Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 8


__ADS_3

"Mata Lo mau gue cabein apa gue culek?"


"Lo itu nggak ada sadar atau sengaja mau menggoda?" cibir Ricky seraya mendekati perempuan yang tampak seksih malam ini.


Renata gelagapan mendengar cibiran Ricky, lalu dia melihat penampilannya sendiri. Akhirnya Renata tersadar lalu lari ke kamar karena malu.


Renata sudah biasa berpenampilan demikian di rumah. Walaupun rumahnya sebuah kos-kosan, tamu tidak bebas berkunjung ke sana. Khususnya lawan jenis, mereka dilarang masuk di area kamar.


Kejadian insiden salah masuk kamar dianggap suatu kesengajaan oleh pak Gunadi dan yang lainnya. Soalnya kos-kosan itu sangat ketat, tidak sembarang orang bisa masuk ke kos putri. Ada jadwal kunjungan tersendiri bagi tamu lawan jenis.


Ricky tergelak melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu. Tidak sadarkah Renata jika suaminya itu lelaki normal seperti pada umumnya. Walaupun belum ada cinta di antara mereka, tetap saja penampilan Rena mengundang bahaya.


Setelah menunggu lama, akhirnya Renata keluar dari kamar menggunakan baju tidur lengan pendek dengan pasangan celana panjang.


"Ren, Lo masak gih! Sudah laper gue," perintah Ricky begitu Rena muncul dari kamarnya.


Rena tidak menjawab, dia melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Lalu dia berjalan menuju dapur menyiapkan semua bahan dan alat untuk masak.


Setengah jam kemudian, Rena telah selesai bertempur dengan kompor dan alat masak lainnya. Malam ini dia hanya membuat nasi goreng dengan toping nugget dan telur ceplok serta irisan tomat.


"Yee, kirain tadi masak besar! Nggak tahunya cuma nasi goreng. Mana masaknya lama lagi," protes Ricky begitu melihat makanan yang disajikan oleh perempuan yang berstatus istri itu.


"Mau dimakan, kalau tidak mau nanti aku makan!" sahut Renata dengan wajah datarnya. Dia menahan emosi karena masakannya dicaci oleh Ricky.


"Nggak ada lagi menu lain?" tanya Ricky lagi, ngeyel.


Renata langsung berdiri lalu mengambil piring berisi nasi goreng di depan Ricky. Tetapi Ricky langsung memegang kuat piring tersebut. Dia tahu telah mengusik ketenangan macan betina, sehingga dengan sigap memegang piring dengan kedua tangannya.


"Awas Lo! Gue mau buang nasi ini," bentak Renata seraya menarik paksa piring dari tangan Ricky.


"Enak aja! Gue mau makan, main ambil saja!"


Masih memegang piring dengan tangan kiri, tangan kanannya menyuapkan nasi ke mulutnya. Mencecap kemudian merasai nasi goreng itu.

__ADS_1


"Enak 'kan masakan gue?" tanya Renata menatap wajah Ricky dengan intens.


"Enak apanya? B aja tuh," jawab Ricky memasang wajah datar, tidak mau mengaku.


Nasi goreng buatan Renata sangat pas di lidah Ricky, tetapi dia tidak mau mengakuinya. Egonya terlalu tinggi untuk mengakui, mengalahkan kejujuran.


Ricky makan dengan lahap, sehingga nasi gores habis sampai bersih tak bersisa di piringnya.


"Katanya biasa saja, kok sampai bersih piringnya?" sindir Renata dengan pandangan lurus ke piring yang masih ada sedikit nasi goreng.


"Laper! Tahu nggak orang lapar itu sanggup memakan apa saja agar perut kenyang?" alibi Ricky, menolak mengakui cita rasa masakan wanita yang kini tinggal bersamanya itu.


"Cuih! Pinter ngeles," cibir Rena seraya berdiri dan membawa piring kotor ke wastafel untuk dicuci.


Usai mencuci piring dan membereskan meja dapur dan meja makan, Renata kembali mengerjakan tugasnya membuat miniatur kota.


"Lo ngapain malah bengong? Bukannya bantuin gue, malah santai-santai!" tegur Renata karena saat ini, Ricky duduk santai sembari merokok di balkon.


"Awas aja Lo, kalau sampai nggak bantu gue ngelarin tugas!" ancam Renata. "Gara-gara lo, gue harus ngerjain ulang tugas manajemen pemasaran gue."


"Iya, Bawel! Nanti gue bantuin, sekarang gue habisin rokok ini dulu," jawab Ricky meyakinkan.


Renata pun langsung berputar haluan, kembali ke ruang tengah mengerjakan tugas. Hingga satu jam berlalu, Ricky tidak kunjung datang membantu. Rena pun beranjak dari duduknya, hendak mendatangi Ricky.


Sebelum mendatangi Ricky di balkon, Renata sudah berniat mengagetkan Ricky. Betapa terkejut dan kesalnya Renata. Melihat Ricky tertidur pulas dengan posisi duduk bersandar pada dinding kursi.


Renata kembali masuk, mengambil air satu ember timba kecil. Awalnya, Rena hanya menyiram kaki Ricky. Namun, Ricky tidak bergeming sama sekali.


Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Rena nekat menyiram kepala Ricky dengan setengah gayung air. Ricky langsung tergeragap dan terlonjak kaget.


"Anjeeng memang Lo!" teriak Ricky kesal karena baju dan celananya ikut basah.


"Tadi katanya ngabisin rokok sebatang. Gue tunggu-tunggu nggak masuk juga. Eeh ... ternyata enak-enakan tidur di atas penderitaan orang!" cerocos Renata tanpa rem sama sekali.

__ADS_1


Mendengar amarah keluar dari mulut Rena, akhirnya Ricky tersadar jika semua ini berawal dari kelalaiannya.


"Sorry, gue ngantuk sekali tadi. Jadi, ketiduran di sini gue," jawab Ricky sambil mengusap-usap tengkuknya. Malu karena telah lalai.


Setelah mengganti baju dan celana, Ricky ke ruang tengah menyusul istrinya.


"Masih banyak lagi yang harus dipasang?" tanya Ricky. "Bukannya tinggal membingkai saja?"


"Tinggal rapiin aja! Lo memang nggak ada rasa tanggung jawab sama sekali. Lo yang hancurin tugas gue, tapi Lo nggak mau betulin. Setidaknya Lo 'kan bisa hanya sekedar bantu aja. Toh gue juga yang ngerjain tugas ini dari awal." Ada kekecewaan di setiap kata yang keluar dari mulut Renata, sehingga membuat Ricky semakin merasa bersalah.


Walaupun Renata terkesan bar-bar dan tidak menganggap pernikahan ini ada, dia tetap melakukan semua tugasnya sebagai istri. Kecuali di ranjang, tentunya.


"Sini, biar gue aja yang rapiin. Lo tidur aja!" Ricky menawarkan bantuan pada Renata.


Tidak menunggu lama, Renata pun bergegas meninggalkan Ricky di ruang tengah dengan setumpuk pekerjaan.


Pagi harinya, drama kembali diputar di apartemen Ricky. Hal-hal kecil bagi keduanya menjadi alasan untuk berantem. Apartemen itu sekarang lebih berwarna dibandingkan dengan dulu. Sebelum terjadinya pernikahan dadakan karena salah paham.


"Lo kok malah melenggang sih? Bawain miniatur gue, Bege!" jerit Rena kesal.


Sejak bangun tidur dia terus berkutat dengan tugas-tugasnya sampai melupakan waktu. Badannya terasa remuk redam karena tidak biasa mengurus rumah. Akhirnya, sang suamilah sebagai tempat pelampiasan.


"Itu 'kan tugas Lo, kenapa gue yang bawa?" Baru beberapa hari bersama, Ricky sudah mulai lelah bertengkar terus. Maka dari itu, dia memilih belajar mengalah.


"Itu berat, Korek Api! Bagaimana sih?"


"Lo ganti-ganti nama orang tanpa permisi! Seenak jidatmu saja," gerutu Ricky kesal karena Renata selalu memelesetkan namanya.


Ricky memilih mengalah, dia angkat miniatur kota itu pelan-pelan agar tidak rusak.


"Terima kasih, ya! Sudah bantu buat miniatur tadi malam," Sindir Renata begitu masuk ke mobil Ricky.


"Nggak usah berterima kasih. Duit gue sudah habis banyak buat beli pernak-pernik yang Lo beli kemarin" ucap Ricky.

__ADS_1


__ADS_2