type cewek yang posesif dan manja. Dia juga mudah cemburu tanpa alasan. Oleh karena itu, Ricky harus bersabar menghadapi kekasihnya itu.
"Kok malah marah sama Wenny? Aku 'kan cuma nanya, kenapa malah jadi marah?" sembur Wenny tidak terima mendengar nada suara Ricky yang sedikit meninggi.
"Siapa juga yang marah sih, Wen? Aku cuma menjelaskan kesibukanku. Nggak ada aku marahin kamu," sahut Ricky dengan perasaan campur aduk.
"Ribet emang kalau berhadapan dengan makhluk yang bernama perempuan," gerutu Ricky hanya dalam batin saja.
"Kalau nggak marah, berarti mau dong antar Wenny ke mall?" rayu Wenny.
"Ok, tapi nanti setelah aku kelar ngadep pembimbing. Bagaimana?"
"Iya, nggak apa-apa, Sayang. Aku juga ada kelas pagi ini
Seperti itulah Wenny, selalu saja ada cara agar uang Ricky keluar dari kantong.
"Aku duluan ya, sudah ditunggu sama dosen pembimbing. Daah!" pamit Ricky sembari meninggalkan sang kekasih di depan kelasnya.
Ricky terus berjalan melewati lorong kelas menuju ruang dosen pembimbing skripsi. Dia deg-degan karena tidak yakin hasil kerjanya memuaskan. Namun, dia harus tetap menemui sang dosen demi masa depan.
Setelah selama satu jam berada di ruang dosen, akhirnya Ricky bisa meninggalkan tempat itu. Bab isi skripsinya ditolak, sehingga dia harus mengulang lagi. Satu Minggu lagi semua bab harus sudah selesai atau kembali mengulang semester depan.
"Bagaimana ini caranya menolak ajakan Wenny? Bisa-bisa ngambek dia kalau dibatalkan," gumam Ricky dalam perjalanan dari ruang dosen menuju perpustakaan.
Sesampainya di perpustakaan, Ricky kembali menekuni laptopnya. Sesekali dia membuka buku diktat sebagai referensi menulis. Tanpa sadar, jika sudah tiga jam dia mengerjakan skripsinya.
Ponselnya dalam mode silent dan sedang diisi baterai di penitipan barang perpustakaan. Wenny berulang kali menghubungi Ricky. Ternyata Ricky melupakan janjinya pada sang kekasih.
Ricky tersadar saat pundaknya ada yang menepuk. Saat mengangkat kepala, ternyata istri galaknya yang datang.
"Anterin gue belanja bahan buat maket! Lo udah janji gantiin maket gue yang Lo hancurin tempo hari," ucap Rena tanpa dosa.
__ADS_1