
"Papa?' gumam Ricky yang masih terdengar oleh Renata.
Renata pun mencari keberadaan sang mertua. Wanita muda itu terkesiap kala melihat sang tante dan sepupunya. Ternyata mereka berdua menghilang karena liburan.
"Mana? Mungkin orang yang mirip kali. 'Kan di dunia ini kita punya kembaran lima atau enam, gitu," sahut Renata mencoba mengalihkan perhatian suaminya.
"Aku tuh yakin banget kalau itu papa. Tapi kenapa dia sama Ricko dan tante Soraya? Bukannya mereka baru kenal, ya?" ujar Ricky sangat yakin pada awalnya, kemudian ragu-ragu karena keberadaan Ricko dan tante Soraya.
"Bisa saja 'kan kebetulan mereka bertemu di sini dan berlibur bersama?" tebak Renata.
Renata sengaja tidak mau menceritakan kisah antara ayah mertuanya dengan adik sang papa. Dia merasa itu bukan ranahnya, lebih baik mereka yang bersangkutan menjelaskan sendiri pada Ricky.
Ricky terdiam, bisa saja benar apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Akan tetapi, hati kecil Ricky menolak ucapan Rena. Oleh karena itu, Ricky memutuskan mendekati sang papa untuk meyakinkan hatinya.
"Ayo Mi, kita kalahkan Papi!" teriak Ricko kegirangan.
Bocah remaja itu merasa sangat bahagia karena bisa berlibur dengan formasi lengkap. Ada kedua orang tua yang menemani liburan kali ini, membuat Ricko sama seperti teman-temannya. Padahal selama ini dia sudah tidak berharap akan bisa menikmati liburan bersama sang ayah.
Ricko sudah diberitahu oleh sang ibu, jika keduanya sudah berpisah beberapa tahun lalu. Anak itu sering diejek teman-temannya karena sang ayah tidak pernah hadir, sekedar antar jemput atau mendampinginya di setiap aktivitas. Ricko tidak pernah menuntut lebih pada sang ibu untuk mendapatkan sang ayah lagi.
Ricky yang melihat keakraban dan kebahagiaan ketiga orang di depannya, hanya bisa mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih. Ingin sekali Ricky menghampiri sang ayah, tetapi diurungkan. Dia akan menanyakan hal ini nanti setelah pulang.
Renata mengikuti kemana pun suaminya pergi, dia tidak berani menyapa ataupun menegurkan sang suami. Dia tetap diam di belakang Ricky. Memberikan waktu pada sang suami untuk memahami keadaan orang tuanya.
Setelah dirasa cukup waktu yang diberikan, Renata mengajak suaminya pulang ke hotel.
"Sudah sore, kita pulang ke hotel, yuk!" ajak Renata sembari merangkul lengan Ricky.
"Ayuklah! Lagian kita harus bicara penting. Ada yang mau aku tanya, tapi nanti saja setelah sampai hotel," sahut Ricky lesu, seperti seseorang yang memikul beban berat.
"Aku siap menjawab pertanyaan dari kamu. Aku akan menjawab apa yang aku tahu. Jika aku tidak tahu, aku harap kamu bisa memakluminya," jawab Rena dengan lugas.
__ADS_1
Mereka berdua akhirnya meninggalkan pantai , menuju hotel. Kunjungannya ke Bali kali ini benar-benar membuat pikirannya kacau. Hatinya seperti disayat sembilu, dia tidak menyangka jika ayahnya akan berselingkuh dengan adik mertua sendiri.
Renata bergegas masuk kamar mandi, begitu sampai di kamarnya. Dia ingin menghadapi emosi suaminya dalam keadaan fresh. Agar nantinya tidak terbawa emosi jika tidak ada yang berkenan di hati.
"Mas mandi dulu, biar seger. Habis itu kita baru cerita sambil makan. Buruan keburu aku nggak ada mood buat cerita!" pinta Renata setelah keluar dari kamar mandi.
Ricky menurut demi sebuah cerita dari sang istri tentang sang ayah dan istri mudanya. Banyak hal yang ingin dia tanyakan, jadi dia harus bisa bersabar untuk mendapatkan jawaban yang akurat.
Tak butuh waktu lama untuk Ricky membersihkan diri. Sepuluh menit kemudian, Ricky sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk menutupi bagian pinggang hingga lutut. Berjalan lalu memakai pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri dengan santai.
"Mas ihh, kenapa kamu tidak punya malu sedikit pun?" tegur Renata ketika dilihatnya sang suami memakai pakaian di depannya.
"Kenapa mesti malu, Yank? Kita sudah sering saling melihat bahkan meraba. Lagian kita pasangan halal, malah dapat pahala karena nyenengin pasangan," jawab Ricky dengan tenang
"Diih!" Renata memutar bola matanya malas melihat tingkah sang suami.
"Sudah pesan makanan?" tanya Ricky ketika sudah selesai berpakaian.
Ricky mengangguk lalu berjalan ke arah sofa, dimana istrinya berada.
"Kamu sudah lama tahu jika mereka berhubungan?" tanya Ricky tiba-tiba begitu bo*ongnya jatuh di atas sofa.
Ekhemm ....
Renata berdehem untuk menetralkan suaranya yang hampir saja tercekik karena saking paniknya. Dia tidak menyangka akan secepat ini Ricky bertanya.
"Sudah sejak kecil, mereka menikah saat aku berusia sekitar lima tahun. Saat itu mama Sari masih ada. Rumah eyang tampak ramai oleh tetangga buat masak-masak karena ada acara nikahan tante Soraya dengan seseorang yang ditolongnya."
Renata menjeda sejenak ceritanya. Dia minum beberapa teguk untuk membasahi tenggorokan. Kemudian mulai melanjutkan kembali ceritanya.
Ricky tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun, dia hanya ingin menjadi pendengar saja. Sebenarnya dia sangat terkejut, ternyata sudah sangat lama sang ayah menduakan ibunya.
__ADS_1
"Kami mengenal pribadi om Awan sangat baik waktu itu, sampai delapan tahun yang lalu dia pamit keluar negeri untuk mengembangkan bisnisnya. Namun, setelah dia pergi dia tidak pernah kembali lagi."
"Tante Sora sudah berulang kali melayangkan gugatan cerai, tetapi jawaban om Awan selalu sama. Masih mencintai tante Sora sehingga tidak mau melepaskan. Jadi jangan menyalahkan tante Soraya, jika sampai saat ini masih bersama papamu," pinta Renata pada akhirnya.
"Percayalah, tante Soraya sudah mengatakan pada Ricko bahwa mereka sudah bercerai dan berpisah. Kenapa tante melakukan itu? Dia hanya ingin anaknya, Ricko berhenti mengharapkan kehadiran om Awan untuk bersamanya."
"Aku mohon jangan benci tante Soraya dan Ricko. Mereka adalah korban yang sesungguhnya. Tante Sora tidak tahu jika laki-laki yang menikahinya itu masih memiliki istri sah. Karena pada saat mengurus surat-surat pernikahan, om Awan mengaku sebagai duda."
"Kenapa kamu tidak cerita sejak awal?" bentak Ricky menghentikan cerita yang keluar dari mulut Renata.
Renata menutup wajahnya dengan kedua tangan, air mata sudah menetes membasahi kedua pipinya. Tak sanggup dia bercerita banyak pada sang suami. Selain dada yang sesak bak terhimpit beban berat, menceritakan kisah mereka bukanlah ranah dia.
Ricky menarik Renata masuk ke dalam dekapannya. Memeluk dan mengusap lembut punggung sang kekasih halal.
"Maaf aku sudah membentak kamu," ucap Ricky, tangannya masih mengusap punggung sang istri dengan penuh kasih sayang.
"A-aku ti-tidak bermaksud tidak mau bercerita. Hanya saja waktu itu kita lagi ada masalah. Lagian aku tahu kalau papa kamu itu om Awan setelah kunjungan malam hari itu," ungkap Renata gemetar karena takut Ricky marah.
Sebenarnya buka rasa takut yang dominan, lebih ke merasa bersalah karena tidak menunjukkan kebenaran pada sang suami.
"A-aku m-minta maaf sudah menutupi semua ini dari kamu," pinta Renata sendu.
*
*
*
Sambil menunggu up, mampir juga ke karya temanku ya🤗
__ADS_1