Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 30


__ADS_3

Seharian ini pasangan halal itu hanya rebahan saja di kamar, terutama Rena karena intinya masih sangat sakit sehingga susah berjalan.


"Sayang, bangun yuk. Sudah mau Maghrib nih," ucap Ricky sambil mengusap pipi sang istri.


Sepertinya Rena sangat lelah, sehingga sentuhan lembut tangan Ricky tidak mengusik tidurnya. Sudah berulang kali Ricky berusaha membangunkan Rena, tetapi tidak ada pergerakan diperlihatkan oleh Renata. Perempuan itu masih betah berlayar mengarungi dunia mimpi.


Akhirnya Ricky mencium bibir Renata yang tampak menggoda. Pada awalnya hanya sekedar mengecup, lalu menyesap, dan berakhir mel*mat hingga terdengar leng*han dari mulut Renata.


"Engnghhh .... "


Mendengar suara indah itu, semakin membuat Ricky berga*rah. Tangannya pun tak tinggal diam, menyentuh setiap jengkal tubuh sang istri. Hal itu, membuat Renta terbangun dan reflek menendang perut Ricky sekuat tenaga.


"Adoohhhh, Yank kamu tega banget sama aku!" ucap Ricky memelas seraya mengusap bo*ongnya yang sakit karena mendarat di atas lantai marmer.


Renata meringis mendengar suara benda jatuh dan suara memelas suaminya. Berarti dia tadi salah duga. Dia berpikir yang menggerayanginya adalah penyusup, ternyata sang suami.


"Mas Ricky ngapain duduk di lantai?" tanya Renata tanpa merasa bersalah.


"Kok tanya ngapain sih? Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu tendang aku? Mana tenaga kek samsonwati lagi," gerutu Ricky ngedumel kesal.


"Hah? Aku kira tadi pencuri yang mau memperk*sa aku. Maaf .... "


Rena menunduk karena merasa bersalah. Dia tadi hanya reflek, seingatnya dia belum memakai baju. Ternyata dia sudah berpakaian lengkap.


"Untung perut yang kena tendangan, sempat si Alif yang kena, puasa kamu, Yank," sahut Ricky sambil bangun kemudian duduk di pinggiran ranjang.


Rena meringis mendengar keluhan sang suami. Membenarkan apa yang diucapkan oleh suaminya itu. Jika hartanya yang kena, sudah dipastikan tidak akan bisa menjenguk goanya lagi.


"Mm, Rena mandi dulu ya," ucap Rena sembari bangun. Namun, saat akan berjalan intinya terasa ada yang mengganjal dan sakit.


"Ssttt .... " ringis Rena menahan sakit pada intinya.


Melihat sang istri yang meringis kesakitan l, dengan sigap Ricky langsung membopong Rena menuju kamar mandi.


"Mas, turunkan! Aku bisa sendiri," protes Rena meminta turun. Rena takut kejadian tadi pagi terulang kembali.


"Tenang saja, aku hanya ingin membantu kamu saja. Janji, hanya membantu ke kamar mandi. Tidak lebih," janji Ricky menenangkan Rena.

__ADS_1


Akhirnya Rena diam tanpa banyak perlawanan. Badannya sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan sang suami.


Ricky benar-benar menepati janjinya. Dia hanya membantu menggosok punggung Rena. Ricky kembali mengangkat Rena ketika selesai mandi.


Esok hari ....


Rena bangun kesiangan, untung saja kuliahnya jam sembilan. Sehingga masih terburu untuk mandi dan berkemas. Ricky pun sama, terbangun saat merasakan pergerakan di sebelahnya.


Keduanya memilih sarapan sandwich yang dimakan selama perjalanan ke kampus. Rena dengan telaten menyuapi Ricky yang sedang menyetir mobil. Mereka selesai sarapan ketika memasuki area kampus.


Ricky berlari keluar untuk membukakan pintu Renata. Tak lupa tangannya diletakkan di atas kepala Rena, agar tidak terantuk dengan atap mobil. Sederhana memang, tetapi sangat berarti


"Kuliah dulu, Mas," pamit Renata sembari mencium punggung tangan Ricky, kemudian meninggalkan Ricky di area parkir.


"Hati-hati, Sayang," teriak Ricky begitu Rena berlalu.


Ricky pun langsung bergegas ke bengkel karena masih ada beberapa motor yang harus dikerjakannya. Begitu banyaknya pesanan modifikasi motor, membuat dia sangat sibuk akhir-akhir ini.


"Bos, ada undangan seminar dan workshop nih," ucap Wenny seraya menyerahkan amplop pada Ricky.


Ya, Wenny magang di bengkel Ricky. Wanita cantik berusia 21 tahun itu sudah memasuki semester 6. Dia memilih magang di bengkel Ricky karena arahan dari sang suami, Jonathan.


Walaupun Jonathan termasuk mahasiswa abadi, tetapi cara berpikir dia cukup smart. Dia jarang lulus mata kuliah yang diambilnya karena malas kuliah dan sering melawan pada dosen. Jadi, wajar jika banyak makul yang tidak lulus.


"Bulan depan di Bali. Bisa honeymoon sekalian, nih," gumam Ricky dengan wajah berbinar bahagia, setelah membaca isi surat undangan tadi.


"Duh yang mau honeymoon ke sekian kalinya," sindir Wenny.


"Pengantin baru sirik aja bawaannya. Padahal gue kerja sekalian honeymoon. Kalau pengen honeymoon, lo tinggal bilang ke ayang Jo pasti diturutin," sahut Ricky, membalas sindiran Wenny tadi.


"Sirik? Nggak lah ya, Ayang Jonathan masih bisa bawa aku honeymoon kapan saja. Mau ke Bali, Raja Ampat, bahkan ke Maldives pun sanggup," jawab Wenny dengan sombongnya.


"Iya, percaya gue. Percaya! Secara laki lo ahli waris tunggal Garuda Corp. Hartanya nggak bakalan habis tujuh tanjakan dan turunan," balas Ricky mengiyakan karena malas berdebat dengan bumil yang selalu merasa benar.


"Kalian debat apaan sih? Heboh banget, sampai suaranya terdengar di depan," tanya Jonathan yang tiba-tiba sudah muncul di depan Ricky.


"Bini Lo mau honeymoon ke Maldives, turutin sana!"

__ADS_1


"Bukan honeymoon, Bege! Babymoon namanya, honeymoon sudah sering. Babymoon yang belum, nanti setelah empat bulan," jelas Jonathan.


"Terserah kalianlah! Mau honeymoon mau babymoon, bodo amat. Bukan urusan gue," ucap Ricky sebelum meniggalkan pengantin baru itu.


"Mau kemana Lo, Bro?"


"Jemput bini, biar ada yang manjain!" jawab Ricky tanpa menoleh apalagi sekedar berhenti.


Sepuluh menit kemudian Ricky sudah berada di area parkir kampus, menunggu kekasih halalnya pulang kuliah. Belum habis rokok yang dihisapnya, sang istri sudah datang menghampiri.


"Rokok lagi! Bisa nggak sih kamu nggak merokok di sekitarku?" amuk Renata saat mendapati sang suami duduk manis di belakang kemudi sambil merokok.


Walaupun pintu mobil terbuka, asap rokok itu akan tertinggal di dalam mobil. Renata tidak suka dengan yang berbau rokok, sekalipun itu hanya vape Rena tetap tidak mau terkena asapnya.


Ricky langsung membuang puntung rokoknya dan memijak dengan sepatunya agar mati bara apinya.


"Sudah aku buang, Yank. Jangan marah lagi, please!" rayu Ricky dengan wajah memelas minta dikasihani.


Renata tidak menjawab, dia malah membuka semua pintu mobil, lalu menyemprotnya dengan pengharum ruangan untuk menghilangkan bau rokok di mobil.


"Udah, Yank! Sudah hilang kok bau rokoknya, lagian sudah habis juga pengharum ruangannya," bujuk Ricky agar Rena berhenti menyemprotkan pengharum tersebut.


"Belum! Aku masih cium bau tembakau di sini," bantah Renata kesal.


Ricky menghirup oksigen sepenuh dada lalu membuangnya kasar. Mood istrinya memang ajaib, bak roller coaster yang memacu adrenalin.


"Honeymoon ke Bali yuk, Yang," ajak Ricky tiba-tiba agar amarah sang istri mereda.


"Hah! Beneran, Mas?"


*


*


*


Sambil menunggu KyRen up, mampir juga ke karya temenku yuk🤗

__ADS_1



__ADS_2