
Rena berjalan semakin mendekati bangunan di depannya. Rasa penasaran untuk melihat siapa orang itu, membuat langkah Rena lebih cepat dari biasanya. Sehingga dalam hitungan detik dia sudah berada tak jauh dari teras rumah itu.
Rena berdiri di balik pohon bunga bougenville yang rimbun. Tatapan matanya tajam memperhatikan dua sejoli yang sedang duduk di teras. Sayangnya lagi-lagi wajah lelaki itu tertutup oleh kepala si perempuan.
Rena menunggu beberapa menit untuk memastikan dugaannya, tetapi sepertinya nasib baik belum berpihak pada dia. Akhirnya Rena memutuskan untuk kembali ke vila yang ditempati, karena perutnya sudah minta diisi.
Usai membersihkan diri dan makan sarapan yang terlambat, Rena duduk termenung di depan televisi yang menyala. Bukan Rena yang menonton televisi tetapi televisi yang menonton Rena melamun.
Tiba-tiba Rena bangkit dan mematikan televisi. Dia teringat akan ancaman yang dilontarkan pada Ricky, saat malam dimana kehormatannya direnggut paksa. Dia akan mencari pengacara untuk mengurus perceraiannya.
Rena sudah membulatkan tekad untuk berpisah dengan Ricky. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka dari pada setiap hari harus adu mulut. Mengakhiri sekarang sebelum terlambat, sebelum hatinya tertambat pada laki-laki yang dingin dan tidak peka itu.
"Siang, Pak. Saya Renata, ingin konsultasi tentang rumah tangga," sapa Rena begitu suara panggilan tersambung.
" .... "
"Baik, Pak. Bisa! Sekarang juga saya akan menemui Bapak."
Rena keluar untuk menemui pengacara yang tadi dihubungi, menggunakan jasa ojek. Hanya ada ojek sebagai alat transportasi umum di desa itu. Sebenarnya dia sangat malas keluar dari desa itu, tetapi dia ingin segera menyelesaikan masalah pernikahannya.
Kebencian Rena pada Ricky sepertinya sudah tak bisa lagi dibendung. Oleh karena itu, dia ingin segera mengakhiri drama rumah tangganya. Rumah tangga yang dibangun tanpa cinta yang hanya akan saling melukai jika diteruskan.
Satu jam kemudian, Renata bertemu dengan pengacara yang akan membantunya mengurus perceraian mereka. Dengan dalih tidak ada kecocokan dan kekerasan dalam rumah tangga.
Pertemuan Rena dan pengacara itu tidak lama karena hanya membahas alasan inti kenapa ingin berpisah. Selain itu, Rena menceritakan juga jika pernikahan itu tanpa adanya cinta sama sekali.
"Terima kasih, Bu. Sudah percaya dengan kami untuk membantu memproses berkas ini. Saya usahakan sidang berjalan tidak alot," ucap sang pengacara sebelum meninggalkan tempat itu.
"Sama-sama, Pak. Seharusnya saya yang berterima kasih, karena Bapak bersedia menjadi membantu saya," sahut Renata dengan senyum manisnya.
"Itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya, Bu Rena," ucap pengacara itu lagi merendah, lalu meneruskan ucapannya "Kalau begitu, saya duluan, Bu Rena. Masih ada beberapa klien yang harus saya temui."
__ADS_1
"Oh, iya Pak. Silakan!" seru Rena.
Pengacara itu pun akhirnya pergi, kini tinggal Rena yang masih duduk manis di kafe tersebut.
Sementara itu, Ricky masih terus mencari keberadaan sang istri tanpa minta bantuan teman atau pun keluarganya. Dia tidak mungkin meminta bantuan mereka lagi. Dia mencari Rena di sela aktivitasnya di bengkel.
Ricky sangat merasa bersalah dengan kepergian Rena dari unit apartemen. Dia sama sekali tidak bermaksud untuk menyakiti atau melecehkan Renata. Semua dilakukan diluar batas kendalinya.
"Ck, bagaimana nanti kalau papa tiba-tiba telepon dan menanyakan keberadaan anaknya? Gue harus bilang apa?" gumam Ricky sambil berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya.
"Lo cari alasan apa kek, yang nggak bikin mertua Lo curiga!" usul Jonathan yang langsung mendapat lemparan kulit kacang di wajah mulusnya.
"Nggak gitu juga, konsepnya Bambank! Kita harus menemukan dimana Rena, secepatnya!
"Kita mesti cari kemana lagi? Jangan bilang Lo mau menyewa detektif buat cari bini Lo!" teriak Jonathan, pikirannya melantur kemana-mana.
"Lo habis nonton film apa habis baca komik?" ejek Aldi sembari menahan tawa.
"Lo yakin tante Soraya nggak akan marah sama Lo, terus semakin nyalahin Lo?"
"Nggak yakin sih, tapi nggak ada salahnya 'kan dicoba? Mungkin tante Soraya bisa bantu gue. Syukur-syukur bisa nyatuin gue sama Renata," jawab Ricky dengan wajah serius.
"Gue sih dukung aja setiap keputusan yang Lo ambil. Semoga berhasil atas semua usaha yang Lo jalani selama ini," ucap Aldi seraya menepuk bahu Ricky pelan.
"Gue nggak bisa bantu apa-apa, Bro! Mau bantu do'a juga nggak mungkin. Sebelum gue minta pasti sudah ditanya sama malaikat yang macam-macam. Gue yakin pasti do'a gue gak bakalan diijabah," ujar Jonathan dengan wajah dibuat sangat memelas.
"Lo cowok, tapi kalau disuruh akting aja juara!"
"Lah, kok dibilang akting sih? Padahal gue sudah pasang wajah serius juga," protes Jonathan. "Gue ngomong apa adanya."
Saat kedua temannya berdebat, Ricky beranjak dari duduknya. Keluar dari ruangan menuju bengkel lalu ke showroom. Dia mengecek pekerjaan para montirnya sebelum meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Ya, Ricky memutuskan untuk menemui wanita yang telah merawat dan mengasuh istrinya tersebut. Tante Sora menyambut bahagia kedatangan Ricky di kediaman Gunadi. Pemilik sekaligus pengelola kos-kosan itu mengajak Ricky duduk di pendopo.
"Tumben ke sini? Ada perlu apa? Tidak biasanya main ke sini," berondong tante Soraya tidak sabar.
"Ricky mencari Rena, Tan. Dia kabur dari apartemen sejak dua Minggu yang lalu," adu Ricky dengan wajah menunduk.
"Ceritakan! Ceritakan kenapa dia bisa kabur selama itu," perintah tante Soraya dengan wajah datar.
Ricky pun mulai menceritakan kejadian setelah mereka pulang dari bandara. Semuanya Ricky ceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi. Untuk menghindari adanya masalah suatu hari nanti.
Tante Sora mengangguk mendengar penjelasan dari menantunya itu. Sekarang dia merasa kasihan pada kedua pasangan muda ini. Melihat sikap Rena yang keras kepala serta melihat cara Ricky menyikapi tingkah Rena, membuat Soraya ingin tertawa dan menangis bersamaan.
Tante Sora lalu menelepon sang keponakan untuk mengetahui dimana keberadaannya saat ini.
"Kek gini nih kalau nikah muda. Ada masalah ngambek terus kabur, memangnya dengan kabur bisa menyelesaikan masalah?" ucap tante Soraya begitu sambungan telepon terhubung. Dia meloadspeaker ponselnya.
Ya, setelah mendengar cerita dari Ricky, tante Soraya langsung menghubungi sang keponakan. Dalam deringan ketiga panggilan itu langsung terhubung.
"Apaan sih, Mami Ricko? Ngomong nggak jelas," suara gerutu Rena dari saluran panggilan.
"Ehh! Siapa yang ngomong nggak jelas? Sekarang juga kamu pulang! Awas kalau dalam waktu lima jam belum sampai rumah!" teriak tante Soraya yang langsung membuat nyali Renata menciut.
"Iya, iya! Rena pulang. Besok pagi sudah sampai rumah," jawab Renata mengerucutkan bibirnya walaupun tidak terlihat oleh sang tante.
Tante Sora mematikan saluran teleponnya. Kemudian menatap Ricky.
"Sudah, kamu tunggu aja di kamar! Kenapa tidak bilang dari kemarin kalau dia buat ulah?" ujar tante Soraya.
"Segan dan malu, Tan. Masalah begitu saja tidak bisa diselesaikan sendiri," jawab Ricky merasa sangat berterima kasih pada adik mertuanya itu.
"Terima kasih, Tan. Ricky ke kamar dulu."
__ADS_1