
"Makan dulu ya" ucap Arven sambil mengambil makanan yang baru saja diantar oleh perawat ke ruangan Freya.
Freya menatap malas makanan yang berada di tangan Arven itu, rasanya sudah sangat bosan memakan makanan rumah sakit seperti itu.
"Kenapa? Apa tidak suka dengan makanannya?" tanya Arven.
Freya menggeleng pelan. "Bosan saja terus makan makanan rumah sakit seperti itu"
Arven kembali menyimpan makanannya di atas nakas, lalu dia duduk di pinggir ranjang pasien. Mengelus pipi Freya dengan lembut. "Terus maunya makan apa? Kamu tetap harus banyak makan agar bisa segera pulih dan bisa segera keluar dari rumah sakit. Memangnya mau terus berada disini?"
Freya menghembuskan nafas pelan, lalu dia menggeleng pelan. "Aku mau makanan diluar, bosan sama makanan rumah sakit. Semuanya rasanya hambar, gak enak"
Arven meraih tangan Freya, menggenggamnya dengan lembut dan memberikan kecupan di punggung tangannya itu. "Dipaksain dulu ya, nanti kalau sudah diizinkan Dokter untuk pulang. Baru kita akan berjelajah kuliner disini. Aku tahu beberapa tempat yang menyajikan makanan enak"
Freya menatap Arven dengan antusias, saat itu dia berencana ingin berjelajah kuliner disini. Tapi di saat pikirannya yang masih kacau, apalagi dengan melihat keadaan Arven saat itu. Membuat Freya tidak jadi untuk melakukan niatnya itu saat datang ke Negara ini.
"Beneran ya? Aku memang ingin menikmati liburanku disini sekalian saja. Sebelum kembali ke Indonesia dan kembali bekerja" ucap Freya.
Arven mengelus pipi Freya dengan lembut. "Iya Sayangku, aku akan menuruti keinginan kamu asalkan yang tidak membahayakan kesehatan kamu"
Wajah Freya memerah mendengar ucapan Arven barusan. Rasanya sudah terlalu lama untuk mereka saling mengucapkan kata romantis seperti ini. Membuat Freya sedikit merasa canggung.
Arven terkekeh melihat wajah Freya yang memalu itu, selalu terlihat menggemaskan dimatanya. "Kenapa malu? Bukankah itu adalah panggilan kesukaanmu ya?"
"Apaan si, kita 'kan sudah lama berpisah. Jadi aku canggung mendengar panggilan itu lagi" ucap Freya.
Arven hanya tersenyum saja, rasanya dia memang sangat merindukan masa-masa seperti ini. Bersama Freya dan saling memanggil Sayang dengan romantis. Selama tiga tahun ini, hidupnya terasa hampa dan seolah tidak ada tujuan hidup yang lain.
__ADS_1
"Aku akan segera mengurus pernikahan kita, aku tidak mau kalau sampai kau lepas lagi dariku" ucap Arven, setelah selesai menyuapi Freya makan.
"Kamu yakin? Lalu orang tuamu?" tanya Freya dengan tatapan penuh ragu. Tahu jika orang tua Arven tidak pernah menyetujui hubungan mereka.
"Aku akan bicara pada mereka, tapi ada atau tidak adanya restu mereka. Aku akan tetap menikahimu" tegas Arven, sampai kapan pun dia tidak akan mau berpisah lagi dengan Freya.
Freya hanya diam, dia tahu jika Arven sudah mengambil keputusan, maka tidak mungkin juga dirinya bisa membantah. Sekarang Freya yang akan mengikuti alur saja, biarkan Arven yang menjadi petunjuk jalan hidupnya ini.
"Kata Dokter kapan kamu boleh pulang? Kenapa bisa aku duluan yang diizinkan pulang" ucap Arven.
"Karena dua hari setelah operasi, aku sempat drop. Jadi sekarang Dokter masih belum mengizinkan aku pulang, dia ingin memastikan dulu jika satu ginjalku bisa bekerja dengan baik" ucap Freya apa adanya.
Wajah Arven berubah sedih mendengar ucapan Freya barusan. Jelas saja dirinya tidak akan pernah mau kalau sampai Freya kenapa-napa. Tapi sekarang yang membuat Freya terbaring di ranjang pesakitan ini, adalah dirinya. Hanya demi kesembuhannya, Freya rela terbaring di ranjang pesakitan ini.
"Sayang, aku minta maaf ya. Karena aku sudah membuat kamu hanya memiliki satu ginjal saja. Maaf karena aku sudah membuat kamu sulit" ucap Arven.
"Kamu tahu gak, kalau sebenarnya aku lebih baik terbaring di ranjang ini daripada aku hanya diam saja saat aku bisa membantu kamu sembuh. Karena sebenarnya aku bisa bertahan 3 tahun ini, karena aku selalu melihat kabar kamu yang terlihat baik-baik saja. Dan lihatlah, ketika aku tahu kalau keadaan kamu tidak baik. Maka aku tidak bisa hanya diam saja"
Dan air mata Arven menetes begitu saja, dia terlihat sangat lemah sekali untuk saat ini di depan Freya. Bagaimana dulu dia yang pernah menganggap Freya sama saja dengan wanita lainnya. Apalagi pernah terucap kata benci dari mulutnya untuk Freya. Meski hatinya tidak pernah bisa untuk membenci Freya. Dan sekarang Arven benar-benar menemukan sosok perempuan yang begitu tulus mencintainya sampai sebesar ini.
"Maafkan aku, karena aku tidak bisa membantu kamu saat terkena ancaman dari Papa" lirih Arven dengan kepala menunduk.
"Hey Sayang..." Freya mengusap air mata Arven dengan ibu jarinya, dia mengangkat kembali wajah Arven agar menatapnya. "...Tidak perlu menyesali apa yang sudah terjadi. Sudah aku bilang kalau saat itu bukan karena kesalahanmu. Wajar saja kalau Papa kamu tidak ingin anaknya bersama wanita sepertiku. Karena semua orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya"
"Tapi hanya kamu yang terbaik untuk aku" ucap Arven, dengan air mata yang kembali menetes.
Entahlah, tapi saat ini dia benar-benar sedang menjadi pria lemah. Semuanya sudah terlalu berat untuk dia hadapi, dan sekarang hanya di depan wanitanya dia bisa menunjukan kesedihan dan kerapuhannya ini.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu buktikan semua itu pada orang tuamu. Oke?" ucap Freya tersenyum.
Arven mengangguk cepat. "Ya, aku akan menunjukan pada Papa kalau tidak ada lagi yang pantas untuk aku selain kamu"
Freya tersenyum mendengar itu, dia memeluk Arven dan menepuk punggungnya dengan lembut. Menenangkan pria itu yang sedang rapuh.
"Sekarang aku mau ke taman, sore hari cuacanya bagus" ucap Freya.
"Aku bantu gendong ya, kamu pakai kursi roda saja" ucap Arven.
"Tidak perlu, sekarang aku sudah bisa mulai berjalan kok. Lagian kata Dokter juga tidak boleh kalau terus pakai kursi roda, harus mulai berjalan agar lebih terbiasa" ucap Freya.
"Tapi Sayang, kalau luka kamu sakit lagi bagaimana"
Freya tersenyum melihat Arven yang khawatir, sementara dirinya saja tidak memikirkan keadaannya. Bagaimana dia yang juga habis operasi dan baru saja sembuh.
"Sayang, memangnya kalau kamu gendong aku gak akan berpengaruh pada bekas luka kamu itu. Kan kamu juga sama seperti aku, habis melakukan operasi" ucap Freya.
"Aku sudah sembuh, makanya sudah diizinkan pulang oleh Dokter"
"Mana, coba aku lihat bekas lukanya" ucap Freya.
Arven menyingkap sedikit kaos yang dipakainya, dan terlihat bagian samping perutnya yang masih di perban.
"Itu belum sembuh namanya, masih terpasang perban kayak gitu. Udah ah, kita jalan bersama saja" ucap Freya.
Bersambung
__ADS_1