
Ricky berjalan cepat menuju lift. Dia baru saja dari mini market yang masih satu lingkup dengan bangunan apartemen miliknya. Namun, saat akan memasuki lift ada seorang perempuan menabraknya.
"Heh, punya mata itu dipakai!" bentak Ricky sembari mengambil kantong belanjaannya yang jatuh saat tertabrak perempuan tadi.
"Ma-maaf, saya tidak sengaja... Ric-Ricky!"
Ricky langsung menatap wajah perempuan itu. Ternyata dia teman sewaktu SMP yang pernah mengatakan cinta padanya, saat ada laki-laki yang menyatakan cinta pada perempuan itu.
Berawal dari kejadian itu, Ricky kehilangan teman dekat. Teman itu langsung mengibarkan bendera permusuhan karena salah paham. Tanpa dia tahu jika Ricky tidak pernah membalas perasaan si perempuan.
Perempuan itu adalah Stella, kini dia berada di hadapan Ricky lagi. Setelah beberapa waktu terakhir bertemu di apartemen Sandy. Saat itu dia sedang mencari tahu keberadaan Renata.
"Stella, kok Lo di sini?" sahut Ricky begitu tahu jika perempuan yang tadi menabraknya adalah teman lama.
"Gue mau ke tempat teman sewaktu kuliah. Kebetulan dia tinggal di sini. Lo juga tinggal di sini?" jelas Stella.
Ricky merasa ada yang aneh dengan temannya itu. Wajah sendu dan mata yang sedikit bengkak karena menangis, terlihat dengan jelas oleh Ricky.
"Yakin ke tempat teman Lo?" tanya Ricky penuh selidik.
"I-iya, tadi gue sudah menghubungi dia
Katanya satu jam lagi baru sampai di sini," jawab Stella kurang yakin.
"Lo lagi ada masalah? Cerita aja ke gue sapa tahu gue bisa bantu Lo. Oh iya, hampir saja lupa. Teman Lo ini, tinggal di lantai berapa?" tanya Ricky tanpa rem sama sekali.
__ADS_1
Stella terdiam antara mau cerita atau tidak. Ternyata teman semasa putih biru itu belum berubah, selalu bisa tahu jika temannya memiliki masalah. Teringat dengan masalahnya, membuat air mata menetes tanpa dikomando.
Melihat seorang perempuan menangis, apalagi itu teman lamanya, Ricky langsung membawa Stella ke pelukannya. Tanpa dia tahu jika kelakuannya itu mengundang perhatian orang di lobi itu. Salah satunya Rena, yang kebetulan hendak pulang ke unit Ricky.
Ricky lalu mengajak Stella ke unit apartemennya. Ricky terpaksa memeluk Stella sepanjang perjalanan menuju unitnya. Hal ini dikarenakan tangis Stella yang tak kunjung reda.
Rena terus mengikuti Ricky dan Stella yang berjalan sambil rangkulan. Satu tangan Ricky selalu mengusap lengan Stella selama berjalan. Tangan yang satunya lagi menarik koper Stella.
Ricky tidak menyadari keberadaan Rena sama sekali. Bahkan Ricky mengajak Stella ke unitnya, rencana Ricky nanti setelah Stella tenang baru diantar ke unit temannya yang entah di lantai berapa. Namun, siapa sangka niat baik Ricky menolong sang teman disalahartikan oleh Rena.
Setelah melihat sang suami masuk ke apartemen membawa seorang perempuan, Rena urung pulang ke kediaman suaminya. Dia langsung meninggalkan gedung 20 lantai itu, dengan perasaan campur aduk. Ada kecewa, marah, benci dan kesal jadi satu sehingga menutup akal sehat Rena.
Rena tidak langsung pulang ke rumah orang tuanya. Dia memilih menginap di rumah temannya. Rena ingin menenangkan diri dan menghindari amukan dari tante Soraya.
Rena sangat yakin, jika dia pulang ke rumah sudah pasti mendapat ceramah ustadzah cantik Soraya Admaja Binti Surya Admaja. Walaupun tante Soraya jarang marah, tetapi tausiyah yang keluar dari bibir wanita cantik itu, cukup untuk membuat seorang Renata Admaja angkat tangan.
Mereka duduk di pinggir, mejanya mepet dengan dinding kaca. Tak berapa mereka duduk, tiba-tiba Sesha pamit ke kamar mandi.
"Sorry, gue ke toilet bentar! Sudah sesak nih, nahan dari tadi," pamit Sesha pada kedua orang temannya.
"Iya, sana buruan! Takutnya malah jatuh di sini nggak etis banget," ejek Rena. "Lagian dari tadi sudah dibilang suruh ke toilet kagak mau!"
Sesha pun langsung berlari menuju toilet meninggalkan sepasang sejoli yang sudah menjadi mantan itu. Sepeninggal Sesha, Rena dan Sandy hanya saling menatap penuh kerinduan. Tak dapat dipungkiri, walaupun sudah menjadi mantan, sedikit banyaknya rasa itu masih ada.
Tiba-tiba saja tangan Sandy terulur dan menggenggam jemari Rena dan mengusapnya lembut. Ricky yang kebetulan melintas di depan kafe itu pun tidak sengaja melihat.
__ADS_1
Dari kesalahpahaman yang tidak diklarifikasi, membuat pasangan itu semakin jauh. Menikah tanpa adanya cinta dan selalu saja ada salah paham di antara mereka, tanpa ada yang mau menurunkan ego, semakin memberikan jarak pada pasangan baru itu.
Kini terjadi perang dingin yang tidak disertai itikad baik dari keduanya. Rena sibuk dengan kuliahnya, sedang Ricky sibuk dengan rencana pembukaan bengkel baru. Tante Soraya juga sibuk dengan perceraiannya.
"Mami, kok Mbak Rena sudah seminggu nggak ke sini? Bang Ricky juga sudah dua minggu nggak ke sini. Apa mereka sudah lupa sama Rico kek papi, Mi?" tanya bocah remaja itu di suatu sore.
"Hushh! Nggak boleh ngomong begitu. Papi tidak melupakan Ricko, hanya belum sempat pulang buat jenguk Ricko," ucap Soraya menasehati sang anak.
Bukan tanpa sebab, Soraya berbicara seperti pada anaknya. Kemarin dia baru saja menemui sang suami untuk membicarakan perpisahan. Tak disangka sang suami mengatakan masih cinta.
"Sampai kapan pun aku akan mencintaimu. Kemarin, hari ini dan bahkan esok hari. Rasa itu masih ada dan akan tetap ada," ucap Kurniawan saat Soraya mengajaknya bercerai.
"Rasa cintaku yang membuat aku harus melepasmu. Demi kebahagiaanmu dan Ricko, aku akan melepasmu. Walaupun sakit, aku harus ikhlas melepasmu."
"Aku hanya berharap, kamu tidak bermaksud memisahkan aku dengan anakku. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk menemui Ricko dan mengajak kalian berlibur untuk terakhir kalinya sebagai suamimu. Setelah itu, aku akan melepasmu sesuai keinginan kamu," tutur Kurniawan mengeluarkan semua yang menjadi keinginannya selama ini.
"Terima kasih, Mas. Sudah mencintai aku dan menempatkan aku di sudut hatimu. Namun, keinginanku ini bukan semata untuk kebahagiaanku tetapi juga untuk bersama."
"Bersama dalam arti, bukan aku saja yang akan merasakan kebahagiaan itu. Mbak Mira dan Mas Awan juga akan bahagia dengan perpisahan ini nanti. Mbak Mira dan aku akan bahagia karena tidak berbagi cinta, berbagi perhatian dan tentunya berbagi raga Mas Awan ...."
"Kalian yang bahagia! Lalu aku? Selama delapan tahun, delapan tahun Sora! Aku hidup penuh tekanan," teriak Kurniawan.
"Berpisah denganmu membuatku gila! Hanya dengan mengingat aku akan kembali padamu dan Ricko aku memiliki semangat. Kini, saat kalian di depan mataku, kamu ingin psiah.'
"Apa tidak sedikit pun rasa cintamu tersisa untukku, Sora? Aku meninggalkan kalian bukan karena aku tidak mau bertanggung jawab. Namun karena, almarhumah ibuku sakit dan tak lama kemudian Mira sakit."
__ADS_1
Soraya tetap diam mendengarkan cerita laki-laki yang masih sah sebagai suaminya itu. Walaupun delapan tahun berpisah, komunikasi via udara sesekali dilakukan. Selain itu juga, Kurniawan juga mengirim sejumlah uang tanpa sepengetahuan Gunadi atau pun Mira.