Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#63# Kau Layak Diperjuangkan!


__ADS_3

Ketika masuk ke dalam rumah, ternyata kedua orang tua Arven sudah menunggu mereka di ruang tengah. Arven menggandeng tangan Freya dengan erat, apapun yang terjadi, dia yang akan selalu melindungi Freya dan membelanya dari kedua orang tuanya.


"Wah, ingat pulang ke rumah juga kau? Sudah pulang dari 4 hari yang lalu, dan baru ingat pulang ke rumah hari ini. Apa sudah melupakan orang tuamu ini?" ucap Papa dengan penuh sindiran pada Arven.


Arven tidak menanggapi ucapan Papa, dia menghampiri mereka dan duduk di sofa depan Mama dan Papa. "Aku ada urusan sebentar sampai baru pulang sekarang. Dan aku datang kesini juga bermaksud untuk meminta restu kalian untuk pernikahan aku dan Freya"


Brak,, Papa langsung memukul meja di depannya dengan keras. Hingga vas bunga di atasnya jatuh dan pecah. Mama langsung memegang tangan suaminya agar lebih bisa mengendalikan emosinya kali ini.


"Pa sabar dulu, jangan langsung marah seperti ini" ucap Mama.


Freya sudah ketakutan, dia merangkul erat lengan Arven dengan wajahnya yang menunduk. Tangannya bergetar dan sudah berkeringat dingin, melihat reaksi Papa barusan, tentu saja tidak akan mudah untuk mengahdapinya.


Arven memegang tangan Freya yang merangkul lengannya. Mengusap-ngusapnya dengan lembut agar Freya sedikit tenang. "Aku kesini hanya ingin bilang itu saja, kalau memang Papa tidak mau merestui, tidak papa"


"Kau benar-benar sudah berubah ya Arven Widianto! Apa yang diberikan gadis ini sampai kau banyak mempermalukan keluarga karena dia. Bahkan kau mengakhiri hubunganmu dan Katlyn karena gadis ini yang kembali muncul lagi dalam kehidupanmu 'kan" ucap Papa dengan amarah yang tertahan.


Arven menghela nafas pelan, dia menatap Ayahnya dengan lekat. "Ya, karena mungkin memang dia yang bisa membuat aku jatuh cinta. Selama ini aku bersama Katlyn juga sama sekali tidak bisa menggantikan Freya dalam hatiku. Jadi untuk apa aku teruskan hubungan tidak sehat itu, tidak ada gunanya"


"Hei kau!" Papa menatap ke arah Freya, dan gadis itu langsung mendongak dan menatap Papa dengan ketakutan. "...Apa kau masih tidak sadar diri siapa dirimu, sampai tega merebut Arven dari tunangannya"


Freya terdiam, dia tidak bisa berkata-kata. Melihat tatapan dingin Papa benar-benar membuat Freya sangat takut. Entah kenapa bayangan saat dulu Bibi dan Sinta yang kecelakaan secara bersamaan karena Freya yang tidak mau menuruti keinginan Papanya Arven ini, kembali terbayang dalam ingatan Freya. Dia takut jika hal itu akan terjadi lagi.


"Jangan lagi menekannya Pa! Apa belum puas dulu Papa mengancam gadis tidak bersalah ini hingga dia harus memutuskan hubungan denganku. Tanpa sadar bukan hanya dia yang Papa hancurkan, tapi juga aku Pa. Aku yang juga hancur karena hal itu" ucap Arven.

__ADS_1


"Kamu sudah banyak membuat malu keluarga ini, Arven. Mulai dari ketahuan jika dulu kalian hanya pura-pura pacaran, dan sekarang kamu mengakhiri hubungan kamu dengan Katlyn. Kamu tahu jika keluarga Katlyn itu adalah rekan kerja kita yang cukup berpengaruh untuk perusahaan. Kenapa kau bodoh sekali sampai melepaskan wanita seperti Katlyn hanya demi gadis seperti dia" ucap Papa yang tidak habis pikir dengan anaknya ini.


"Asal Papa tahu, Freya ini yang sudah mendo..."


"Sayang jangan" Freya langsung memegang tangan Arven dengan erat.


Bukan karena Freya ingin menyembunyikan semua ini. Tapi dia rasa belum saatnya orang tua Arven tahu tentang semua ini.


"Pokoknya, Papa tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian. Kalau kau masih juga keras kepala, maka keluar dari rumah ini dan jangan pernah lagi masuk ke perusahaan. Cari saja pekerjaan sendiri!"


"Papa, jangan keterlaluan sama anak kita. Dia anak kita Pa, masa dia harus mencari pekerjaan lain diluar sana" ucap Mama yang sejak tadi sudah menangis, bahkan dia begitu terluka melihat anak dan suaminya yang bertengkar seperti ini.


"Biarkan saja dia memilih Ma, apa masih mau mempertahankan gadis itu maka dia harus siap kehilangan semuanya. Karena dia belum sadar kalau hanya demi seorang gadis seperti dia membuatnya bodoh dan sampai melakukan banyak kesalahan yang membuat keluarga kita malu"


"Tidak! Apa-apaan kamu ini Freya! Kenapa seperti itu" tekan Arven yang tidak suka dengan ucapan Freya.


Freya langsung menoleh pada Arven, dia menatapnya dengan lembut. "Kamu tidak bisa kalau harus meninggalkan semuanya. Sayang, kamu tidak harus berkorban begitu besar hanya untuk bersama denganku"


Arven menggeleng pelan, dia menatap Papa dengan lekat. "Baiklah, aku tidak akan masuk lagi ke perusahaan Papa. Lagian aku bisa mencari pekerjaan yang lain"


"Haha. Kamu pikir mencari pekerjaan itu gampang? Cobalah kalau memang kau akan kuat menjalani hidup tanpa fasilitas dari Papa" ucap Papa.


Arven hanya mengangguk, dia menarik tangan Freya untuk segera keluar dari rumah ini. Namun Mama yang mengejar mereka membuat Arven menghentikan langkahnya. Tahu kalau Mama pasti sangat sedih dengan keputusan yang diambil oleh Arven ini.

__ADS_1


"Arven, tolong jangan seperti ini, Nak" ucap Mama dengan air mata yang mengalir di pipinya.


Arven menggeleng pelan, dia memeluk Mama dengan erat. "Maafkan aku Ma, karena tidak menjadi anak yang baik. Tapi saat ini aku hanya ingin memperjuangkan kebahagiaanku. Karena bahagiaku hanya bersama Freya. Tolong Mama izinkan aku pergi. Nanti datanglah di acara pernikahan kami kalau Mama mau datang"


Mama terisak dalam pelukan Arven, sungguh dirinya memang sangat tidak menyangka jika akhirnya akan seperti ini. "Mama akan mencoba bicara sama Papa ya. Kalian tenang saja, Mama akan berusaha memberikan pengertian pada Papa kalau kalian memang harus bersama"


Arven tersenyum mendengar itu, dia mengecup pipi Ibunya itu. "Terima kasih ya Ma"


Mama mengangguk, dia beralih menatap Freya. Mama meraih tangan Freya dan menggenggamnya dengan lembut. "Mungkin memang ada sebuah kelebihan yang kami tidak ketahui sampai anak Mama ini bisa tergila-gila seperti ini padamu. Sekarang Mama serahkan anak Mama ya Freya, tolong jaga dia"


Freya mengangguk dengan ari mata yang ikut menetes. Sungguh dia juga tidak ingin keadaan dan situasinya jadi seperti ini. Tapi apa boleh buat saat Arven saja tidak mengizinkannya untuk menyerah begitu saja.


"Iya Nyonya, saya akan menjaganya"


Setelah berpamitan pada Mama, mereka langsung pulang. Di dalam mobil, keduanya hanya diam saja tanpa banyak bicara. Mungkin masih memikirkan tentang tindakan yang akan diambil kedepannya. Setelah hari ini mereka sudah mengambil keputusan yang begitu besar. Apalagi untuk Arven, dia bahkan rela meninggalkan semuanya hanya demi bisa bersama dengan Freya.


"Kenapa kau berniat untuk meninggalkanku lagi? Apa tidak cukup perjuanganku ini untuk bisa bersama denganmu?" tanya Arven, jelas terdengar nada tidak suka dari cara bicaranya ini.


Freya menghembuskan nafas pelan, sebenarnya dia juga bingung harus menjawab apa. "Aku hanya tidak mau kamu harus sampai meninggalkan rumah dan perusahaan juga. Aku tidak layak diperjuangkan sampai sebesar itu"


"Kau layak aku perjuangakan, faham!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2