Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#17# Sebuah Bentuk Perpisahan?!


__ADS_3

Arven yang sampai saat ini masih belum mengerti tentang perasaannya yang selalu merasa bahagia saat bersama dengan Freya.


Freya yang terus di tatap oleh Arven merasa tidak nyaman juga. Dia hanya mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak saling pandang dengan Arven. Tentu saja dia sangat malu dan juga dia sedang menetralkan perasaannya yang sejak tadi jantungnya terus berdebar dengan tatapan Arven padanya.


Apa si dia ini? Kenapa menatapku seperti itu. Gumamnya dalam hati, sampai Freya tidak sadar jika dia makan di piring yang sama bahkan sendok yang sama dengan Arven. Entah kenapa dirinya tidak sadar dengan apa yang dia lakukan.


Sementara Arven hanya tersenyum saja melihat apa yang dilakukan oleh Freya malam ini. Sungguh makan malam kali ini, cukup membuatnya senang.


"Sekarang aku pulang ya, sudah malam" ucap Freya.


Acara makan malam itu selesai, dan sampai saat ini Freya belum menyadari apa yang dia lakukan. Bagaimana dia yang makan di piring dan sendok yang sama.


Arven yang sedang duduk membaca buku itu, langsung menoleh pada Freya yang sudah membawa tasnya. Meraih tangan kekasihnya itu dan mengecup punggung tangannya, membuat Freya lagi-lagi kaget dengan apa yang dia lakukan.


"Kau diantara oleh Hendrick ya, aku tidak bisa mengantar malam ini" ucap Arven.


Apa ini? Kenapa aku terharu dengan perhatiannya ini. Ayolah Freya, jangan sampai terperangkap dengan perasaanmu sendiri. Pria ini hanya Tuan Muda yang melemparkan surat perjanjian sebagai pacar kontrak. Jangan sampai kamu punya perasaan lebih.


Benteng tinggi yang sedang Freya bangun dalam hatinya. Tidak mau sampai nanti dirinya akan semakin sulit untuk pulang jika dia sudah nyaman di rumah baru yang ternyata tidak akan menjadi tempat tinggalnya untuk selamanya. Harus sadar jika sebenarnya dia hanya singgah, bukan untuk tetap tinggal.


"Ah, Sayang tidak papa. Kamu pasti masih ada pekerjaan 'kan. Aku bisa pulang sendiri kok. Terima kasih ya untuk makan malam kali ini" ucap Freya, berusaha tersenyum meski jantungnya masih berdebar dengan apa yang Arven lakukan barusan.


"Baiklah, tapi duduklah di kursi belakang. Jangan duduk disamping Hendrikc. Faham?" tekan Arven dengan tatapan yang berubah dingin.


Apaan dia ini? Mengatur-ngatur aku dan posisi duduk aku segala. Dasar aneh.

__ADS_1


"Baiklah"


Nyatanya Freya tetap tidak akan bisa melayangkan protes apapun pada Arven. Daripada semakin memperpanjang masalah dan akhirnya dia tidak akan bisa cepat pulang. Lebih baik dia tetap menuruti saja.


"Apa tidak ada bentuk perpisahan?" tanya Arven.


Bentuk perpisahan yang tentunya berbeda dengan waktu itu. Jelas setelah saat itu, Hendrick langsung mengiriminya pesan untuk memperbaiki sikap Freya yang salah dalam memberikan bentuk perpisahan yang diingikan Arven.


Bentuk perpisahan yang Tuan Muda inginkan adalah sebuah kecupan atau hal yang memanjakan dia lainnya, seperti pelukan juga.


Sial, akhirnya aku harus melakukan bentuk perpisahan yang di inginkan Tuan Muda ini. Padahal berusaha sekali aku menghindari ini.


"Aku pulang dulu ya Sayang, selamat malam dan istirahat dengan nyaman" ucap Freya yang memberikan kecupan singkat di kening Arven, lalu dia segera berlari pergi dari hadapan pria itu. Tersenyum sendiri dengan apa yang dia lakukan.


Arven juga hanya terkekeh gemas dengan apa yang dilakukan Freya, memegang keningnya yang masih terasa sisa hangat bibir Freya yang tadi menempel di keningnya.


Freya baru saja membuka ponselnya di jam kerja, saat pelanggan Restaurant masih belum ramai. Biasanya akan sangat ramai saat jam makan malam nanti. Freya jadi punya waktu sebentar untuk membuka ponselnya yang sejak tadi berbunyi.


Beberapa pesan hanya masuk dari grup kelas di Kampus. Freya hanya membuka dan menyimak saja, lalu dia melihat pesan dari Hendrick dan juga nomor asing yang belum dia simpan. Jari Freya sedikit bergetar saat dia menekan pesan dari Hendrick karena pastinya pesan itu tentang Tuan Muda.


Nona, tolong balas pesan dari Tuan Muda segera!


Pesan dengan imbuhan tanda seru itu membuat Freya sedikit mengerutkan keningnya karena dia belum bisa mengerti dari arti pesan itu. Namun dia ingat ada satu pesan dari nomor tidak dikenal yang belum dia buka. Segera Freya membuka pesan itu yang ternyata benar dari Arven.


Malam nanti, aku ingin makan malam bersama denganmu lagi.

__ADS_1


Freya menghela nafas pelan, dia mulai mengetikan sesuatu disana. Jelas menolak keinginan Arven dengan lembut. Karena dia yang tidak mungkin meninggalkan pekerjaannya lagi.


Setelah membalas pesan, Freya kembali bekerja. Mengabaikan ponselnya yang bergetar di dalam saku apron yang dia kenakan. Karena mau bagaimana pun Freya tetap harus fokus pada pekerjannya.


Apalagi hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi Restaurant akan segera ramai dengan orang-orang yang mau makan malam disana. Atau banyak yang memesan ruangan VVIP untuk sebuah dinner romantis dengan pasangan mereka.


Karena Freya yang sedang bekerja membuat dia tidak bisa mengecek ponselnya lagi, meski beberapa kali bergetar. Tidak tahu jika penolakannya terhadap ajakan Tuan Muda itu malah menjadi sebuah huru-hara.


Freya yang sedang mengantarkan makanan ke arah meja yang hampir dekat dengan pintu masuk itu, langsung tertegun saat melihat Arven dan Hendrick yang masuk ke dalam Restaurant ini. Freya langsung menghampiri mereka setelah dia menata makanan pesanan pelanggan di mejanya.


"Em, kalian mau apa kesini?" tanya Freya dengan bingung dan juga gugup.


"Aku mau makan disini, masih ada ruangan VVIP yang kosong?" ucap Arven dingin, sepertinya dia sedang menunjukan kekesalannya pada Freya yang bahkan tidak membalas lagi pesannya. Teleponnya juga tidak dia angkat.


"Ah itu, masih ada. Mari saya antar" ucap Freya, dengan cara biasa dia melayani tamu sebagai pelayan di Restaurant ini.


Freya mengantar Arven dan Hendrick ke ruangan VVIP. Dia sedikit bingung kenapa Arven yang terlihat begitu dingin dan kesal padanya. Padahal Freya tidak melakukan kesalahan apapun, selain menolak ajakannya makan malam bersama.


Ah, iya, pastinya dia akan marah karena hal ini. Tapi mau bagaimana lagi, aku juga tetap harus bekerja.


"Baik Tuan, kalau begitu di tunggu pesanannya ya" ucap Freya yang sudah mencatat pesanan makanan yang diucapkan oleh Hendrick. Karena Arven hanya diam saja dengan wajah dingin.


Freya berbalik dan ingin segera melangkah pergi dari ruangan itu. Namun langkahnya terhenti mendengar ucapan Arven.


"Aku akan menunggumu selesai dan kita harus makan malam bersama"

__ADS_1


Freya memejamkan matanya mendengar ucapan Arven barusan. Padahal kenyataannya dia ingin Arven dan Hendrick segera selesai makan dan pergi. Tapi ucapan Arven barusan membuatnya bingung sekarang. Entah harus bagaimana lagi Freya menghadapi sikap Arven.


Bersambung


__ADS_2