
"Hai, Ricky-nya ada?" sapa perempuan yang pernah Rena lihat beberapa hari yang lalu. "Kamu asisten rumah tangga Ricky?
"Hai juga, masuk!" sahut Rena dengan wajah datarnya. Tampak kekesalan di wajah Rena, sehingga moodnya pun berantakan.
"Silakan duduk, Mbak! Saya panggil Mas Ricky dulu," ucap Rena bak seorang pelayan.
Renata sengaja tidak mengatakan apa kedudukannya di samping Ricky. Biarkan saja Ricky yang mengatakannya. Seperti itulah yang ada di benak Renata.
"Ada cewek Lo tuh, nungguin di depan!" ujar Rena ketus pada suaminya.
"Hah?" Ricky terkejut tiba-tiba saja Rena kembali memanggil dirinya dengan kata Lo. Padahal sejak sebelum ada kejadian yang berbuntut Rena melayangkan surat cerai, mereka sudah aku-kamu.
"Malah bengong lagi! Itu sudah ditungguin," teriak Rena semakin kesal.
"Kamu kenapa sih? Masih pagi kok uring-uringan nggak jelas. Ada apa, hmm? Ceritalah, aku dengarkan!"
Ricky memeluk Renata dari belakang. Menyusupkan kepalanya ke leher jenjang sang istri. Menghirup aroma wangi yang menguar dari badan Rena.
"Lepas, ih! Tabok nih," ancam Rena dengan tangan terangkat.
"Tabok aja, pilih mau tabok di bagian mana kamu suka. Aku ikhlas kok," jawab Ricky dengan santainya masih memeluk pinggang Rena posesif.
"Ricky, tamunya sudah nungguin dari tadi malah glendotan kek bayi aja!" dengkus Rena karena susah melepaskan belitan tangan Ricky di pinggangnya.
"Emang! Aku 'kan masih bayi, tapi setiap minta nen nggak dikasih," sahut Ricky sekenanya sambil berlari menjauh dari istrinya.
"Rickyiii!" teriak Renata sekuat tenaga meluapkan amarahnya.
Ricky berlari dengan tawa lepas mengiringi langkah kakinya.
"Eh, Stella. Ada apa, La?" tanya Ricky begitu sampai di ruang tamu. "Maaf nunggu lama, baru kelar mandi."
"Nggak apa-apa kok, baru sepuluh menit," jawab Stella dengan senyum dipaksakan.
"Maaf ya, pagi-pagi sudah ganggu," imbuhnya basa-basi.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, santai aja, La. Btw, ada apa nih pagi-pagi sudah sampai di sini?" tanya Ricky lagi.
"Aku mau minta tolong, antar aku ke Bandung. Bisa?"
"Kapan?"
"Hmm, sekarang sih. Tadi pagi aku dapat kabar kalau adikku sakit terus rawat inap di rumah sakit. Kamu mau 'kan anterin aku?" ucap Stella seraya memeluk lengan Ricky kemudian menggoyangnya.
Ricky diam memikirkan jawaban yang tepat. Dalam hati ingin rasanya menolak, tetapi sisi kemanusiaannya mengatakan untuk menolong. Akhirnya terdiam tidak bisa memutuskan karena tidak ingin membuat Rena marah.
"Antarinlah, Mas! Kasihan," sindir Rena sembari berjalan membawa nampan berisi minuman dan cemilan. Ricky yang baru pertama kali mendengar istrinya memanggil mas merasa sangat bahagia.
"Oh, ya Stella. Ini Renata, istriku," ujar Ricky tiba-tiba sehingga mengejutkan kedua wanita yang tidak begitu jauh dari tempat duduknya.
"Hai, aku Renata biasa dipanggil Rena. Senang bisa berkenalan dengan Anda, Nona," ucap Renata seraya mengulurkan tangan menyalami tamu.
"Oh, hai. Kita sudah pernah bertemu ya sebelumnya?" tanya Stella pura-pura kenal Renata.
"Oh, iyakah? Kok saya tidak merasa mengenal Anda ya?"
"Reren, masak tamu datang malah diajak berdebat sih?" lerai Ricky.
"Dasar wanita ular tidak tahu diri!" umpat Renata dalam hati.
Renata menghentakkan kakinya lalu bergegas meninggalkan Ricky dan Stella begitu saja. Dia lebih memilih bergelung dalam selimut karena tiba-tiba saja dia mengantuk. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh sang suami bersama temannya.
Ricky yang tahu istrinya tidak rela dia mengantar Stella. Hanya mengantar sampai stasiun kereta api dan memberikan sejumlah uang untuk kebutuhan Stella selama dalam perjalanan. Ricky tidak ingin rumah tangganya terkena masalah lagi.
Setelah mengantarkan Stella ke stasiun, Ricky langsung ke bengkel karena ada beberapa motor yang harus dia tangani sendiri. Skill Ricky dalam memodifikasi kendaraan bermotor tidak diragukan lagi. Namun, sampai saat ini belum menemukan karyawan yang skill-nya melebihi dia.
Renata terbangun saat matahari tepat di atas kepala. Rena bangun dan mencari keberadaan sang suami, tetapi nihil. Tidak ada tanda-tanda keberadaan laki-laki yang bertubuh kekar itu di dalam unit apartemen.
Berhubung jam dua siang memiliki jadwal kuliah, Rena langsung bergegas bersiap-siap untuk berangkat kuliah. Wanita keturunan asli Jawa itu tidak menghubungi suaminya karena masih kesal.
"Hmm, awas saja nanti kalau pulang! Habis nanti aku cakar-cakar kamu," ancam Renata kesal karena harus ke kampus menggunakan jasa ojol.
__ADS_1
Ricky lupa menghubungi Renata kalau dia tidak bisa mengantar jemput ke kampus. Saking asiknya mengutak-atik mesin dan body motor, Ricky sering lupa waktu. Hingga matahari mulai kembali ke peraduan, laki-laki itu baru tersadar.
"Astaga ... kenapa aku bisa kelupaan sih? Pasti deh ngamuk lagi, hadeehh!" gumam Ricky sambil menepuk dahinya sendiri.
Ada rasa was-was di hatinya, padahal baru saja berbaikan kenapa harus melakukan kesalahan. Tadi malam dia sudah berjanji akan mengantar jemput sang istri ke kampus. Namun dia malah lupa dan baru teringat ketika hari sudah berganti malam.
Ricky sengaja mandi di kamar mandi yang ada di bengkel setiap kali usai bekerja. Dia merasa risih jika tidak langsung mandi sehabis mengutak-atik mesin. Usai mandi dan berpakaian rapi, Ricky memutuskan pulang ke apartemen.
Dalam perjalanan, Ricky sengaja singgah untuk membeli makanan dan cemilan. Laki-laki itu kembali lupa menghubungi sang istri, padahal sebelum mandi tadi dia sudah berniat menghubungi istrinya.
Ricky memasuki unit apartemennya. Sungguh dia terkejut kala mendapati apartemen itu dalam keadaan gelap gulita. Ricky mulai menghidupkan semua lampu agar apartemen itu terang. Ricky juga sudah mengecek setiap ruangan, ternyata istrinya itu tidak ada di apartemen.
"Kemana dia? Sudah malam belum pulang," gumam Ricky gelisah.
Ricky pun langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri. Namun, sudah berulang kali melakukan panggilan tidak juga diangkat.
"Angkat dong. Ayo angkat teleponku!"
Ricky berjalan mondar-mandir, gelisah tak menentu.
"Apa dia marah ya? Aduuhhh, gimana ini? Mana dia kalau marah awet banget, susah bujukinnya," monolog Ricky dengan satu tangan di pinggang dan satu lagi menempelkan ponselnya di telinga.
"Aku cari kemana, sudah malam begini? Hufftt ... mana nggak kenal lagi sama teman-temannya."
Ricky pun menghempaskan tubuhnya ke sofa, menengadahkan kepalanya ke atas bersandar pada dinding sofa. Tiba-tiba saja senyum terbit di wajahnya.
"Aldi! Aku tanya Aldi saja, siapa tahu dia mengenal teman-teman Renata," ucap Ricky dengan wajah cerah.
Betapa bahagianya dia menemukan ide itu, padahal belum tentu juga Aldi mengenal teman-teman Renata. Tak terpikirkan oleh Ricky untuk bertanya apakah Renata di rumah mertuanya.
*
*
*
__ADS_1
Sambil menunggu KyRen up, mampir yuk ke karya temenku