Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 62


__ADS_3

"Siyal! Kenapa para investor menarik semua dana mereka dari Pratama Corp?" tanya Sandy pada sekretarisnya.


"Maaf, Pak. Mereka tidak memberikan alasan apapun. Sewaktu saya bertanya, mereka menjawab ada perusahaan yang menjanjikan keuntungan lebih dibanding dengan Pratama Corp. Mereka akan kembali menanamkan investasi, jika kita berani membagi keuntungan yang sama atau lebih dibanding perusahaan itu," jelas sang sekretaris.


"Bodoh kalian semua! Mempertahankan investor saja tidak bisa, padahal saya sudah bisa membujuk mereka agar mau menanamkan modalnya di Pratama Corp. Giliran saya percayakan pekerjaan pada kalian, malah dilepas begitu saja! Sia-sia sudah usahaku selama ini," teriak Sandy penuh amarah.


Dia tidak menyangka sama sekali, jika kepergiannya berlibur selama tiga hari akan menghancurkan kerajaan bisnis yang sudah dibangun oleh sang ayah.


Sekretaris dan asisten pribadinya menunduk takut. Mereka sudah berusaha menahan para investor itu, agar tidak mencabut semua dana mereka. Namun, mereka gagal karena tidak bisa menjanjikan keuntungan sesuai dengan yang mereka minta.


"Segera cari investor dari luar negeri atau perusahaan mana pun itu! Rayu mereka sampai mau menanamkan modalnya di Pratama Corp! Pita, hubungi segera rekanan yang pernah mengajak kita bekerja sama. Bujuk mereka agar mau mengucurkan dana buat kita!" perintah Sandy tanpa mau tahu bagaimana caranya agar mendapatkan investor.


Sementara itu, di belahan bumi yang lain. Bimo sedang tertawa lepas, mendengar kabar semua investor lari dari Pratama Corp.


"Anak masih kemarin sore sudah berani mengajak main-main. Buang-buang waktu dan uang saja! Dipikir ayahnya dulu membangun kerajaan bisnis gampang apa?" gumam Bimo terkekeh.


Bimo telah mempengaruhi beberapa investor yang telah bekerja sama dengan Pratama Corp. Perusahaan Bimo yang saat ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat, membuat para investor tanpa ragu-ragu langsung menanamkan modal yang besar.


Saat ini, Bimo dan para investor itu sedang berada di ruang rapat untuk menandatangani perjanjian kerja sama. Selain itu, mereka juga membahas beberapa langkah ke depannya, agar pertumbuhannya semakin naik atau paling tidak tetap.


Rena sudah mengambil cuti usai mengambil nilai hasil ujian akhir. Rena sengaja mengajukan cuti kuliah agar bisa fokus pada buah hatinya nanti setelah lahir. Apalagi tinggal sebulan lagi HPL-nya.


Rena dan Ricky saat ini tinggal di rumah Mama Mira. Sejak adanya Stella di kos Mami Sora, keduanya malas berkunjung. Dengan alasan usia kehamilannya yang tak muda lagi.


"Sayang, Mas ke kantor dulu ya. Jangan terlalu capek beraktivitas! Kalau butuh apa-apa, hubungi Mas," pesan Ricky sembari mencium kening sang istri, lalu pindah ke perut buncitnya.


"Adek, jangan nakal ya! Jagain Bunda! Ayah kerja dulu," ucap Ricky pada bayi dalam perut Rena, seraya mengusap perut itu lembut. Kemudian mengecupnya.


Ricky meninggalkan rumah itu dengan mengendarai cepat mobilnya karena berangkat kesiangan. Dia ada meeting setengah jam lagi, padahal jarak tempuh rumah dengan kantor membutuhkan waktu satu jam.

__ADS_1


Sebelumnya, Ricky sudah menghubungi Robert agar mengundur jadwal meeting. Namun, perwakilan perusahaan rekanan itu baru saja datang. Tidak mungkin menunda lebih lama jika rekanan sudah datang.


Seandainya, tadi pagi tidak ada drama mandi bersama. Sudah pasti dia tidak akan terlambat datang. Tadi pagi, tiba-tiba saja Rena minta mandi bersama yang berujung merajuk. Alhasil, dia harus menunda keberangkatannya ke kantor demi keamanan bangsa dan negara.


"Maaf, saya terlambat. Ada suatu hal yang harus saya kerjakan di ...." Ucapan Ricky terhenti ketika melihat perwakilan perusahaan rekanan.


Ricky benar-benar tidak menduga pemilik perusahaan rekanan adalah Nyonya Zoya. Nyonya Zoya sengaja membuat perusahaan baru dengan sisa harta yang dimilikinya. Setelah berjalan satu bulan, dia mengajukan kerja sama dengan Kurnia Grup. Di sinilah dia saat ini memenuhi undangan Ricky untu membicarakan kelanjutan proposal yang diajukan oleh Nyonya Zoya.


"Apa kabar Tuan Ricky?" ucap Nyonya Zoya dengan sinis.


"Alhamdulillah, seperti yang Nyonya Zoya lihat," jawab Ricky dengan mengangkat kedua tangannya. Menunjukkan keadaan dirinya yang baik-baik saja.


"Pasti baik, bukan? Apalagi sudah mendapatkan banyak investor tajir dari luar negeri," sindir Nyonya Zoya.


"Apa maksud ucapan anda, Nyonya?"


"Jangan pura-pura bodoh! Sebagian besar investor mencabut dananya, lalu mereka pindahkan ke Kurnia Group," tuding Nyonya Zoya berang.


Nyonya Zoya terdiam mendengar penjelasan dari Ricky. Selama ini, berdasarkan pengamatannya sendiri, Kurnia Group lebih suka merangkul perusahaan kecil, agar bisa bangkit dan menjadi perusahaan besar.


"Silakan hubungi investor tersebut! Saya ingin mendengar secara langsung penjelasan mereka," ucap Ricky dengan nada memerintah.


Nyonya Zoya mendial nomor salah satu investor yang memiliki modal paling tinggi, dengan tangan gemetar. Nyonya Zoya menunggu beberapa saat untuk diangkat pemilik nomor itu. Tak lama kemudian, panggilan pun terhubung.


Terjadilah percakapan mereka dengan didengarkan bersama. Nyonya Zoya mengaktifkan mode loudspeaker pada panggilannya, agar Ricky dan Robert ikut meendengar.


"Anda sudah mendengar sendiri, bukan? Mereka tidak ada kerja sama apa pun dengan Kurnia Group. Mereka memilih hengkang dari Pratama sejak dipimpin oleh putra anda."


Ricky mengubah posisi duduknya menjadi menaikkan salah satu kakinya ke atas kaki yang satunya lagi.

__ADS_1


"Dari sini, kita bisa melihat bagaimana kinerja putra anda. Jadi, sebelum anda menjudge seseorang, alangkah baiknya anda lihat ke diri anda sendiri. Jangan sampai semut di seberang lautan bisa anda lihat, sedangkan gajah di depan anda tidak tampak," ucap Rick penuh sindiran pedas.


Kata-kata yang diucapkan Ricky memang hanya kata-kata biasa, tetapi cukup untuk menjatuhkan mental lawan.


Nyonya Zoya meminta maaf pada Ricky. Dia merasa sangat malu sekali karena setelah terungkap yang sebenarnya, Ricky masih mau melanjutkan kerja sama dengannya. Walaupun harus mematuhi persyaratan yang Ricky ajukan.


Ricky menghubungi Bimo sepeninggal Nyonya Zoya. Dia merasa curiga, jika ini adalah ulah sang paman. Ricky tahu betul bagaimana sepak terjang Bimo selama ini.


"Apa kabar, Om? Sudah dapatkah calon tanteku nanti?" sapa Ricky setelah panggilan tersambung.


"Kabar Om, baik. Sangat baik, malah! Ada apa tumben hubungi Om?"


"Tante buat aku, sudah ada belum? Ditanya dari tadi gak dijawab!"


"Heh, anak nakal! Jangan mengalihkan topik ya! Don't out of topic!"


"Om, tadi tidak mendengar pertanyaan aku rupanya! Sejak aku ucapkan salam sampai sekarang pun pertanyaanku itu masih sama!"


"Kamu carikan wanita solehah buat om! Bukankah selama ini Om sudah bantu kamu? Sebenarnya, apa tujuanmu menghubungi Om?"


"Masalah Pratama Corp, Om yang membuat perusahaan besar itu gulung tikar?


*


*


*


Maaf slow up🙏 kerjaan RL benar-benar padat. Semoga kalian masih setia menunggu KyRen up.

__ADS_1


Buat para readers yang sudah memberi bintang 5, saya ucapkan terima kasih sekali. Semoga semua kebaikan kalian selalu mendapat ridho Allah dan kebaikan kembali pada kalian🤲🤲🤲


__ADS_2