
"Mami, itu tadi papi 'kan?" tanya remaja 14 tahun itu lagi. Berjalan ke halaman lalu menuju pintu pagar. Sepi.
Renata pergi ke kamarnya meninggalkan ibu dan anak itu di halaman, berdua.
"Hhh ... sudah malam, Ko. Ayo tidur lagi! Begitu rindunya kamu sama papimu sampai mengigau," ucap Soraya menahan sesak di dada.
Dengan patuh anak remaja itu mengikuti sang ibu menuju kamar, walau berat rasa hatinya. Anak itu merasa hanya dengan patuh dia bisa membalas besarnya kasih sayang sang ibu.
Sungguh tadi adalah hal yang sangat luar biasa baginya. Bertemu dengan orang yang pernah bertahta di hatinya tetapi pura-pura tidak kenal. Jika dia seorang artis sudah pasti memenangkan award FFI nominasi artis terbaik tahun ini.
"Tidurlah!" ucap Soraya pada Ricko. " Mami akan selalu bersamamu, menjagamu dengan segenap kemampuan Mami. Apapun yang terjadi Mami akan tetap menyayangimu hingga akhir nanti," lanjutnya dalam hati.
Sementara itu, pak Kurniawan hanya melamun di sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah. Hatinya gundah gulana dihantui rasa bersalah. Sampai saat ini, dia bisa merahasiakan kelakuannya. Namun, sampai kapan?
"Papa kenapa? Dari tadi Mama perhatikan kok gelisah terus. Apa masalah Ricky mengganggu pikiran Papa?" tanya Mira pada laki-laki yang duduk di sebelahnya.
Saat ini kedua pasangan yang tak lagi muda itu sedang duduk di ranjang bersandar headboard.
"Hhh ... bagaimana tidak mengganggu? Mereka masih labil keduanya juga mengedepankan ego dari pada nalar. Hah, pusing Papa, Ma!"
"Jangan terlalu dipikirkan! Lebih baik kita istirahat, sudah malam," saran Mira, kemudian merebahkan tubuhnya diikuti oleh sang suami.
Berbeda dengan kedua orang tuanya, Ricky langsung terlelap begitu menyentuh bantal. Perasaannya sedikit lega setelah melihat, bagaimana istrinya mau mendengarkan semua nasehat tadi. Ada secercah harapan untuk tetap bersatu.
Soraya tidak bisa tidur semalaman, walau dia telah mengadu di sepertiga malam pada Sang Pemilik. Bahkan dia sudah membaca lembar demi lembar ayat-ayat Allah. Namun, tidak juga menemukan kantuknya.
Pagi ini, wanita yang kesehariannya mengenakan gamis dan hijab lebar itu, tampak sibuk menyiapkan sarapan untuk anak semata wayangnya. Walaupun semalaman tidak tidur, wajah itu masih tetap cerah. Jangan lupakan senyumnya yang selalu merekah menyapa setiap penghuni kos-kosan itu.
Hari ini, Renata akan menjumpai pengacaranya untuk mencabut gugatan cerainya. Dengan ditemani oleh Soraya, Renata menemui pengacara itu di kantornya. Sebelum pergi, Soraya menghubungi sang kakak.
"Mas Gun bisa pulang sebentar? Ada yang mau Sora sampaikan secara langsung. TIdak bisa melalui telepon."
" .... "
"Kalau bisa minggu-minggu ini, Mas?"
__ADS_1
" .... "
"Sora tunggu ya, Mas. Semoga mendapat ijin." ucap Soraya sebelum menutup panggilannya
"Tante, cepat! Keburu bapak itu pergi menemui klien lainnya," teriak Renata mengagetkan Soraya.
"Kamu itu sudah punya suami, kelakuan melebihi Ricko. Lagian jadi anak perempuan itu lembut sedikit kenapa?" ujar Soraya yang hanya ditanggapi dengan cengiran oleh sang keponakan.
"Maaf, Tan," sahut Rena menampakkan deretan gigi putihnya.
"Beginilah hasil didikan suamimu mbak Hapsari. Semoga engkau tenang melihat kelakuan anakmu dari atas sana," keluh Soraya yang langsung mendapat protes dari keponakannya.
"Apaan sih? Tante ini aneh deh. Mana mungkin mama Hapsari melihat kita?"
"Aneh dari mana? Dengar ya, Ren! Orang yang sudah meninggal itu bisa melihat kita tapi kita tidak bisa melihat kita," jelas Soraya. "Makanya wasiat orang yang meninggal itu harus dilaksanakan, biar arwah mereka tenang."
Satu jam sudah perjalanan tante dan keponakannya itu. Obrolan mereka pun terpaksa diakhiri.
Mereka bertemu dengan pengacara itu di ruangan pengacara tersebut. Rena menyampaikan maksud kedatangannya yang mencabut gugatannya. Selain itu, Soraya juga konsultasi tentang pernikahannya yang tanpa kepastian.
Setelah satu jam konsultasi, akhirnya mereka pamit undur diri. Soraya memutuskan menemui Kurniawan. Ingin melakukan tabayun guna menyelesaikan masalah mereka.
"Tante sama om Kurniawan mau lanjut atau pisah?" tanya Renata ketika mereka dalam perjalanan pulang.
"Wanita mana yang mau dimadu, Ren? Tante yakin kalau mbak Mira belum tahu jika tante adalah madunya. Jadi, sebelum dia sadar, Tante memilih pisah," jawab Soraya penuh keyakinan.
"Tante jadi janda, dong! Masak umur 36 tahun sudah menjanda," kelakar Renata penuh cibiran.
"Mending 36 tahun sudah merasakan pernikahan selama 15 tahun. Lha kamu baru 3 bulan menikah, umur pun baru genap 20 tahun. Milih menjanda, padahal sudah nggak pera*wan," balas Soraya telak. "Masih mending Tante 'kan?"
Renata terdiam tidak bisa membalas ucapan Soraya. Apa yang dikatakan Soraya benar adanya. Pernikahan Soraya dan Kurniawan tidak bisa dipertahankan lagi, berbeda dengan dirinya yang baru saja memulai.
Tadi malam, Renata sudah merenungkan setiap nasehat yang didengarnya. Egonya terlalu tinggi sehingga tidak bisa melihat ketulusan sang suami. Namun, dia juga belum bisa menerima Ricky menjadi pemilik hatinya.
"Melamun atau meresapi setiap ucapan Tante, hmm?" tanya Soraya tiba-tiba membuat Renata tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Tante keren deh! Kapan-kapan aku mau ikut Tante kalau ada kajian," puji Renata mengalihkan pembicaraan.
"Kamu habis kesambet jin mana? Atau salah minum di kantor advokat tadi? Kok tiba-tiba mau ikuti kegiatan Tante," tanya Soraya heran seraya tangannya terulur dan menempel di kening Renata.
"Ishh, Tante ini!" sungut Renata, menepis tangan Soraya.
"Hahaha ... ini kita mau kemana? Kamu pulang ke rumah suamimu atau pulang ke rumah kami?"
"Ngemall yuk, Tan! Sudah lama nggak ngemall bareng 'kan?" jawab Rena cepat.
"Okelah kalau begitu!"
Akhirnya mereka menuju mall yang dekat dengan kediaman mereka. Mereka hanya melihat-lihat saja tanpa ada niat untuk membeli. Bukan karena tidak ada uang, melainkan hanya ingin cuci mata saja.
Satu jam sudah keduanya mengelilingi mall itu. Tiba-tiba ada panggilan masuk di ponsel Soraya. Tanpa menunggu lama, Soraya langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, Mas."
" .... "
"Ok, kami segera meluncur kesana."
Renata menatap sang tante penuh tanda tanya. Perempuan itu memicingkan matanya hingga alisnya bertaut menjadi sebuah garis.
"Siapa, Tan?"
"Mas Gun, papa kamu minta jemput di bandara sekarang. Mendadak banget, kanjeng ramamu iki nek dawuh sak karepe dewe," jawab Soraya disertai omelan.
(Papamu ini kalau nyuruh sesuka hatinya)
"Hahaha ... Tante kek baru kemarin kenal papa aja. Rena mah udah katam sama papa," ledek Rena sambil tertawa lepas.
"Ehh, papa pulang mau ngapain, Tan? Kalau papa tahu masalahku, bisa gawat ini, Tan!" Tawa Rena langsung menghilang begitu teringat akan masalah yang dibuatnya.
"Tadi ledekin Tante, sekarang bingung 'kan?"
__ADS_1