Nikah Dadakan Dengan Musuh

Nikah Dadakan Dengan Musuh
Part 66


__ADS_3

Ricky bergegas membawa Rena ke rumah sakit langganannya. Dia merasa cemas mendengar rintihan sang istri yang begitu pilu. Untung saja Mama Mira terbangun saat kepanikan melanda calon ayah itu.


Ricky mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Suasana tengah malam yang sunyi memudahkan Ricky menempuh perjalanan ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Ricky langsung membopong sang istri.


"Suster, Dokter, atau siapa pun tolong!" teriak Ricky dengan sang istri masih tetap dalam gendongannya.


Petugas medis yang membawa brankar langsung mendekati pasangan muda itu. Ricky pun menurunkan Rena di atas brankar. Rena memeluk Ricky erat, seolah tak ingin pisah.


"Tenang, kamu jangan takut! Mas akan selalu di sisimu mendampingi kamu. Mas tidak akan ninggalin kamu." Ricky terus mengucapkan kata-kata yang menenangkan.


"Sepertinya Ibu Renata akan segera melahirkan. Sekarang sudah pembukaan lima, sangat cepat untuk kelahiran anak pertama," ucap dokter yang memeriksa Rena.


Dokter itu menyarankan Rena agar tidur miring ke kiri, atau melakukan pergerakan lainnya yang mempercepat proses pembukaan. Beberapa jam kemudian, pembukaan pun lengkap.


Selama proses persalinan, Ricky selalu menemani Rena di ruang bersalin. Tak hanya Rena yang menahankan rasa sakit, Ricky pun kesakitan karena mendapat cakaran kuku sang istri.


Terdengar suara tangis bayi perempuan menggema di ruang bersalin itu. Dada Ricky bergemuruh hebat. Ada rasa bahagia dan haru dalam waktu bersama. Di usianya yang ke dua puluh dua, dia sudah dipanggil ayah.


Tak pernah terbersit dalam benak laki-laki muda itu, dalam pikirannya hanya bekerja membangun usaha sendiri tanpa bayang-bayang keluarganya. Namun, kini dia harus mengelola perusahaan sang ayah, sekaligus membangun usaha sendiri yang mulai berkembang.


Niat hati ingin melanjutkan pendidikan, harus tertunda karena kesibukan mengurus dua perusahaan dengan bidang berbeda sekaligus. Sekarang ditambah kehadiran buah hatinya yang akan semakin menyita waktu.


"Dok, perut saya kenapa masih mulas lagi?" tanya Rena lirih.


Perutnya Rena masih terlihat besar walaupun putri mereka sudah keluar dari rahim.


"Maaf, Bu Rena. Anak Ibu ternyata kembar. Keduanya tinggal dalam satu kantong rahim. Selain itu posisi keduanya selalu berpelukan membelakangi. Jadi, kami salah diagnosa."


"Mari, Bu. Kita bekerja sama lagi untuk mengeluarkan si adik," ajak dokter kandungan itu pada Rena.


Rasa mulas dan sakit itu kembali menyerang Rena. Beberapa menit kemudian, bayi kedua lahir dalam keadaan sedikit lemah dengan berat badan jauh di bawah sang kakak.


Bayi berjenis kelamin laki-laki itu sudah mulai membiru. Tak ada suara tangis mengiringi kelahirannya. Oleh karena itu, baby boy langsung ditangani dokter anak dan diletakkan di inkubator.


Si kakak dalam keadaan sehat, berbanding terbalik dengan si adik yang memliki fisik lebih kecil dan lemah. Keduanya disambut dengan bahagia oleh kedua orang tuanya. Wajah kedua bayi itu sangat mirip Ricky, tak sedikit pun mewarisi wajah sang ibu yang mengandung selama delapan bulan lebih.


"Mas, anak kita kembar. Rena nggak pernah menyangka anak kita kembar. Aku pikir kembar ketuban karena perutku sangat besar. Apalagi mereka tidak pernah bergerak bersama dalam perut," ucap Rena bahagia, haru dan sedih sekaligus.


"Terima kasih, Sayang. Kamu telah mengandung dan melahirkan anak-anak Mas." Ricky berucap seraya mencium seluruh wajah Rena terakhir mengecup dan m3lum4t bibir sang istri.

__ADS_1


Soraya mengajak Ricko ke rumah sakit untuk menjenguk Rena dan anak-anaknya. Awalnya Ricko menolak, melihat raut wajah sendu penuh permohonan dari sang ibu. Mau tidak mau, dia harus menemani. Demi rasa sayangnya pada cinta pertamanya, wanita yang membuatnya ada di dunia ini.


Soraya dan Ricko langsung memasuki lift begitu sampai di rumah sakit. Tanpa mereka tahu, Bimo yang baru saja menjemput abang iparnya juga berada di rumah sakit yang sama. Keduanya keluar dari lift dalam waktu bersamaan dengan lift yang berbeda.


"Mami, jauh lagi nggak kamar Mbak Rena?" tanya Ricko meringis seperti menahan sesuatu.


"Tidak, hanya beberapa kamar lagi kita sampai. Kenapa?"


"Ricko mau ke toilet," jawab Ricko nyengir.


"Ya wis, jalanmu cepetin dikit! Depan itu kamar Mbak Rena."


Ricko berjalan di depan ibunya, bahkan jalannya sedikit berlari karena sudah merasa sesak. Begitu tiba di depan kamar yang ditunjuk kanjeng mami, Ricko menghentikan langkahnya.


"Mami?" tanya Ricko sambil menunjuk pintu di depannya dan diangguki oleh mamiya.


Tanpa mengetuk pintu, Ricko langsung membuka pintu dengan sedikit berlari. Kebetulan Ricky yang baru keluar dari kamar mandi, mengkerutkan dahinya heran. MElihat Ricko berlari ke arahnya.


"Selak kebelet!" teriak sambi menutup pintu kamar mandi.


"Maaf ya, Rick. Kalau Ricko tidak punya sopan santun. Dia sudah nggak tahan lagi," ucap Tante Soraya tiba-tiba sambil berjalan memasuki kamar.


"Bagaimana Rena dan anak-anakmu?" tanya Tante Soraya. Dia tahu memiliki cucu kembar karena sudah curiga dengan perut Rena yang sangat besar sewaktu hamil.


"Rena baru saja tidur setelah mengASihi Kyren," jawab Ricky.


"Kyren itu si kakak apa adik?" tanya Tante Soraya lagi


"Si kakak, Tan. Si Adek belum bisa minum langsung karena berat badanya hanya 1400 gram. Untuk sementara masih di inkubator, minumnya pun pakai alat khusus," jelas Ricky sendu walau pun sudah mencoba tegar.


Bibir Tante Soraya membulat membentuk huruf O, lalu mengangguk tanda mengerti.


"Si kakak berat badanya berapa, Rick?"


"2400 gram, Tan. Tapi sehat makanya bisa ASI langsung ke bundanya," jawab Ricky.


"Seru banget ngobrolnya, sampai duo ganteng di sini tidak terlihat," celetuk Bimo narsis, sehingga mengejutkan Soraya dan Ricky.


Soraya hanya menoleh sekilas pada Bimo dan Kurniawan yang baru saja masuk ke kamar itu. Kedua lelaki itu langsung memberi ucapan selamat pada ayah baru itu.

__ADS_1


"Selamat, Rick! Hebat kamu ya, kehamilan pertama langsung dapat dua, cowok cewek lagi," kelakar Bimo tersenyum lebar sambil menepuk pundak Ricky.


"Terima kasih, Om."


"Pa," sapa Ricky pada sang ayah, lalu mencium punggung tangannya.


"Bagaimana istrimu?"


"Rena sehat, Pa. Sekarang masih tidur," jawab Ricky.


Kurniawan menatap mantan istrinya yang duduk di samping ranjang Rena. Ada rasa penuh kerinduan terlihat jelas di mata laki-laki paruh baya itu. Ternyata kepergiannya ke pondok belum juga menghilangkan rasa cintanya pada sang mantan.


Soraya yang ditatap dengan intens pun salah tingkah, sehingga memutuskan untuk berdiri menyapa kedua laki-laki yang baru saja datang itu.


"Mas Awan apa kabar? Saya dengar di Jogja," tanya Soraya basa-basi.


"B-baik, alhamdulillah. Kamu sendiri dan Ricko bagaimana, Dek?" sahut Kurniawan terbata.


*


*


*


Sambil menunggu up mampir juga ke karya temenku yuk, jangan lupa tinggalkan jejak ya 🤗


Judul : I Am Not A Floozy


Author: Rhuji (Delima Rhujiwati)


Tan Palupi Gulizar nama yang manis. Namun tak semanis perjalanan hidup yang harus ia lalui untuk mencari jawaban siapa jati dirinya yang sebenarnya.


Sosok yang selama ini melindungi dan membesarkannya, ternyata menyimpan sebuah cerita dan misteri tentang siapa dia sebenarnya.


Lika-liku asmara cinta seorang detektif, yang terjerat perjanjian.


Ikuti kisah kasih asmara beda usia, jangan lupa komentar dan kritik membangun, like, rate ⭐🖐️


Selamat membaca 🤗🤗

__ADS_1



__ADS_2