
"Apa? Mau lihat burung Sandy? Tidak, yang benar saja kamu, Ren!" teriak Ricky seakan tidak percaya dengan keinginan sang istri barusan.
"Iya, bener. Burung A' Sandy bagus banget, Mas," ucap Rena dengan polosnya.
"Jangan panggil dia Aa' lagi! Aku tidak suka. Dengar itu!" Ricky sangat marah setiap kali Rena memanggil Sandy dengan sebutan Aa'.
"Kenapa kau lebih suka punya Sandy daripada punyaku? Berarti punyaku bukan yang pertama merasakan lubangmu?" cerca Ricky ambigu.
"Hah?" Rena bingung dengan kata-kata yang diucapkan oleh suaminya itu.
"Kamu tega, Ren! Padahal aku suami kamu, kenapa dia yang burung dia yang pertama masuk ke sangkarmu," oceh Ricky penuh kekecewaan.
"Mas Ricky ngomong apaan sih?" tanya Rena kesal.
"Siapa yang pertama menyentuh kamu, Ren? Aku atau dia? Jawab, Ren!" desak Ricky dengan pandangan mata menggelap penuh emosi.
"Sudah jelas kamu yang mengambil kehormatanku malam itu, masih pakai tanya siapa lagi! Heh, apa Mas nggak ingat kalau Mas telah mengambilnya dengan paksa?" sarkas Rena dengan napas memburu.
Melihat ekspresi wajah sang suami dan mendengar kata-katanya yang terlontar tadi, Rena mengambil kesimpulan jika terjadi salah paham di antara mereka berdua. Terjadi keributan yang tak terelakkan lagi karena salah paham tadi.
"Aku pernah diajak ke rumah orang tua Sandy. Di rumah itu banyak sekali burung yang dilindungi. Sekarang tiba-tiba saja aku ingin melihat burung-burung itu. Berhubung kamu tidak mau antar, lebih baik kita pulang saja," ucap Rena lirih pada akhirnya, setelah lelah berdebat dengan sang suami.
"Hah?" Ricky terkesiap mendengar ucapan sang istri. Ternyata dia salah paham dengan ucapan Rena. Rena ingin melihat koleksi peliharaan Sandy, sedangkan Ricky berpikir kotor.
"Maaf, Sayang. Aku tidak tahu kalau kamu suka sekali mendengar suara burung berkicau. Nanti kita beli, ya. Tapi ditaruh di rumah Papa Gun aja, bagaimana?" bujuk Ricky karena sejak tadi Rena cemberut terus.
Dulu, saat masih memakai seragam putih biru, Ricky sering main ke rumah Sandy. Namun, mereka harus bermusuhan kala mengenal rasa cinta. Hanya karena wanita yang dicintai lebih memilih sahabatnya, Sandy memutuskan persahabatan yang sudah terjalin selama tiga tahun.
Mobil yang dikendarai oleh Ricky berbelok ke perumahan elit. Tidak mudah untuk masuk ke perumahan itu. Para tamu harus meninggalkan kartu identitas di pos satpam, begitu juga dengan Ricky.
Setelah melewati beberapa blok, akhirnya keduanya sampai juga di depan bangunan mewah. Rumah itu berpagar setinggi dua meter, ada seorang penjaga di pintu pagar.
"Benar 'kan ini rumahnya?" tanya Ricky pada Rena.
"Keknya sih, iya. Aku cuma dua kali ke sini, itu pun saat awal pacaran. Sebelum dia kuliah di Bandung," jawab Rena ragu. Dia sudah lupa dimana tepatnya rumah orang tua Sandy.
Dari pada hanya menerka-nerka saja akhirnya Ricky turun dan bertanya pada penjaga yang berdiri di depan pintu pagar.
__ADS_1
"Siang, Pak," sapa Ricky seraya menganggukkan kepala.
"Siang," sahut si penjaga dengan mata menatap lekat pada Ricky.
"Maaf, saya mau tanya kediaman Sandyaga Pratama di sebelah mana ya, Pak?" tanya Ricky jujur.
"Mas ini siapanya Tuan Muda Sandy?"
"Saya teman semasa SMP dia, Pak."
"Oh, Mas ini cari Tuan Muda Sandy. Silakan masuk, Mas. Kebetulan Tuan Muda baru saja masuk," ucap si penjaga sembari membuka pintu pagar.
Ricky merasa heran karena langsung dipersilakan masuk. Dia berpikir jika akan dipersulit untuk masuk ke rumah mewah itu. Tanpa Ricky tahu, jika satpam penjaga gerbang perumahan sudah melaporkan pada penjaga rumah itu.
Penjaga rumah Sandy pun langsung menghubungi sang majikan. Alasan sedang mengidam ingin melihat hewan peliharaan Tuan Dika Pratama, ayah Sandy, membuat Ricky dan Rena bisa masuk dengan mudah.
Ricky pun mengendarai mobilnya memasuki halaman rumah. Setelah memastikan keadaan mobil aman, Ricky dan Rena turun dari mobil.
"Mari, saya antar Mas," ucap penjaga tadi seusai mengunci pintu pagar.
Ricky dan Rena mengikuti penjaga tadi memasuki rumah yang mewah damn megah. Begitu masuk mereka disambut oleh dua orang maid. Mereka diarahkan ke sebuah ruangan yan terletak di samping kanan.
"Positif thinking aja, Mas. Siapa tahu pemilik rumah orangnya ramah dan baik," sahut Rena juga dengan bisikan.
"Iya, Sayang. Semoga pemilik rumah ini baik. Aamiin."
"Aamiin." Pasangan itu mengaamiinkan secara bersamaan.
Saat mereka memasuki ruangan tersebut, mereka disambut oleh wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan segar.
"Ohoo, tamunya sudah datang rupanya. Aku dengar katanya kamu lagi ngidam pengen lihat koleksi burung di rumah ini. Apa betul begitu?" ucap perempuan itu dengan senyum ramah sambil mendekati Rena.
"I-iya, Nyonya," jawab Rena terbata.
"Sudah berapa bulan, hmm?"
"Baru lima Minggu, Nyonya."
__ADS_1
"Jangan panggil saya Nyonya, panggil Tante saja!"
"B-baik, Ny- Tante," jawab Rena kikuk
"Ayo, saya antarkan ke taman belakang. Mereka dikandangkan di taman belakang," ajak Nyonya Zoya, sang tuan rumah.
Mereka berjalan beriringan menuju taman belakang yang letaknya ternyata cukup jauh. Rumah itu sangat besar dan memiliki halaman yang sangat luas.
Renata merasa senang bisa bermain dengan beberapa burung di taman itu. Tidak hanya itu, ternyata Nyonya Zoya juga memiliki penangkaran kupu-kupu di halaman itu. Renata semakin betah bermain di halaman.
Dua jam kemudian, tampak seorang laki-laki seusia Ricky datang mendekati mereka tanpa ada yang menyadari.
"Ekhemm ...."
Renata yang sedang tertawa bersama suaminya pun menoleh ke arah suara orang berdehem tadi. Keduanya menghentikan tawa ketika melihat siapa yang datang.
"A ... hai A', maaf kami bikin rusuh di sini," ucap Renata yang pertama kali bisa menguasai diri. Sedangkan Ricky membeku, mencoba menguasai emosinya.
"Dalam rangka apa, kalian datang ke sini? Kalau hanya untuk memanasi, kalian salah alamat. Di dunia ini masih banyak cewek sekseeh dan cantik," tanya Sandy penuh cibiran, kini giliran Rena yang mematung mendengar cibiran dari mantan kekasihnya.
"Kami kesini bukan untuk membuat keributan Tuan Muda, kami hanya ingin menyambung tali silaturahmi saja," sahut Ricky tidak kehilangan akal.
"Menyambung tali silaturahmi? Hahaha ... kalian sungguh lucu sekali! Sayangnya saya tidak percaya itu," ejek Sandy dengan gelak tawanya.
Rena menggenggam tangan Ricky erat, kemudian mere**snya dengan lembut. Agar emosi Ricky berkurang. Bagai mendapatkan kekuatan, Ricky langsung memasang wajah datarnya seperti biasa.
"Percaya atau tidak, itu adalah hak kamu. Kami tidak akan memaksakan kehendak agar orang lain merasa nyaman saat bersama."
Ricky memandang Rena, memberi kode bahwa sudah cukup mereka berada di kediaman Pratama.
"Sepertinya kami sudah terlalu lama berada di sini, Tuan. Kami pamit undur diri. Ayo, Sayang kita pulang!"
*
*
*
__ADS_1
Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temenku!