Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 13


__ADS_3

Ricky menghubungi teman-temannya, Jonathan dan Aldi. Ricky sengaja mengajak mereka untuk berjaga-jaga jika Wenny berbuat nekat.


Ricky sampai di kafe bersamaan dengan Jonathan dan Aldi. Mereka masuk ke dalam kafe bersama-sama dan mencari keberadaan Wenny. Ternyata gadis itu memilih meja yang terletak di sudut ruangan.


"Lama banget sih?" sembur Wenny dengan wajah sudah tampak memerah karena menahan marah.


"Sorry, tadi aku antar Papa ke bandara dulu. Baru ke sini setelah pesawat take off," jawab Ricky dengan wajah datar.


"Kok ada mereka?" tanya Wenny ketika menyadari ada Jo dan Al di antara mereka.


"Oh, itu? Tadi kita nggak sengaja ketemu di depan. Jadi aku ajak gabung sekalian. Iya 'kan, guys?"


"Hah? Hmm, iyaa. Tadi ketemu di depan sama si Boss," jawab Aldi ketika kakinya diinjak oleh Ricky.


Mereka pun duduk dan memesan makanan dan minuman. Dilanjutkan dengan obrolan ringan. Tak lama kemudian pesanan mereka datang, obrolan pun berlanjut sambil menikmati makanan.


"Habis ini Lo mau lanjut S2 atau fokus pada bengkel?" tanya Jonathan si mahasiswa abadi, walaupun masuk kuliah di tahun yang sama. Namun, Jonathan harus mengulang banyak mata kuliah yang bernilai di bawah standar.


"Pengen lanjut sih, tapi nanti dulu. Gue mau otak gue istirahat dulu. Puyeng habis nyusun skripsi," jawab Ricky.


"Kalau Lo, Al?" Kini si Aldi yang ditanya oleh Jonathan.


"Skripsi aja belum kelar, sudah ditanya lanjut nggak. Penghinaan itu namanya," ketus Aldi kesal.


"Lah, gitu aja nyolot. Gue cuma nanya, Bung! Bukan bermaksud menghina, gue aja masih lama lagi nyusun skripsi," balas Jonathan.


Di saat teman-temannya sedang berdebat, tiba-tiba saja Ricky merasakan ada yang lain dengan tubuhnya. Inilah yang dia takutkan, kecurigaannya terbukti. Ricky pun bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa dan mencari cara agar bisa segera pulang.


"Ricky, kamu kenapa diam saja, hmm?" tanya Wenny dengan suara manja yang dibuat-buat.


"Hmm, maaf Wen. Aku sudah ada janji sama tante aku buat jaga anaknya. Tanteku keluar kota, jadi aku diminta untuk menemani anaknya," sahut Ricky pura-pura gelisah memikirkan sang sepupu.

__ADS_1


"Sudah gede 'kan? Di rumah juga ada pembantu ini, ngapain dipikir," ujar Wenny kesal.


"Baru belasan tahun kok sekitar sebelas atau dua belas tahunan. Nanti kalau dia ngadu aku nggak tepati janji, bisa-bisa digorok leherku," ucap Ricky beralasan.


Dia terpaksa berbohong demi rumah tangga yang baru saja dibangun. Dia hanya ingin belajar untuk tidak berpaling walau apapun alasannya. Belajar mencintai dan setia dengan pasangan halalnya


"Jo, lo bawa mobil?" tanya Ricky sambil menatap temannya itu.


Jo merasa aneh dengan tatapan mata Ricky yang tidak biasanya. Dia yang berpengalaman pun sudah paham dengan sekali lihat. Namun, dia hanya diam saja pura-pura tidak tahu.


"Bawa. Kenapa?" jawab Jo, pura-pura penasaran dengan tujuan pertanyaan sang sahabat.


"Gue mau minta tolong, Lo antar Wenny pulang. Gue harus buru-buru. Lupa kalau gue harus temenin anak tante gue," jelas Ricky sambil berdiri, buru-buru ingin segera meninggalkan tempat itu.


"Oh, soal itu mah gampang. Nanti gue yang antar Wenny sampai unitnya, sampai kamarnya kalau perlu. Biar lo yakin, do'i selamat sampai rumah," jawab Jonathan begitu meyakinkan.


"Gue duluan!" teriak Ricky setengah berlari keluar dari kafe.


Begitu masuk ke dalam mobil, tanpa menutup pintu, Ricky langsung menghubungi Aldi.


" .... "


"Pakai duit, Gob*lok! Duit bisa dengan gampang nyelesain masalah.''


" .... "


"Gue transfer sekarang! Dasar Rentenir lo!"


Ricky mengakhiri panggilannya, lalu mentransfer sejumlah uang ke rekening Aldi. Setelah itu, Ricky memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ingin segera sampai di unit apartemen dan mendinginkan diri di bawah guyuran air dingin.


Hanya dalam waktu lima belas menit, Ricky telah sampai di unit apartemennya. Dia masuk dengan terburu-buru karena reaksi obatnya mulai bekerja. Sehingga pintunya berdentam karena ditutup dengan kuat.

__ADS_1


Renata yang cemas sepeninggal Ricky tadi, tidak bisa tidur. Akhirnya, dia memilih untuk menonton di ruang tengah sembari menunggu kepulangan Ricky. Padahal selama ini, dia tidak pernah menunggu Ricky pulang.


Renata yang sedang menonton di ruang keluarga terkejut, mendengar suara pintu terbuka dan tertutup terlalu kuat. Dia pun beranjak dan menghampiri laki-laki yang membuatnya cemas itu.


"Rick, kamu kenapa? Pulang-pulang membanting pintu yang tak berdosa," tegur Renata pada Ricky, yang kebetulan sudah berdiri bersandar di dinding pembatas antara ruang tamu dengan ruang tengah.


Ricky berbalik dan meninggalkan tempat itu begitu saja, tanpa menjawab pertanyaan sang istri. Rena yang tidak terima, pertanyaannya tidak dijawab langsung berlari mengejar sampai kamar.


"Heh, kalau ada orang tanya itu dijawab bukan malah minggat!" teriak Rena seraya menarik lengan Ricky dan mencengkeramnya agar tidak terlepas.


Ricky mengibaskan tangannya agar cengkeraman Rena terlepas. Namun, cengkeraman itu begitu kuat sehingga tidak mudah lepas.


"Lepas!" ucap Ricky dengan suara menggeram, menahan sesuatu.


"Tidak aku lepas sebelum kamu jawab pertanyaan aku!" tolak Renata dengan berani.


"Jangan salahkan aku, jika nanti terjadi sesuatu yang tidak kamu inginkan! Sekalian lagi aku bilang lepas!"


Rena masih tetap mencengkeram erat tangan Ricky. Sedangkan Ricky yang sudah tidak bisa menahan lagi, akhirnya menarik tabuh Rena dengan tangannya yang terbebas. Tanpa aba-aba, Ricky langsung memagut bibir sang istri.


Awalnya ciuman itu pelan dan lembut, tetapi lama-lama menjadi menuntut. Ricky tidak mau melepaskan pagutannya itu sampai hampir kehabisan napas. Rena terus memukul dada dan anggota tubuh lainnya.


"Lo mau bunuh gue?" teriak Renata penuh amarah.


"Ingat perjanjian kita, tanpa ada skinship. Lo udah ingkar janji, berarti gue bisa ceraikan Lo," imbuh Renata mencoba melepaskan pelukannya.


Bukan Ricky jika gampang menyerah. Bukan melepaskan pelukan, dia kembali mencium bibir Renata. Memagut, menyesap dan Mel*mat dengan paksa.


Ricky menggigit kecil bibir Renata, agar mulut Renata terbuka dan melanjutkan aksinya. Bahkan tangan pemuda berdarah Sunda - Jawa itu tidak bisa diam. Tangannya mulai menggerayangi bagian-bagian sensitif sang istri.


Ricky menggiring Renata ke arah ranjang. Keduanya tenggelam dalam lautan ga*rah. Renata berulang kali berontak, tetapi tubuhnya yang kecil tak kuasa melawan tubuh kekar. Renata pun pasrah setelah lelah memberontak.

__ADS_1


Malam itu, Ricky tampak seperti binatang liar hendak menerkam mangsanya. Obat perangsang yang telah diberikan dengan dosis tinggi itu tidak bisa diabaikan lagi.


Ricky sadar atas apa yang dilakukannya, tetapi dia tidak bisa lagi menahan ga*rah. Dia tahu, jika dia salah dan mungkin tidak termaafkan. Namun, obat siyalan itu telah mempengaruhinya.


__ADS_2