Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 41


__ADS_3

Keadaan Rena di rumah sakit sudah mulai membaik setelah dirawat selama tiga hari. Hari ini dia sudah diijinkan pulang. Sehingga tante Soraya merasa tenang karena tidak harus meninggalkan Ricko bersama anak-anak kos.


"Semua sudah Tante bereskan, kamu kuat 'kan jalan sendiri sampai mobil?" ucap tante Soraya usai mengurus administrasi.


Barang bawaan sudah dibawa ke mobil tadi, hanya tinggal tas pakaian yang belum dibawa ke mobil oleh Soraya.


"Kuat, Tan. Rena sudah sehat kok. Tante tenang saja, ok!" sahut Rena dengan senyum mengembang, menenangkan tantenya.


"Baiklah, ayo kita pulang! Jalannya pelan saja, kita tinggal pulang tidak usah terburu-buru," nasehat tante Soraya.


Renata hanya mengacungkan jempolnya sambil berjalan meninggalkan ruangan itu. Mereka berjalan beriringan dengan tas di tangan Soraya. Mereka berjalan sambil bercanda menuju lobi rumah sakit.


Tanpa keduanya ketahui, ada sepasang mata yang menatap penuh kerinduan. Namun, tidak memliki nyali untuk mendekat. Orang itu pun mengikuti laju mobil yang dikendarai oleh Soraya.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai," ucap Soraya begitu mobil berhenti di halaman rumahnya, setelah beberapa menit menempuh perjalanan.


Soraya keluar dari mobil lalu mengitari mobil, hendak membukakan pintu untuk keponakannya. Ternyata Lola sudah membuka pintu dan sedang membantu Rena turun dari mobil. Tante Soraya pun akhirnya mengambil barang bawaan mereka di jok belakang.


Orang yang mengikuti Soraya dan Renata tadi berlalu begitu saja, setelah memastikan orang yang diawasi selamat sampai rumah. Dia cukup bahagia walau hanya melihat dari kejauhan orang yang telah mengisi penuh hatinya.


Beberapa hari kemudian ....


"Nggak! Gue nggak mau! Enak aja, lo yang borong makanan ini gue yang suruh habis!" teriak Jonathan kesal.


Bagaimana tidak kesal? Dia disuruh menghabiskan berbagai jajan pasar yang ada di meja. Ricky memborong jajan pasar yang dia jumpai di sepanjang jalan dari apartemen menuju bengkel.


Ada klepon, cenil, kue lumpur, kue talam, serabi dan berbagai makanan manis lainnya. Entah kenapa pagi ini, Ricky begitu kepengen makan makanan yang manis-manis. Namun, baru satu gigitan, dia sudah mual hendak muntah, sehingga meminta Jonathan untuk menghabiskan semuanya.


"Mampooss lo! Kemarin lo ngetawain gue yang harus makan bubur ayam pakai susu. Sekarang giliran lo kena aniaya tuh anak," ejek Aldi sembari tertawa mengejek.


"Ayolah, Jo! Please, gue pengen banget lihat lo makan ini semua," ucap Ricky dengan wajah memelas, jangan lupakan mata yang dibuat puppy eyes.


"Pfffttt ...." Aldi dan Wenny menahan tawa melihat raut wajah Jonathan yang sudah memerah karena kekenyangan.

__ADS_1


Sebelum kena juga, Aldi sudah berlalu pergi dari hadapan teman-temannya. Berbeda dengan Aldi, bumil itu malah kesenangan melihat suaminya disiksa oleh mantan kekasihnya.


"Beb, bantuin makan napa? Masak tega lihat aku disiksa sama mantan kamu," pinta Jonathan memelas, begitu Ricky naik ke lantai dua menuju ruangannya.


"Sorry, By! Aku enek kalau makan makanan yang manis kek gitu. Kamu tau sendiri 'kan? Sejak hamil aku cuma bisa makan makanan peda," sahut Wenny.


Ya, selama kehamilannya ini Wenny sangat menyukai makanan pedas. Bahkan suaminya pun pernah sakit perut gegara menuruti kemauannya. Jonathan disuruh menghabiskan semangkuk bakso dengan lima sendok makan sambel dan masih dicampur soas tanpa kecap.


"Ck, kamu tega banget sih, Beb! Padahal aku selalu menuruti semua kemauanmu," omel Jonathan, seraya bersandar pada di dinding sofa.


"Ehh, cepetan dihabisin! Kalau lo nggak mau makan jangan pernah lagi temuin gue," ancam Ricky yang tiba-tiba datang lagi dari lantai atas.


"Rick, lo kek orang ngidam aja. Apa jangan-jangan bini lo bunting?" tebak Jonathan.


Suami mantan kekasih Ricky curiga dengan tingkah aneh Ricky beberapa hari ini. Selalu ada saja tingkah anak itu. Sebelum membeli bubur ayam disiram susu kental manis, dia memborong rujak yang kebetulan lewat di depan bengkel.


Rujak itu hanya dicicipi dua potong saja, setelah itu semua yang disana disuruh menghabiskan tanpa sisa. Kalau bumbu rujak itu seperti biasa tak masalah bagi mereka. Bukan bumbu kacang yang disiram ke atas buah itu, melainkan saos pedas.


"Mana ada cowok ngidam! Lo siang-siang udah ngigau, Jo," bantah Ricky sambil berlalu meninggalkan bengkel.


"Aman! Sudah pergi si biang onar," ucap Jonathan lega.


Jonathan langsung membawa keluar jajanan itu, dia panggil beberapa orang di sekitar bengkel, untuk diajak makan jajanan itu bersama-sama. Setelah habis, Jonathan kembali lagi ke dalam.


"Beb, kamu curiga nggak sama tingkah Ricky beberapa hari ini?" tanya Jonathan ketika sudah berada di kubikel ruangan istrinya.


"Aneh aja menurut aku, By."


"Kelakuannya kek kamu pas awal kehamilan. Semua pengen tapi cuma dirasai aja. Iya, nggak?"


"Eh, aku makan ya, By! Enak saja ngatain cuma aku cicipi. Mana ada itu!"


Jonathan melengos mendengar jawaban dari Wenny. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, begitu mengingat kelakuan random istrinya.

__ADS_1


Ingatkan Jonathan, jika perempuan hamil itu selalu benar dan tak terbantahkan. Sudah berulang kali itu terjadi padanya. Apa yang dikatakan sang istri itu selalu benar, dia selalu salah.


Sementara itu, Renata yang sudah mulai sehat memutuskan untuk masuk kuliah. Sudah seminggu dia tidak mengikuti makul. Dia mengendarai motornya pelan menuju kampus, berboncengan dengan Lola.


"Ren, lo beneran sudah enakan? Gue takut lo pingsan lagi," ujar Lola khawatir karena wajah Renata masih tampak pucat.


"Lo tenang aja! Gue udah sehat, malah sekarang gue bawaannya laper mulu," jawab Rena dengan sangat yakin, senyum tipis terukir di bibir tipisnya.


"Ok deh! Nanti kalau lo merasa puyeng atau mual atau kurang nyaman gitu, lo bilang langsung ke gue ya. Awas kalau enggak!" ucap Lola disertai ancaman, dia sudah mendapat mandat dari kanjeng mami untuk menjaga Rena.


"Iya, iyaa! Bawel!" sahut Rena kesal.


Sejak sakit kemarin, tante Soraya menjadi over protective padanya. Semua kegiatan yang dilakukan dilarang oleh sang tante. Selalu diawasi dan dilarang membuat Rena kesal.


Rena tiba-tiba merindukan suaminya ketika mereka telah sampai di area parkir. Tidak biasanya dia ingin memeluk laki-laki yang tidak peka itu. Saking rindunya tidak terasa air mata Rena menetes.


Lola yang sedang membetulkan jepitan rambutnya itu terkejut mendapati temannya menangis.


"Lo kenapa, Ren? Apa lo yang sakit? Ayo ngomong, Ren!" cecar Lola kebingungan.


Renata langsung memeluk Lola erat sembari terisak. Dia ingin dipeluk Ricky saat ini, tetapi lelak itu tidak ada di dekatnya.


"Kalau lo nggak mau ngomong, gimana gue tahu apa mau lo!" bentak Lola yang sontak saja membuat Rena meraung bak anak kecil yang tidak diberi jajan.


*


*


*


Maaf baru bisa up, semoga besok bisa up banyak.


Sambil menunggu KyRen up, mampir yuk ke karya temenku!

__ADS_1



__ADS_2