Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 7


__ADS_3

Ricky melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Tiga jam sudah dia berada di perpustakaan, melupakan janji menemani sang kekasih shopping. Sekarang di depannya, sang istri meminta diantarkan shopping.


Tidak ingin ada keributan di perpustakaan, akhirnya Ricky mengiyakan saja permintaan sang istri. Jika nanti ada masalah karena melupakan sang kekasih, diurus nanti.


Di sinilah mereka saat ini, di sebuah toko buku yang juga menyediakan bahan untuk membuat maket. Ricky mengekor kemana saja Rena melangkah, sembari menjinjing tas belanja yang disediakan toko tersebut. Ricky yang membayar semua belanjaan itu.


Setelah mendapatkan semua bahan yang diinginkan, Ricky mengajak Renata makan. Ricky telah melewatkan waktu makan siangnya tadi, terlalu fokus mengerjakan skripsi sampai lupa waktu. Rena pun ikut kemana Ricky.


Mereka makan di restoran yang ada di mall. Keduanya memesan makanan yang berbeda. Rena hanya memesan kudapan sedangkan Ricky memesan makanan berat.


Saat keduanya asik menikmati makanan, tampak tiga orang wanita memasuki restoran tersebut. Salah satu wanita itu ternyata Wenny kekasih Ricky. Teman Wenny yang pertama kali menyadari keberadaan Ricky dan Rena, mulai mengompori Wenny.


"Bagus ya? Katanya bimbingan skripsi, sampai-sampai telepon sama pesanku tidak ditanggapi. Ternyata asik jalan sama cewek gatel!" sembur Wenny dari belakang punggung Ricky.


Ricky merasa mengenal suara itupun langsung menoleh ke sumber suara. Wenny sudah melipat kedua tangannya di depan dada. Tak lama kemudian, Wenny berjalan mendekati Rena.


"Lo itu kalau mau cari cowok, jangan main embat punya orang dong! Kek nggak laku aja." Kini sasaran Wenny adalah Renata. "Cowok yang Lo deketin itu milik gue, Lo tahu nggak? Dasar cewek murahan!"


"Milik Lo? Hahaha ... kita lihat saja nanti! Dia itu milik siapa?" jawab Renata seraya berdiri meninggalkan tempat itu.


"Lo mau sampai kapan menyimpan rahasia? Ingat! Serapat-rapat orang menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga," ucap Renata pada sang suami sebelum benar-benar meninggalkan restoran itu.


"Rahasia apa, Yank? Kamu merahasiakan apa dariku?" desak Wenny tidak terima dengan perkataan Renata tadi.


"Hhh ... aku nggak sengaja nabrak dia. Terus maket miniatur kota yang dibawanya hancur berantakan dan aku harus menggantinya. Tapi belum sempat aku mengganti kamu sudah datang," jelas Ricky walaupun tidak jujur sepenuhnya.


"Oh, hanya maket miniatur aja sudah marah-marah kek gitu. Kek lakinya direbut orang aja," cibir Wenny meremehkan.


"Duh, bisa gawat nih! Kalau sampai Wenny tahu gue sama Renata sudah menikah. Bagaimana ya, caranya gue kasih tahu Wenny soal ini?" batin Ricky gelisah.

__ADS_1


"Kalian mau makan?" tanya Ricky basa-basi pada Wenny dan teman-temannya.


"Iya, nih! Lapar habis jalan keliling mall," jawab Wenny nyengir. "Kamu sendiri, sudah kelar makannya?"


"Sudah. Maaf ya, aku duluan. Masih banyak kerjaan," pamit Ricky, sebelum meninggalkan tempat itu dia membayar tagihan makanannya juga tagihan Wenny dan kawan-kawan.


Ricky langsung pulang ke apartemen. Dia sangat yakin pasti istrinya itu akan mengamuk saat dia sampai. Baru beberapa jam bersama, Ricky sudah bisa mengenali karakter sang istri.


Saat Ricky pulang, Rena langsung mengambil minuman kaleng di kulkas dan menyerahkannya pada Ricky. Lalu duduk di sebelah suaminya itu.


"Bantuin gue buat miniatur kota, lengkap dengan mall dan usaha yang lain!" pinta Renata memaksa.


"Lah, gue udah bayarin semua belanjaan Lo. Masak masih disuruh buat maket lagi sih?" protes Ricky tidak terima, merasa dikerjain oleh istri barunya itu.


"Kan Lo yang nabrak gue sampai maket gue hancur berantakan!" dalih Renata dengan akal bulusnya. "Terus tadi gue harus pulang sendiri, Lo malah main serong sama si Ondel-ondel Betawi!"


Ya, Renata seorang gadis sejak kecil sudah dididik taktik dan strategi oleh sang ayah. Jangan lupakan pak Gunadi yang seorang perwira TNI! Beliau memiliki taktik dan strategi menyerang dan bertahan yang bagus.


"Untung dia nggak ngamuk kek reog, padahal siapkan kuda-kuda buat ngadepin dia. Hufftt!" batin Ricky lega.


Pasangan pengantin baru itu tampak akur mengerjakan tugas Renata. Kadang keduanya terlibat perdebatan kecil dalam menempatkan bangunan dalam maket. Keduanya sangat asik mengerjakan itu sampai tidak terasa hari sudah berganti.


"Udah mau Maghrib, kita break dulu! Habis makan malam dilanjut lagi," ucap Renata yang pertama kali menyadari jika senja telah menyapa.


"It's ok," sahut Ricky seraya beranjak dari duduknya. Meregangkan otot-otot tubuhnya sebentar lalu berjalan menuju kamarnya.


Renata membereskan pernak-pernik yang dipakai untuk membuat miniatur kota. Membuang sampah bungkus pernak-pernik dan bungkus cemilan. Setelah bersih dan rapi, dia pun ke kamar untuk membersihkan diri.


Ricky yang pertama keluar dari kamar, dia mencari makanan di dapur. Ternyata hanya ada nasi putih di magic com, tidak ada lauknya. Kemudian dia pun mencari sang istri.

__ADS_1


"Ren, Reren!" panggil Ricky sambil melongokkan kepala ke kamar Renata.


"Iya!" Renata yang kebetulan baru keluar dari kamar mandi, langsung berbalik masuk lagi. Dia hanya mengenakan selembar handuk yang tidak menutupi tubuh sepenuhnya.


Melihat sang istri yang kembali masuk ke kamar mandi, Ricky melangkahkan kakinya masuk semakin dalam ke kamar itu. Dia mengetuk pintu kamar mandi, kembali memanggil Renata.


"Ren, Lo dipanggil bukannya menyahut malah kabur!" gerutu Ricky.


"Gue jawab! Ada apa?" teriak Renata dari dalam kamar mandi.


"Aduh, kenapa malah masuk kamar sih? Pakai acara mendatangi gue lagi. Mam*pus dah gue," gumam Renta panik, karena dia tidak membawa baju ganti ke kamar mandi.


"Lo nggak sopan banget sih, ngomong sama laki teriak-teriak kek di hutan!" Ricky kembali melayangkan protes.


"Biarin! Gue nggak pernah anggap Lo sebagai suami. Asal Lo tahu itu!" jawab Renata kembali berteriak.


Ricky terkejut mendengar jawaban perempuan yang kini berstatus sebagai istrinya. Sebenarnya dia pun berat menjadikan Renata sebagai istri. Namun, takdir berkata lain. Mau tidak mau harus dijalani dengan lapang dada.


"Lo keluar gih dari kamar gue! Gue mau ganti baju," ucap Renata membuka pintunya sedikit.


"Memang kenapa kalau gue di sini? Kita sudah sah ini, berpahala malah kalau gue lihat Lo," ucap Ricky bermaksud mengerjai Renata.


"Sampai mati pun nggak sudi badan gue Lo lihat!" teriak Renata kesal.


"Dih, emang gue mau? GR Lo," ejek Ricky sembari berjalan meninggalkan kamar itu.


Tak berapa lama kemudian, Renata sudah keluar dari kamar. Dia memakai celana hotpants dan kaos oblong kedodoran, sehingga tampak dari jauh tidak memakai celana.


Ricky berulang kali menelan saliva dengan kasar melihat pemandangan di depan matanya. Bahkan matanya sampai melotot seperti hendak melompat keluar. Hal itu disadari oleh Renata.

__ADS_1


"Mata Lo mau gue cabein apa gue culek?"


__ADS_2