Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#42# Perasaannya Yang Masih Untuk Arven!


__ADS_3

Freya menghentikan motornya di depan gerbang rumah mewah yang pernah dia kunjungi, meski hanya sekali saja dia pernah mengunjungi rumah ini. Saat hubungan dirinya dan Arven masih terikat dengan sebuah kontrak kerjasama. Dan hari ini, Freya kembali datang ke rumah ini. Bukan sebagai kekasih Arven, melainkan sebagai mantan pacarnya.


Freya mengetuk pintu gerbang dan melirik ke arah pos satpam disana. "Pak, bisa tolong buka gerbangnya"


Satpam yang berada di dalam pos itu, langsung keluar ketika mendengar suara Freya barusan. Pekerja disini tentunya tidak akan mudah mengingat Freya, karena dirinya juga hanya pernah berkunjung satu kali saja ke rumah ini. Jadi, kalau mereka tidak ingat, tentunya sangat wajar. Belum lagi penampilan Freya saat datang ke rumah ini sangatlah berbeda dengan penampilannya sekarang.


"Iya Neng, mau apa ya?" Tanya Pak Satpam disana, masih belum membukakan gerbang untuk Freya.


"Pak, saya ada perlu sebentar dengan Nyonya dan Tuan di rumah ini. Apa bisa bukakan pintu gerbangnya untuk saya" ucap Freya dengan sopan.


"Maaf Neng, tapi Nona dan Tuan Besar sedang tidak ada disini. Mereka pergi ke luar Negeri untuk menemui Tuan Muda"


Penjelasan Pak Satpam itu membuat Freya langsung terdiam beberapa saat. "Kalau boleh saya tahu, Tuan Muda sakit apa ya?"


Pak Satpam itu terlihat ragu untuk mengatakan yang sebenarnya ketika dia mendengar ucapan Freya barusan. Seolah tidak yakin untuk memberi tahukan sakit yang sedang diderita oleh Tuan Muda di rumah ini.


"Saya temannya Pak, semoga saja saya bisa membantunya" ucap Freya lagi mencoba untuk meyakinkan.


Pak Satpam menghela nafas pelan, dia sepertinya memang harus mengatakannya pada Freya. Melihat gadis itu yang sepertinya memang sudah sangat ingin tahu tentang sakit yang di derita oleh Arven saat ini.


"Tuan Muda mengalami gagal ginjal yang sudah sangat parah. Jalan satu-satunya untuk sembuh adalah mendapatkan donor ginjal yang cocok. Tapi sampai saat ini belum menemukannya"


Tubuh Freya terasa sangat lemas sekali ketika mendengar ucapan Pak Satpam barusan. Tentunya karena dirinya yang tidak pernah bisa melihat Arven kenapa-napa. Selama ini, Freya akan merasa baik-baik saja selama prianya juga hidup dengan baik.

__ADS_1


"Pak, nama rumah sakit yang merawat Arven di luar Negara itu apa? Aku akan datang kesana kalau menemukan donor yang cocok untuknya" ucap Freya.


Dan Pak Satpam menyebutkan nama sebuah rumah sakit di luar negara itu. Setelah mendapatkan informasi yang dia inginkan. Freya langsung pergi dari depan rumah orang tua Arven itu.


Dalam perjalanan mengendarai sepeda motornya, Freya hanya terus memikirkan tentang keadaan Arven saat ini. Bagaimana dia yang sekarang pastinya sedang berjuang untuk hidup dan mati.


Apapun akan aku lakukan asalkan kamu bisa sembuh kembali, Sayang. Tidak peduli jika mungkin harus mempertaruhkan diriku sendiri.


######


Freya yang kembali ke rumahnya, dia hanya duduk diam di atas sofa dengan pikiran yang cukup kacau. Sampai kedua temannya tiba-tiba datang malam ini. Freya tahu jika mereka berdua hanya ingin mempertanyakan tentang Freya yang tidak datang ke kencan buta yang sudah mereka rencanakan.


Haura langsung menjatuhkan tubuhnya disamping Freya, memeluknya dengan erat namun sedikit kesal juga. "Kenapa tidak datang Sayang? Apa kamu tidak suka dengan Pak Direktur? Kan sudah lihat wajahnya juga di foto yang aku berikan"


Freya hanya menghela nafas pelan, tentunya dia juga bingung sekarang bagaimana menjelaskannya. "Aku tidak mood saja. Aku tidak bisa jika harus memaksakan diri lagi. Kalian sendiri tahu bagaimana perasaan aku yang sekarang"


"Lalu, apa kamu akan terus seperti ini? Ingat Frey, mau sekeras apapun kamu berjuang, hubungan kamu dan Arven tetap tidak mendapatkan restu orang tua. Bagaimana mungkin untuk terus berlanjut" ucap Sinta.


Freya menghembuskan nafas pelan, tentu saja dirinya juga tahu soal itu. Dia juga mengerti dan masih ingat bagaimana orang tua Arven yang tidak pernah bisa memberikan restu untuk Freya. Bahkan hampir saja mencelakai keuarga yang masih Freya miliki saat ini. Membuat Freya tidak lagi mempunyai pilihan lain.


"Aku akan pergi ke luar Negara dan ingin membantunya. Kalian sudah lihat kabar terbaru 'kan? Kalau Arven sedang sakit parah sekarang" ucap Freya.


Haura dan Sinta langsung saling melempar pandangan. Tadinya mereka sengaja tidak memberi tahu Freya, karena memang mereka sudah tahu tentang berita itu. Tapi ternyata malah Freya sudah tahu juga tentang berita ini.

__ADS_1


"Sudahlah, kalian tidak perlu menutupinya lagi. Karena aku juga sudah tahu, sekarang aku akan pergi ke luar Negara dan ingin melihat langsung bagaimana kondisi Arven" ucap Freya penuh dengan rasa yakin.


"Tapi Frey, kamu 'kan kerja disini. Bagaimana dengan pekerjaanmu?" ucap Haura yang masih tidak yakin kalau Freya benar-benar akan pergi keluar negara untuk menyusul Arven.


"Selama bekerja di perusahaan itu, aku belum pernah mengambil cuti tahunan. Jadi sekarang aku akan mengambilnya. Tentu saja aku bisa pergi cukup lama" ucap Freya.


Haura dan Sinta hanya saling melempar pandangan. Padahal mereka tidak pernah menyangka kalau Freya akan langsung memutuskan untuk pergi ketika dia mendengar jika Arven sedang sakit parah. Sungguh cintanya pada Arven memang sangat besar sekali. Membuat Haura dan Sinta begitu takjub dengan cinta yang dimiliki oleh Freya untuk Arven.


"Kalau memang itu keputusan kamu, maka kita hanya bisa mendukung" ucap Sinta yang ikut memeluk Freya.


Freya langsung tersenyum mendengar hal itu. "Terima kasih ya, karena kalian berdua selalu ada untuk aku. Pokoknya setelah semua urusan aku disana selesai, aku juga akan segera kembali"


Dan memang keputusan Freya ini sudah bulat. Dia segera mengajukan cuti pada pihak perusahaannya. Mengambil jatah cuti dirinya untuk tahun ini dan tahun kemarin yang belum pernah dia ambil satu hari pun. Karena Freya termasuk karyawan yang baik dan juga sangat giat dalam bekerja, membuat permintaan cutinya itu di kabulkan.


Freya akan berangkat dua hari lagi, tetap saja dia tidak akan bisa meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai dan yang sudah dia mulai. Setidaknya Freya menyelesaikan dulu pekerjaan yang sudah dia mulai. Selebihnya akan dia serahkan dulu pada rekan kerjanya selama Freya mengambil cuti bekerja.


"Memangnya mau kemana si Frey? Kok ambil cuti lama banget? Mau liburan ya?" tanya teman kerjanya yang merasa heran karena untuk pertama kalinya Freya mengambil cuti dan cukup lama juga.


Freya tersenyum mendengar ucapan teman kerjanya yang sepertinya merasa heran dan juga penasaran kemana Freya akan pergi sampai mengambil cuti kerja cukup lama.


"Iya, aku mau liburan. Sesekali menenangkan diri dari semua pekerjaa. Dan juga memang ada urusan yang harus aku urus dengan segera. Jadi maaf ya karena harus merepotkan kalian dan harus meninggalkan kalian untuk sementara waktu" ucap Freya.


"Yaudah deh, gak papa asal cepetan balik lagi ya. Jangan lupa juga oleh-olehnya"

__ADS_1


Freya hanya tersenyum saja mendengar hal itu.


Bersambung


__ADS_2