Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 38


__ADS_3

Hari ini Ricky sudah ada janji dengan Bimo untuk menemui Soraya. Mereka sengaja memilih tempat umum dengan reservasi khusus. Bimo sengaja memesan ruangan VIP untuk beberapa jam.


"Selamat siang, Ibu. Ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang pelayan restoran pada Soraya. Pelayan itu mendekati Soraya karena melihat Soraya celingukan seperti mencari seseorang.


"Mm, saya Soraya ingin bertemu dengan pelanggan dengan nama Bimo Baskoro," sahut Soraya, dalam hati berharap lelaki itu memesan meja untuk mereka.


"Oh, Tuan Bimo Baskoro sudah menunggu Ibu di dalam. Silakan Ibu ikuti saya!" jawab pelayan restoran tersebut seraya berjalan ke arah dalam, diikuti oleh Soraya di belakangnya.


Pelayan itu mengetuk pintu, lalu mendorong pintu itu hingga terbuka. Soraya pun segera masuk ke ruangan itu.


"Maaf saya terlambat, pasti kalian sudah menunggu saya lama," ucap Soraya setelah mengucap salam pada kedua lelaki di depannya.


"Tidak masalah ...."


"Panggil saja Soraya, usia Anda sepertinya lebih tua dibanding dengan saya ..." Soraya menangkupkan kedua tangannya di dada. " Maaf jika saya salah," ucap Soraya merasa tidak enak hati.


"Baiklah, Soraya. Panggil saya Bimo saja, walaupun usia saya lebih tua, kita ini sepantaran lho," sahut Bimo dengan senyuman terbaiknya. Dia menyisipkan kata-kata ringan untuk mencairkan suasana agar tidak canggung.


"Oh, ok! As you wish," jawab Soraya tersenyum manis.


Dada Bimo tiba-tiba saja berdebar melihat senyum Soraya. Jantungnya serasa melompat melihat senyum manis calon janda anyaran itu. Bimo pun menjadi salah tingkah seperti anak remaja jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Kita pesan makanan saja dahulu, habis itu kita bahas masalah inti usai makan." usul Ricky menginterupsi.


"Usul yang bagus!" Bimo menyahut lalu mengambil sebuah telepon meminta seorang waiters datang mencatat pesanan mereka.


Mereka bertiga pun menyebutkan makanan dan minuman yang hendak mereka makan nanti. Mereka menunggu pesanan datang dengan saling bertukar kabar.


"Sepertinya anak muda kita ini sedang sibuk, sampai-sampai istri tidak pulang pun tidak dicari," sindir Soraya.


"Kalau ada waktu luang datanglah ke rumah, kasihan anak itu sakit tidak ada yang mengurusi," imbuh Soraya lagi hingga membuat Ricky merasa bersalah.

__ADS_1


"Sakit apa dia, Tan?" tanya Ricky singkat tanpa basa-basi.


"Entahlah, sudah Tante bujuk sejak kemarin. Tetap tidak mau periksa ke dokter" adu Soraya.


Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Mereka bertiga makan dengan hikmad tanpa alunan suara apapun. Sampai akhirnya, setengah jam kemudian mereka menyudahi acara makan siang itu.


"Tante, sebenarnya kami mengundang Tante ke sini ada maksud tertentu. Kami ingin menanyakan hubungan Tante dengan papa ...." Ucapan Ricky menggantung karena Soraya hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


"Lanjutkan, Rick! Tante akan menjawab semua pertanyaan kamu. Tidak ada yang harus ditutupi, toh kami memang sudah berakhir menurut agama," ucap Soraya setelah Ricky terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.


"Sudah berakhir, maksudnya?"


"Mas Awan sudah menjatuhkan talak tiga padaku, hanya saja perceraian kami masih dalam proses di pengadilan," jelas Soraya dengan senyumannya, sehingga menambah kesan anggun padanya.


"Tante, apa boleh Ricky tahu bagaimana pertemuan Tante dengan papa?" tanya Ricky sedikit sungkan.


"Tentu saja, aku akan menceritakan semuanya secara singkat. Soalnya aku ada janji dengan ibu-ibu kompleks jam tiga sore. Bagaimana?"


Malam itu, aku baru saja pulang dari masjid. Seperti biasa, aku setiap Kamis malam ada acara pengajian muda mudi. Aku pulang bersama temanku sekitar jam sembilan.


Dalam perjalanan pulang, kami melihat ada sebuah mobil yang menabrak pohon besar di pinggir jalan. Kap mobil dalam keadaan berasap. Aku dan temanku berlari mendekati mobil tersebut.


Kami melihat ada seorang laki-laki yang tidak sadarkan diri di balik kemudi. Temanku berteriak mencari pertolongan. Sedangkan aku berusaha membuka pintu mobil itu, untuk mengeluarkan orang tersebut.


Aku berhasil membuka pintu itu dan menarik keluar laki-laki itu. Penumpang itu ternyata seorang laki-laki berumur tiga puluhan. Dia sudah tidak sadarkan diri, denyut jantungnya pun sudah lemah


Tak berapa lama, warga berdatangan untuk membantu memanggil ambulan. Akan tetapi sebelum ambulan datang, mobil itu sudah terbakar. Warga pun berusaha memadamkan api tersebut tetapi gagal.


Korban kecelakaan itu pun dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan segera. Kepalanya terbentur pada stir mobil dengan sangat keras, sehingga mengakibatkan terjadinya gegar otak ringan. Dia tidak sadarkan diri hingga beberapa hari.


Aku yang menemani dia selama di rumah sakit. Dia divonis amnesia traumatis sementara. Hal ini dikarenakan benturan yang terjadi pada kepalanya.

__ADS_1


Dua Minggu dirawat di rumah sakit, laki-laki itu sudah diijinkan pulang. Berhubung dompet dan handphone miliknya tertinggal di dalam mobil, saat aku menariknya keluar. Kami tidak bisa tahu dimana alamatnya, jadi kami bawa pulang ke rumah.


Kami sudah menelusuri dari plat mobil, ternyata dia bukan pemilik mobil itu. Pemilik aslinya datang dan meminta ganti rugi. Coba kalian bayangkan, kami harus kembali mengeluarkan uang untuk ganti rugi mobil itu!


Kami marah lalu mengusirnya? Tidak. Kami menolong dengan ikhlas, tak mengharap imbalan apapun.


Laki-laki itu tiba-tiba mengaku ingat bernama Kurniawan, dan kami sepakat memanggilnya Awan. Sayangnya, ingatan dia tidak semua pulih dalam waktu bersamaan.


Aku menemani kemana dia pergi untuk memulihkan ingatannya. Waktu itu aku masih kuliah, terpaksa harus mengorbankan kuliahku. Dalam hatiku, aku hanya sebatas menolong, tidak lebih.


Seorang laki-laki yang hendak melamarku pun urung karena aku dekat dengan mas Awan. Dia merasa cemburu karena aku menolong orang yang tidak aku kenal sama sekali.


Kejadian itulah yang membuat mas Awan menikahi aku beberapa bulan kemudian. Aku menolaknya dengan alasan dia belum bisa ingat semuanya. Namun, saat dia pulang kerja, dia mengatakan sudah mengingat dimana rumahnya.


Dia mengenalkan aku dengan seorang wanita tua yang dipanggil bibi. Wanita itu mengaku sebagai adik dari ayah mas Awan. Dia bercerita tentang mas Awan yang menikah karena dijodohkan, dan saat ini menduda.


Betapa bodohnya aku, aku mengiyakan saja cerita itu. Aku tidak pernah berprasangka buruk pada siapa pun. Apa pun cerita mereka aku percaya.


Akhirnya kami menikah, dalam pernikahan kami dikaruniai seorang anak laki-laki. Enricko Kurniawan, sesuai dengan keinginan mas Awan. Kami cukup bahagia sampai suatu saat aku melihat mas Awan berjalan dengan seorang wanita.


Sejak saat itu aku mulai curiga, apalagi mas Awan sering pamit keluar kota beberapa hari. Aku mulai mengikuti diam-diam kemana dia pergi selama ini. Setelah beberapa bulan mengikuti mas Awan aku tahu, jika aku telah dibohongi.


Aku pikir aku istri pertama, ternyata aku hanya istri kedua. Miris sekali nasibku. Kalian boleh menertawakan kebodohanku.


*


*


*


Mampir yuk ke karya temenku yang dijamin seru banget.

__ADS_1



__ADS_2