Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 65


__ADS_3

"Sora nggak ada rencana buat cari pendamping hidup? Ricko juga butuh sosok seorang ayah lho," ucap Bimo tiba-tiba, sehingga membuat Soraya menautkan kedua alisnya hingga menyatu.


"Ricko tidak kehilangan ayahnya, dia tetap mendapatkan perhatian dari ayah dan kakak laki-lakinya. Bahkan, sebelumnya dia juga mendapatkan perhatian dari pak dhenya. Baru-baru ini saja dia kehilangan sosok itu karena sang ayah ingin belajar agama , sedang kakaknya sibuk mengurus sang istri," kelit Soraya dengan tenang.


"Ricko sangat beruntung ya? Dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi tanpa syarat," sahut Bimo terdengar seperti sindiran karena terucap kata tanpa syarat.


"Alhamdulillah, rejeki anak soleh. Selalu dikelilingi orang-orang yang tulus kepadanya. Mereka menyayangi Ricko dengan sepenuh hati. Tanpa mengharapkan apa pun dari saya atau pun dari Ricko," tegas Soraya, dia merasa tersinggung dengan ucapan BImo baru saja.


Mendengar pernyataan wanita yang membuat hatinya bergetar, membuat Bimo berulang memukul bibirnya.


"Dasar bibir nggak punya tata krama, asal ceplos aja kalau ngomong! Kalau kek gini 'kan aku yang malu. Berasa jadi orang terkejam sedunia."


Padahal, sebenarnya Bimo tidak bermaksud menyinggung. Namun, sudah terlalu lama tidak menjalin hubungan khusus dengan lawan jenis, membuat dia tidak tahu bagaimana harus bersikap. Sejak dikhianati tunangannya, dia memilih menutup hatinya rapat-rapat.


Kini, setelah beberapa kali bertemu dengan Soraya, hati Bimo terbuka dengan sendirinya. Akan tetapi, dia tidak tahu harus bagaimana. Yang dia tahu hanya mengajak Soraya ngobrol agar lebih dekat, tanpa obrolan seperti apa yanng bisa membuat mereka semakin dekat.


"Maaf, jika kata-kata saya tadi kurang berkenan. Sungguh, aku tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan kamu. Jangan marah, ya," mohon Bimo dengan wajah sendu dan memelas.


Soraya hanya tersenyum tipis tanpa menjawab permintaan maaf Bimo. Sungguh, hatinya begitu sakit saat bujang lapuk itu melontarkan sindiran. Apalagi dia adalah seorang janda dengan anak kos putra sebanyak delapan orang. Ditambah lagi mereka yang menjadi penghuni kos adalah anak lajang yang sudah kuliah dan bekerja.


Gosip dan sindiran pedas sudah biasa Soraya dengar, bahkan sudah menjadi makanan sehari-hari. Menjadi janda itu tidaklah mudah, apalagi usianya masih muda. Selalu menjadi bahan olokan, seolah-olah seorang janda itu aib dengan derajat rendah.


Janda karena cerai seolah-olah penyakit masyarakat, mereka dikucilkan tanpa diberi ruang untuk membela diri. Para ibu-ibu akan melarang para suaminya bertegur sapa dengan janda karena takut tergoda. Padahal, tidak semua janda itu penggoda dan perusak rumah tangga.


Soraya meninggalkan rumah Kurniawan begitu saja. Rasanya tidak tahan lagi bertemu lagi dengan keluarga besar mantan suaminya. Walau pun mereka berpisah secara baik-baik, akan tetapi penilaian setiap orang itu tidaklah sama.


Ricko yang melihat wanita yang melahirkannya muram, langsung mendekati dan berusaha menghibur.

__ADS_1


"Mami capek ya? Sini Ricko pijit kaki Mami," ucap Ricko sembari duduk di samping ibunya, lalu meletakkan kedua kaki sang ibu ke pangkuannya. Anak itu mulai memijit pelan kaki itu secara bergantian.


"Terima kasih, Sayang. Anak Mami ternyata memiliki bakat jadi tukang pijit, nih," sahut Soraya dengan ledekan yang membuat ibu dan anak itu tersenyum bersama.


"Keknya Mami mau anaknya jadi tukang pijit deh, dari pada jadi pengusaha sukses kek papi," protes Ricko sambil mendengkus tidak terima dikatakan tukang pijit.


"Jadi tukang pijit itu pahalanya banyak lho, Nak. Selain menyembuhkan penyakit juga bisa membuat orang senang. Pahalanya double malah," ucap Soraya mengulum senyum karena menahan tawa.


Melihat wajah wanita yang menjadi cinta pertamanya itu tersenyum, Ricko pun merasa tenang. Dia merasa sudah bisa menghibur sang bunda. Menurut orang lain, mungkin itu hanya hal sepele. Namun, tidak bagi seorang Ricko.


Wajah ceria dan berbinar sang ibu adalah suatu hal yang sangat berharga bagi remaja tanggung itu. Tidak ada yang ingin dilihatnya selain tawa sang ibu.


Di sebuah apartemen mewah, hati Bimo ketar-ketir. Perasaan bersalah menghantuinya setiap hari. Satu minggu telah berlalu, tetapi dia masih terngiang dengan ucapannya yang menyakitkan serta tanggapan dari orang yang disakitinya. Padahal dia tidak bermaksud menyakiti, hanya salah berucap.


"Sepertinya aku harus meminta bantuan Ricky dan Rena. Dua orang itu tampak sangat dekat dan akrab dengan Soraya," batin Bimo.


"Apa aku sudah gila? Kenapa bayangan wajahnya tidak mau pergi dari kepalaku? Terus kenapa dadaku seperti ini, apakah aku sudah terkena penyakit jantung? Ahh, aku harus melakukan medical check up secara menyeluruh, sepertinya aku sudah terserang penyakit."


Sementara itu di kediaman Kurniawan, Rena dan Ricky sedang membuat jalan lahir. Agar mempermudah persalinan Rena nanti. Rena ingin sekali melahirkan secara normal. Oleh karena itu, Ricky rajin sekali melakukan olah raga agar jalan lahir terbuka lebar.


Setelah setengah jam melakukan olah raga, mereka mengakhirinya usai mendapatkan pelepasssan. Napas keduanya memburu dengan posisi Rena berbaring miring sedang Ricy terlentang. Setelah napasnya normal, Ricky langsung menggendong Rena menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Mas, lapar," rengek Rena manja, sejak hamil Rena memang mudah lapar tapi susah makan.


"Kamu mau makan apa, hmm?" tanya Ricky membelai wajah sang istri mesra.


"Nasi goreng buatan kamu, Mas. Boleh?" jawab Rena meringis, takut suaminya murka. Ternyata, sang suami langsung mengiyakan tanpa banyak protes.

__ADS_1


"Mau ikut ke dapur atau menunggu di kamar saja?"


"Aku mau lihat kamu masak, boleh?'


"Apapun itu, Sayang. Yang penting kamu dan anak kita bahagia," jawab Ricky mencubit mesra hidung Rena.


"Terima kasih, Sayang," ucap Rena malu-malu dengan pipi yang merona langsung mencium pipi Ricky.


Ricky langsung membopong istrinya menuju dapur. Dia tahu tubuh sang istri pasti masih lemas karena baru saja digempur habis-habisan.


Ricky mendudukkan istrinya di kursi meja makan yang tidak jauh dari kitchen set. Laki-laki yang sebentar lagi jadi seorang ayah itu mulai mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng. Setelah itu, langsung mengeksekusi bahan-bahan itu dengan cekatan. Hal ini dikarenakan, selama hamil Rena menyukai makanan hasil masakan sang suami.


Gerakan tangan Ricky lihai meracik lalu mengaduk semua menjadi satu dalam kwali. Sesekali dia mengambil sedikit untuk mencicip rasanya, sudah pas atau belum. Setelah dirasa pas, Ricky menuang nasi goreng itu dalam dua piring.


"Nasi goreng pesanan, sudah siap. Silakan, Nyonya! Selamat menikmati," ucap Ricky seraya meletakkan dua piring nasi goreng di meja makan.


"Terima kasih, Chef Ricky. Masakan anda selalu enak," ujar Rena mengacungkan kedua jempolnya setelah mencicipi nasi goreng.


Setelah beberapa suap, tiba-tiba Rena merintih kesakitan sambil memegangi perut besarnya.


*


*


*


Sambil menunggu up, mampir yuk ke karya temen aku Jangan lupa tinggalkan jejak, ya🤗

__ADS_1



__ADS_2