
Freya menghela nafas pelan, lalu dia menatap lurus ke depan. Ada sebuah taman yang luas dengan lampu taman yang terlihat menyala malam ini. "Mama kamu baik, dia hanya menceritakan tentang kamu yang besar bersama Kakek. Oh ya, tapi tadi Mama kamu bilang kalau dia pernah datang ke rumahku dan melihat aku pas masih kecil. Dia bilang kalau nama aku beda. Jelas beda, orangnya saja memang berbeda"
Arven tersenyum tipis, dia melirik Freya yang duduk disampingnya. "Kau cerewet juga ya. Tapi tak apa, aku suka dengan wanita cerewet, anggap saja punya hiburan baru"
Freya hanya mendengus pelan mendengar ucapan Arven. Memangnya aku ini sebuah radio rusak apa, yang dia anggap sebagai hiburan. Dasar aneh.
"Lalu kau jawab apa pada Mama? Aku juga tidak tahu anak kecil yang berada di rumah Bibi Fany dulu, namanya siapa" ucap Arven.
Freya menoleh dan menatap Arven. "Ya aku bilang saja ganti nama karena waktu kecil aku nakal"
Arven langsung tertawa mendengar ucapan Freya barusan. Membuat Freya hanya cemberut kesal karena merasa ditertawakan oleh Arven barusan.
"Hahaha.. Tapi memang sepertinya kau nakal sejak kecil ya" ucap Arven.
Freya mendengus pelan, dia menatap Arven dengan lekat. "Memangnya kamu lihat aku yang berwajah nakal? Aku ini anak baik"
Arven hanya terkekeh mendengar pembelaan Freya barusan. Dia mengacak rambut Freya dengan gemas. Membuat Freya langsung terdiam seketika. Detak jantungnya yang tiba-tiba saja berdebar kencang. Apa yang Arven lakukan benar-benar membuatnya sangat tegang sekarang.
Aduh, kenapa melakukan ini si. Tidak tahu saja jika jantungku langsung ribut sekarang.
########
Mama dan Papa tersenyum melihat anaknya yang terlihat sangat bahagia. Bahkan mereka tidak pernah bisa melihat Arven tertawa begitu lepas seperti itu saat bersama mereka. Selalu saja Arven terlihat sangat serius.
"Sepertinya anak kita itu memang sudah benar-benar jatuh cinta pada Freya" ucap Papa sambil merangkul pinggang istrinya.
Mama mengangguk, dia juga ikut bahagia melihat anaknya yang juga terlihat bahagia sekarang. Meski mereka tidak mendengar langsung apa yang sedang dibicarakan oleh Arven dan Freya.
__ADS_1
"Semoga saja memang Freya yang terbaik untuk suaminya. Dengan begitu dirinya bisa segera menikah dan memikirkan masa depan yang sebenarnya"
Papa mengangguk, memang sangat berharap seperti itu juga. "Kalau anaknya Fany, pasti akan baik. Kita juga sudah tahu bibit dan bebet nya"
Mama mengangguk, memang keluarga mereka masih memikirkan tentang hal itu. Seolah memang ingin anaknya yang mendapatkan pendamping yang setara dengan mereka.
"Eh, Hendrick" panggil Mama saat Hendrick kebetulan lewat disana.
"Iya Nyonya?"
"Kau ini, masih saja panggil saya Nyonya seperti itu. Bilang sama Bibi kamu untuk datang kesini. Kita bisa jadi keluarga yang seutuhnya sekarang" ucap Mama sambil menepuk bahu Hendrick.
"Ah itu, saat ini Bibi dan Paman masih sibuk dengan beberapa urusan. Jadi belum bisa datang. Dan mereka juga belum tahu kalau ternyata Freya dan Tuan Muda berpacaran" ucap Hendrick. mencari alasan yang tepat.
Mama dan Papa hanya mengangguk saja, mencoba mengerti.
#######
Ucapannya yang langsung berhenti ketika melihat tatapan tajam Arven. Tentu saja karena memang Freya yang hampir salah memanggilnya. Tapi 'kan ini hanya ada mereka bertiga, saat ini sedang menuju perjalanan pulang. Tapi Freya heran karena Arven yang malah ikut untuk mengantarkan dirinya ke rumahnya. Jalan ke Apartemennya malah dilewati begitu saja. Entah karena Hendrick lupa atau memang sengaja.
"Em, Sayang, kenapa malah tidak pulang ke Apartemen kamu dulu? Ini 'kan sudah terlewat jalan menuju Apartemen kamu" ucap Freya, meski sedikit takut untuk bertanya.
"Aku ingin menyapa keluargamu"
APA?! Ini tidak boleh sampai terjadi, apa si maksudnya ini. Kita hanya pacaran Kontrak, ayolah tidak perlu menyapa keluargaku juga. Lagian Bibi dan Sinta juga tidak tahu tentang ini.
Rasanya tubuh Freya ingin jatuh seketika saat mendengar ucapan datar dan dingin dari pria yang sedang duduk disampingnya itu. Freya mengela nafas pelan, lalu dia mencoba tersenyum, mencoba untuk tidak terlalu terlihat kaget dengan ucapan Arven barusan.
__ADS_1
"Sayang tidak perlu, sungguh. Lagian jam segini Bibi sudah tidur" ucap Freya dengan semanis mungkin.
Arven langsung melirik tajam pada Freya, membuat gadis itu langsung bungkam. "Apa kau tidak ingin mengenalkan pacarmu ini pada keluargamu? Padahal aku saja sudah mengenalkan kamu pada orang tuaku" tekan Arven.
Apasi dia ini? Pacar apa? Ayolah Tuan Muda, kita hanya pacar kontrak. Kenapa begitu serius.
Freya masih mencoba tersenyum agar tidak membuat Arven kesal dan marah. Tahulah marah pria dingin seperti Arven ini pasti sangat menyeramkan. "Ah, bukan seperti itu Sayang. Tapi sungguh tidak perlu, lain kali saja ya"
Arven malah merangkul bahu Freya, membuat gadis itu langsung terbelalak dengan terkejut. "Sudahlah, kau diam saja. Kenapa melarang pacarmu datang berkunjung ke rumahmu"
Dia benar-benar menganggap pacaran ini nyata. Ya Tuhan apa dia mendadak amnesia? Bukannya dia sendiri yang bilang kalau ini hanya sebuah hubungan pacar kontrak.
Freya yang sudah tidak bisa menahan agar jantungnya tidak terdengar terus berdebar. Sial, kenapa jantungku malah berdebar. Semoga saja dia tidak akan mendengar detak jantungku.
Cup..
Tubuh Freya semakin membeku ketika merasakan sebuah kecupan lembut di puncak kepalanya sekarang. Merasa tidak percaya jika Arven yang melakukan hal itu padanya. Pria tampan yang memintanya untuk menjadi pacar kontrak saja. Sungguh membingungkan.
"Em, Sayang, sebenarnya aku tidak ingin membawa kamu ke rumah. Bukan karena apa-apa, tapi sikap Bibi tidak akan bersikap baik padamu" Ayolah Freya cari cara untuk membatalkan semuanya.
"Kau yakin dia tidak akan bersikap baik padaku? Memangnya dia siapa? Justru aku yang tidak bisa bersikap baik pada mereka"
Deg, sepertinya Ferya baru sadar siapa yang menjadi pacar kontraknya itu. Seorang Tuan Muda kaya raya yang mungkin bisa saja melakukan apapun asalkan dia bisa mendapatkan yang dia inginkan. Termasuk dengan bersikap tegas pada Bibi dan sepupunya. Ferya yakin malam ini akan menjadi perubahan yang cukup besar pada keluarganya itu.
Saat gang menuju rumahnya sudah terlihat, tubuh Ferya benar-benar lebih tegang lagi. Bingung akan apa yang nantinya terjadi saat dia pulang bersama Arven. Mobil berhenti di depan gang, karena memang tidak masuk mobil ke jalan gang itu.
"Ayo turun, kenapa kau hanya diam saja?"
__ADS_1
Ferya mengerjap kaget, dia langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Arven yang sejak tadi merangkulnya. Dia memejamkan matanya, menghela nafas pasrah ketika dia sudah tidak bisa mencari alasan apapun lagi. Apalagi saat Arven yang sudah lebih dulu turun dari dalam mobil.
Bersambung