
Rena sedang menyiapkan sarapan, hari ini dua mata kuliah yang diujikan. Rena sudah mempersiapkan dirinya matang-matang. Dari fisik sampai mental.
Semua bahan mata kuliah telah disusun sesuai jadwal ujian. Ricky pun ikut membantu Rena mengumpulkan buku sebagai referensi Rena belajar. Ricky benar-benar menjadi suami siaga bagi Rena.
Ricky semangat membantu Rena karena Rena sudah berjanji menyusul ke Bali setelah selesai ujiannya. Kebetulan jadwal ujian Rena tidak full dua Minggu. Tanggal 15 nanti adalah ujian terakhirnya.
Rena mengerjakan ujian dengan semangat membara. Apalagi dukungan Ricky begitu nyata, membantu menyiapkan semua keperluannya. Selain itu juga, hadiah dari Ricky menanti di Bali.
Ricky sudah berangkat sejak tanggal 11, dia meninggalkan Rena dengan wajah manyun. Ricky terpaksa meninggalkan Rena karena jadwal yang bertabrakan. Seandainya tidak berbarengan dengan jadwal ujian, sudah pasti Ricky membawanya ikut serta.
"Jangan manyun! Nanti aku gemes terus khilaf, bagaimana? Nggak lama kok pisahnya, tanggal 15 kita sudah bisa bertemu," ucap Ricky sebelum check in di bandara.
"Nggak loh! Cuma serasa ada yang hilang aja kalau kamu pergi. Nggak ada yang diajak berantem lagi," sahut Renata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hah? Jahat banget sih kamu, Yank! Masak suami kok diajak berantem terus, yang ada itu pasangan halal selalu disayang biar dapat pahala," protes Ricky pura-pura kecewa.
"Itu maunya kamu, Mas! Sayang-sayangan terus emang nggak bosen apa. Monoton, yang seru itu ada saat sayang-sayangan, terus ada saat berantem. Ribut-ribut kecil terus baikan gitu, pasti seru dan makin lengket," bantah Rena dengan sejuta alasannya.
Sebenarnya yang membuat mereka saling merindukan, adalah saat-saat keduanya berantem lalu baikan. Kalau berantem selalu saja ada yang dilakukan agar terjadi keributan yang berujung tawa. Pasangan muda itu, kini sudah bisa menerima dengan lapang apa yang sudah menjadi jalan hidup mereka.
Kini, Rena di apartemen sendiri. Sehingga dia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Terlebih dulu dia meminta izin pada sang suami, baru pulang setelah mendapat izin.
"Assalamu'alaikum ...Taan!" jerit Rena ketika memasuki kediaman sang papa.
"Macam di hutan saja kau! Teriak-teriak kek Tarzan," tegur Butet yang kamarnya pertama kali dapat begitu masuk.
"Eh, ada Butet. Tante Sora ada?" tanya Rena meringis.
"Mami Sora ada kok, tadi tampakku melintas di depan sini," jawab Butet.
"Ok, kalau begitu gue langsung masuk aja deh. Thanks ya!" ujar Rena berjalan meninggalkan Butet menuju kamarnya.
Rena tampak kesusahan membawa tas ranselnya. Tas itu berisi semua buku yang akan dipakai belajar selama ujian nanti. Padahal ujiannya hanya tinggal satu minggu.
__ADS_1
"Bawa apa kau, Mbak Kos? Kasihan kali aku tengok kau seret ransel itu," tanya Butet masih berdiri di tempat memperhatikan langkah kaki Renata.
"Boom!" jawab Renata singkat, padat, jelas.
Butet langsung melotot mendengar jawaban dari anak pemilik kos sekaligus ahli waris satu-satunya itu. Butet tentu saja terkejut, apalagi mengingat tingkah Rena selama ini, yang sering menghidupkan mercon di depan kamar anak kos.
Renata menoleh saat tak ada lagi suara di belakangnya.
"Nggak usah segitunya lagi! Lo itu kenapa? Kaget begitu ceritanya? Kek baru kenal gue aja!" ejek Renata kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Sepeninggal Renata, Butet langsung menggedor pintu kamar teman-temannya. Sehingga langsung terjadi keributan di kos-kosan itu.
"Lo ngapain sih, Tet! Kagak jelas banget, gedor pintu kek orang kesetanan begitu," tanya Lola kesal.
"Mulai sekarang kalian harus persiapkan jantung agar tetap sehat! Jangan sampai tiba-tiba terdengar kabar kalian mati gegara jantungan!"
"Lo itu ngomong sih? Nggak ngerti gue," bentak Nurul yang kamarnya bersebelahan dengan Lola.
Butet adalah penghuni lama di kos-kosan itu, jadi dia sedikit banyak tahu bagaimana jahilnya seorang Renata dulu.
"Lo jangan mengada-ada ya! Mana ada hidupkan mercon di depan kamar anak kos," bantah Susan yang kebetulan baru bergabung.
"Kau itu baru kemarin sore masuk sini, gabung sama kita. Jadi, kau nggak tahu bagaimana kelakuan Mbak Kos yang super ajaib itu!" ujar Butet dan diiyakan oleh beberapa anak kos lawas.
"Mbak Kos kita itu super jahil, sama kek Mas Kos tapi parah Mbak Kos .... "
"Lha iya tho, wong Mbak Kos itu gurunya, masternya. Jadi wajar kalau tingkahnya itu buat geleng kepala," potong Lastri tiba-tiba.
Gadis asli Solo itu yang baru pulang kerja, langsung nimbrung. Sejak tadi dia hanya menyimak saja, tetapi lama-lama bibirnya gatal pengen ikut nimbrung.
Renata yang tidak tahu digunjing, telinganya terasa panas dan berdengung. Dia juga tiba-tiba saja bersin tak berhenti. Perasaannya tidak enak, sehingga dia berniat keluar dari kamar.
Baru saja membuka pintu, terdengar sayup-sayup suara beberapa anak kos yang sedang ghibah tentang dirinya. Renata menahan diri untuk tidak keluar. Dia menyimak obrolan itu sambil geleng-geleng kepala. Lama-lama dia pun sudah tidak tahan, akhirnya dia keluar dan mendekati penghuni kosnya.
__ADS_1
"Sudah cukup belum acara ghibah di sore hari? Kalau belum, salah satu dari kalian beli cemilan sama minumannya sekalian," ucap Renata tiba2 sambil mendekat membuat mereka langsung diam tanpa sepatah kata.
"Kok semua diem? Tadi aja heboh sampai suaranya ke mana-mana. Kenapa sekarang diem semua?" bentak Renata.
Semua penghuni kos Mami Sora sudah tahu bagaimana anak pemilik kos tersebut. Namun, mereka tidak ada yang berani menyenggol atau pun membicarakan di belakang. Cukup diam tanpa ikut campur.
Sore ini, gegara si Butet yang mulutnya seperti kaleng rombeng, Renata menjadi bahan ghibahan mereka. Renata selama ini tidak menyangka jika penghuni kosnya suka mengghibah pemilik rumah.
"Apa saya begitu buruk di mata kalian, hah?" tanya Renata menahan amarahnya.
"Jawab! Kalian punya mulut dan telinga, bukan?" bentak Renata kesal.
"Ma-maaf, Mbak Kos. Kami salah, tidak seharusnya kami melakukan hal itu," ucap Lastri terbata.
"Cuma satu orang? Heloo yang lain kemana nih? Tak adakah yang merasa bersalah selain Lastri?" teriak Renata kesal.
"Ma-maafkan kami Mbak, kami salah," ucap Lola mewakili teman-temannya.
"Boleh tahu siapa yang pertama kali membicarakan masalah ini?"
Mereka semua saling tunjuk, berbicara tanpa suara sekali. Hal ini membuat Renata semakin murka. Perempuan yang pandai ilmu beladiri itu, akhirnya menunjuk salah satu di antara mereka.
"Baiklah, sekarang aku mau tunjuk kalian. Aku harap kalian bisa bertanggung jawab, yaitu menjawab pertanyaan secara ringkas, padat dan jelas tentunya
*
*
*.
Aku bawa rekomendasi karya temenku lagi nih, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejaknya.
__ADS_1