Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 26


__ADS_3

"Nanti mau dijemput jam berapa?" tanya Ricky.


Saat ini Ricky sedang mengantarkan Rena ke kampus. Sejak berdamai hari itu, keduanya berusaha menerima pasangan dengan hati lapang. Belajar memberi dan menerima serta belajar mencintai pasangan, walau bagaimanapun keadaannya.


Kini keduanya tampak lebih kompak, walaupun kadang masih ada saja yang membuat mereka bersitegang. Belajar menerima, prosesnya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Harus bersabar menikmati prosesnya, agar bisa menikmati hasil yang memuaskan.


"Sekitar dua jam lagi, soalnya aku mau ke perpustakaan setelah kelar pertemuan di kelas. Nggak apa-apa 'kan?" jawab Renata merasa tak enak karena merepotkan suaminya.


"It's ok, tak masalah buatku. Toh, bengkel sudah ada yang bantu handle. Jadi, banyak waktu luangku," ucap Ricky dengan senyum manisnya.


"Okelah kalau begitu, aku tinggal ya? Byeee ...." pamit Renata sembari keluar dari mobil.


"Ren, Reren! Ada yang ketinggalan," teriak Ricky ketika sang istri sudah mulai jauh jaraknya.


Renata bingung mendengar ucapan suaminya. Seingatnya tadi dia tidak membawa apa-apa, selain barang yang ada dalam tasnya. Namun, demi memastikan barang apa yang ketinggalan, Rena pun berbalik arah menemui Ricky.


"Mana?" pinta Renata seraya mengulurkan tangannya.


"Apa?"


"Ck, tadi katanya ada yang ketinggalan! Mana yang ketinggalan?" sahut Renata kesal.


"Istri yang baik itu, setiap mau berpergian harus cium tangan suami terlebih dahulu, lalu cium ini. Sudah kamu lakukan belum, hmm?"


Renata memutar bola matanya malas, dia tidak menyangka akan memiliki suami seabsurd Ricky. Walaupun begitu, akhirnya Rena mencium punggung tangan sang suami lanjut mencium wajah Ricky secara merata. Dia sengaja melewatkan bibir Ricky, bermaksud membalas keusilan Ricky tadi.


"Ck, ini belum, Reren! Nilai makul bahasa Indonesia kamu dapat berapa, sih? Begitu saja tidak tahu ngerti ucapanku tadi!" Mulut Ricky tampak komat-kamit menggerutu karena dikerjain oleh sang istri.


"Kamu beneran nggak pengen gitu masuk surga? Ingat ya, surga kamu sekarang ada di telapak kakiku. Kamu sudah menjadi tanggung jawabku, Ren!" Mulut Ricky ngedumel terus karena kena usilin sang istri.


"Yee, do'amu, Mas! Bagus banget, ya? Sama istri sendiri tega," sembur Renata tidak terima mendengar sumpah serapah sang suami.


"Bu-bukan begitu, Sayang. Tadi itu cuma bercanda doang. Jangan marah ya! Pokoknya nggak boleh marah atau baper," rayu Ricky agar Renata tidak kembali marah.


"Ishhhh ... memang perempuan itu maha benar! Selalu saja salah menurut pandangan mata dia."


Mata Renata menatap tajam sang suami karena baru saja dikerjain. Padahal badannya sungguh-sungguh lelah, lelah jiwa dan raga. Selalu saja mereka ribut, dan biasanya hanya masalah-masalah sepele yang menjadi pemicu keributan.

__ADS_1


"Bodo' amatlah!" ucap Renata sambil mengibaskan tangannya dan berjalan meninggalkan Ricky.


Dua jam kemudian, Ricky telah stand by di area parkir kampus untuk menjemput sang bidadari surga. Dia sengaja datang lebih awal agar istrinya tidak terlalu lama menunggu. Baru beberapa menit menghubungi sang istri, ternyata Renata sudah berjalan menuju area parkir.


"Nunggu lama, ya?" tanya Renata begitu sudah di depan Ricky.


"Nggak sih, baru nyampai terus calling kamu tadi."


"Oh, kirain sudah nunggu lama."


Ricky membukakan pintu mobil untuk kekasih halalnya. Memasangkan seat belt Renata, sebelum akhirnya mengitari mobil untuk masuk dan duduk di balik kemudi.


"Ada rencana mau jalan kemana gitu?" tanya Ricky begitu mobil melaju membelah jalanan kota.


"Aku nggak ada agenda, Rick. Paling pulang aja ke rumah, main ke sana sebentar. Boleh?" ucap Renata dengan gamblang.


"Boleh! Kenapa harus tidak boleh? Bukankah di sana juga rumah kita?" sahut Ricky spontan. "Ok, meluncur!"


Renata pikir mereka akan langsung pulang, mengingat hari sudah semakin gelap. Namun, itu tidak seperti bayangannya. Ternyata, Ricky malah mengajak Renata ke bengkel terlebih dahulu.


"Sebentar aja, Yank! Tunggu sebentar, ada berkas yang harus aku cek dan tanda tangani."


"Awas kalau lama!" ancam Renata cuek, padahal mereka saat ini di depan karyawan.


Tak tahukah Ricky? Jika Renata malas bertemu dengan teman-teman sang suami tersebut.


"Iyaa, Sayang! Iyaa. Kamu masih sabar menunggu pulang, bukan?" ucap Ricky menahan tawa. Rasanya sangat lucu, melihat wajah sang istri yang semakin tampak menggemaskan di matanya.


Akhirnya Ricky sengaja meninggalkan Renata bersama teman-temannya, yang juga satu kampus dengannya. Dengan tujuan agar istri dan teman-temannya bisa hidup berdampingan saling menghargai dan mencintai pasangannya.


Renata mengangkat kepala saat mendengar obrolan serius antara suaminya dengan seorang wanita. Padahal, seingatnya tadi tidak ada orang yang melintas di hadapannya. Apakah Ricky menyembunyikan seorang wanita tanpa sepengetahuannya?


Setelah keduanya hampir dekat dengan kursi yang Rena duduki. Rena mengangkat kepala untuk melihat siapa wanita itu. Tampak olehnya, Ricky yang begitu akrab dengan wanita itu.


Wajah Renata langsung cemberut, saat melihat interaksi suaminya dengan wanita tersebut. Yang lebih membuat dia tampak tidak suka adalah wajah wanita itu sangat cantik dan memiliki tubuh yang aduhai. Selain itu, sang wanita juga memakai pakaian yang sangat seksih.


"Santai, Bu Bos! Wanita itu sudah ada yang punya, kok. Laki-laki yang memakai kaos putih itu, pemiliknya," celetuk Aldi dari belakang Renata.

__ADS_1


Renata belum mempercayai ucapan Aldi, dia ingin bukti secara langsung. Tak lama kemudian, lelaki yang disebut Aldi tadi mendekati wanita yang tengah asik mengobrol dengan Ricky.


"Baby, ayo pulang! Kamu jangan dekat-dekat mantan, aku cemburu!" teriak Jonathan seraya mendekati istrinya.


"Wow! Drama apalagi laki Lo, Wen?" cibir Aldi.


"Harap maklumlah! Mereka masih pengantin baru, jadi bucinnya kelewatan," ejek Ricky tidak mau kalah.


"Anying emang Lo pada!" teriak Jonathan tidak terima diejek teman-temannya.


"Hahaha ... kalau sudah bucin mah beda aura-auranya!" Aldi semakin berani menggoda Jonathan.


"Udah sana, Wen! Bawa pulang laki Lo, susui biar diem!" ucap Ricky tidak mau kalah.


"Zetan emang kalian!" kata Jonathan sebelum meninggalkan bengkel Ricky.


"Besok lagi udah kerja! Kamu kerja di sana, aku jadi bulan-bulanan mereka," omel Jonathan ketika keduanya sudah berada di mobil.


Wenny diam saja, malas berdebat. Jika nanti dijawab pasti akan bertambah panjang urusannya.


Rena bangun sebelum adzan subuh menyapa, dia terbangun karena merasa ada sesuatu yang menimpah perutnya. Saat membuka mata, ternyata tangan sang suami tengah memeluknya. Rena pun memindahkan tangan itu secara perlahan agar tidak membangunkan pemiliknya.


Rena meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu menyisir rambut. Setelah itu minum air putih sebelum akhirnya membersihkan diri persiapan menunaikan ibadah sebagai makhluk Tuhan.


Usai berkomunikasi dengan sang Pencipta, Renata bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Walaupun belum mahir masak, tetapi dia akan berusaha agar bisa menyajikan makanan yang enak di lidah dan bergizi tentunya.


Terdengar suara door bell berbunyi dengan nyaring. Renata pun bergegas menuju pintu dan membukanya. Ada seorang wanita datang mencari Ricky, sehingga membuat Rena meradang


*


*


*


Mampir yuk ke karya temenku, tak kalah seru lho


__ADS_1


__ADS_2