Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#45# Siapa Pendonornya?


__ADS_3

Brankar Arven dibawa masuk ke dalam ruang operasi itu. Membuat semua keluarga hanya berdo'a agar operasi akan lancar. Arven bisa kembali sembuh dan bisa menjalani hidupnya kembali.


"Pa, semoga saja operasinya lancar ya" ucap Mama.


Papa langsung merangkul bahu istrinya, dia juga berharap seperti itu. "Pasti, Arven akan sembuh dan baik-baik saja"


Dan mereka hanya bisa menunggu diluar ruangan operasi itu sambil terus merapalkan do'a agar operasi bisa berjalan lancar dan Arven akan sembuh kembali. Sampai beberapa jam, barulah lampu depan pintu ruangan operasi itu mati. Menandakan jika operasi telah selesai dijalani.


Semuanya hanya tinggal menunggu Dokter keluar dan menanyakan keadaan Arven. Sampai beberapa menit kemudian, Dokter dan beberapa perawat keluar dari ruang operasi itu. Langsung menemui keluarga pasien dan menjelaskan tentang keadaan pasien sekarang.


"Operasinya berjalan lancar, sekarang kita tinggal menunggu saja bagaimana perkembangan ginjal baru dalam tubuh pasien. Semoga saja tidak ada penolakan"


Penjelasan Dokter itu membuat semuanya sedikit lega, setidaknya  Arven  telah selesai menjalani operasi dengan lancar.


"Baik Dok, terima kasih banyak" ucap Papa.


"Baiklah, sebentar lagi pasien akan di bawa ke ruang rawat. Kalian bisa menunggunya disana"


Setelah Dokter pergi, maka semua anggota keluarga itu berlalu ke ruang rawat, karena sebentar lagi Arven akan dipindahkan ke ruang rawat.


"Sebenarnya siapa malaikat yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Arven. Apa kau tahu Hendrik?" tanya Papa.


Hendrick menggeleng pelan. "Saya juga tidak tahu, yang tahu semuanya hanya Dokter dan pihak rumah sakit. Tapi Dokter juga tidak memberi tahukan siapa yang mendonorkannya"


Mendengar hal itu membuat Papa semakin bingung dan penasaran. Rasanya tidak akan pernah dia melupakan sosok orang yang telah menyelamatkan anaknya. Bagaimana Papa yang selalu takut kehilangan anak semata wayangnya ini. Bersyukur karena ada yang mau mendonorkan ginjal untuk anaknya ini.


"Mama jadi penasaran siapa yang begitu baik sampai mau mendonorkan ginjalnya untuk Arven. Pasti dia adalah orang yang sangat baik"


Semua orang akan berpikir seperti itu, apalagi saat identitas orang itu belum diketahui. Sementara banyak orang yang mungkin akan meminta imbalan yang sangat besar jika dia mau mendonorkan salah satu ginjalnya. Tapi, kali ini bahkan identitasnya pun tidak ingin diketahui.

__ADS_1


"Yang jelas dia adalah sosok malaikat penolong untuk kita" ucap Papa.


Hendrick hanya mengangguk dan diam saja, dia juga berpikir yang sama. Dia memang yang terbaik.


########


Perlahan kedua mata yang sejak tadi terpejam itu, mulai mengerjap pelan sampai akhirnya terbuka sempurna. Arven menatap sekelilingnya dan melihat kalau dia memang masih berada di ruangan rumah sakit. Perlahan ingatannya kembali terkumpul, saat dia yang tadi dibawa masuk ke dalam ruang operasi. Itu artinya sekarang operasi sudah berjalan lancar.


"Arven, syukurlah kamu sudah sadar. Bagaimana sekarang? Apa ada yang kamu rasakan? Apa ada yang sakit?" Tanya Mama.


Arven menatap Mama dengan mengerjapkan mata pelan, suaranya masih belum kembali. Tenggorokannya yang masih terasa kering dan tidak bisa berbicara dulu untuk saat ini.


Papa yang melihat anaknya sudah sadarkan diri, segera memanggil Dokter dan Arven pun mulai diperiksa tentang keadaannya.


"Sampai saat ini perkembangan ginjal barunya sangat bagus. Semoga tidak ada kendala lagi ya, semoga tubuh pasien menerima organ tubuh baru ini"


Pertanyaan yang sama dengan yang dipikirkan yang lainnya. Arven juga begitu penasaran dengan pendonor yang telah menyelamatkan hidup Arven saat ini.


"Untuk saat ini memang belum bisa dikasih tahu. Nanti kami akan segera memberi tahu anda" ucap Dokter.


Hal itu malah semakin membuat Arven penasaran. Dia ingin tahu siapa pendonor sebenarnya yang telah merelakan satu ginjalnya untuk Arven.


######


Seminggu setelah Arven menjalani operasi, ternyata semuanya memang berjalan baik. Tidak ada keluhan apapun setelah adanya organ baru yang masuk ke dalam tubuh Arven ini. Membuat dia sudah cukup terlihat lebih baik sekarang. Namun sampai saat ini, Arven masih merasa bingung dan penasaran siapa yang telah mendonorkan ginjal padanya.


"Hen, kapan aku bisa pulang dari rumah sakit? Bukannya semuanya sudah baik-baik saja" ucap Arven.


"Masih perlu masa pemulihan, jadi masih belum bisa diizinkan pulang oleh Dokter" jawab Hendrick.

__ADS_1


"Apa kau tahu sesuatu tentang pendonor itu?" tanya Arven.


Hendrick terdiam beberapa saat, seolah dia mempunyai keraguan untuk menjawabnya. Meski sebenarnya dia juga tidak tahu harus menjawab seperti apa. "Tidak, yang tahu semuanya hanya pihak rumah sakit dan Dokter. Aku juga tidak tahu siapa yang telah mendonorkan ginjal untukmu"


Arven menghela nafas pelan, sekarang dia juga mengerti kalau tidak mungkin dia terus bertanya pada Hendrick dan yang lainnya. Karena jelas tidak ada yang tahu selain Dokter dan pihak rumah sakit.


"Hari ini kau boleh keluar kamar, mau jalan-jalan ke taman rumah sakit?" ucap Hendrick.


Arven mengangguk saja, tentu saja dia juga merasa bosan terus berada di ruang rawat ini. "Bawa aku kesana, aku bosan terus berada disini"


Dan Hendrick pun membawa Arven keluar dari ruang rawat menggunakan kursi roda. Menikmati suasana hangatnya matahari pagi di taman rumah sakit ini. Banyak pasien yang juga sedang berjemur di taman ini bersama dengan keluarga atau perawat mereka.


Arven tersenyum tipis karena akhirnya dia bisa menghirup udara segar di pagi hari. Sinar matahari yang terasa hangat menyentuh kulitnya. Keadaan Arven juga semakin membaik.


"Bagaimana dengan proyek terakhir kita? Apa ada kendala selama aku sakit?" tanya Arven.


Hendrick hanya menghela nafas pelan, memang Arven yang tidak pernah melupakan pekerjaannya meski sedang sakit sedikit pun.


"Semuanya berjalan lancar dan sesuai rencana. Sekarang kau hanya perlu fokus pada kesembuhanmu ini" ucap Hendrick.


Arven mengangguk pelan, dia juga akan fokus dengan kesembuhannya. Karena memang dia juga ingin segera kembali beraktivitas seperti biasanya.


"Setelah proyek ini selesai, jangan tambah proyek lain. Aku ingin kembali ke Indonesia saja" ucap Arven.


Arven yang sudah merasa cukup untuk melarikan diri dari tanah air hanya karena putus cinta. Merasa jika sekarang memang sudah waktunya dia untuk kembali lagi ke tanah air dan memulai kembali hidupnya disana.


"Baiklah, memang sudah saatnya kembali. Waktu menenangkan dirinya sudah selesai sekarang" ucap Hendrick yang di jawab anggukan oleh Arven.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2