Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#68# Freya Yang Hampir Menyerah


__ADS_3

Setelah semua acara selesai, maka semua tamu undangan dan keluarga juga pulang ke rumah masing-masing. Sementara sepasang pengantin baru itu sudah disiapkan sebuah kamar hotel yang istimewa disini.


Ketika masuk ke dalam kamar hotel, Freya terlihat tidak bersemangat. Hal itu membuat Arven sedikit bingung. Arven tidak tahu kenapa Freya bisa seperti ini, padahal tadi terlihat baik-baik saja dan bahagia.


"Sayang, lihat deh tempat tidurnya. Mereka sengaja menghiasnya" ucap Arven sambil menunjuk ke arah tempat tidur yang ditaburi kelopak mawar merah yang dibentuk love dengan di tengah dua boneka angsa yang saling berhdapan hingga terlihat berbentuk love juga.


Freya  hanya tersenyum seadanya, meski sebenarnya dia juga tidak ingin seperti ini. Namun bagaimana lagi saat hatinya sudah tidak bisa diajak kompromi, jelas terlihat jika Ibunya sendiri tidak mengenalinya, atau bahkan berpura-pura tidak kenal dengannya.


"Aku mandi duluan ya Sayang, sudah gerah banget" ucap Freya yang berjalan ke arah kamar mandi.


Arven menghela nafas pelan, dia duduk di kursi meja rias yang ada disana dengan menatap sekelilingnya saat ini. "Dia ini kenapa? Apa aku berbuat salah padanya ya? Padahal tadi dia terlihat baik-baik saja dan bahagia"


Arven yang jadi bingung dengan keadaan istrinya ini yang tiba-tiba saja seperti itu. Sampai satu jam istrinya masih belum keluar dari kamar mandi, membuat Arven menjadi panik dan khawatir dengan keadaan Freya saat ini. Dia mengetuk pintu kamar mandi dan memanggil istrinya, namun Freya tidak menjawab ataupun membuka pintu kamar mandi yang terkunci.


"Sayang, kamu sedang ada di dalam? Kenapa lama sekali, buka pintunya!" teriak Arven.


"Freya buka pintunya!" teriak Arven dengan ketukan pintu yang berubah menjadi sebuah gedoran.


Sampai Arven benar-benar tidak bisa mengendalikan lagi kepanikannya ini. Dia menghubungi pegawai hotel dan meminta kunci cadangan untuk membuka pintu kamar mandi ini.


Sampai pintu kamar mandi terbuka, Arven langsung menerobos masuk dan melihat istrinya yang sedang berada di dalam bak mandi dengan bibir yang sudah membiru dan juga tatapan matanya yang sayu.

__ADS_1


Saat Arven ingin menggendongnya, ternyata Freya seolah sengaja berendam dengan air dingin di dalam bak mandi ini sampai tubuhnya menggigil seperti ini.


Arven menyelimuti tubuh Freya dengan handuk dan segera menggendongnya keluar dari kamar mandi. "Panggilkan Dokter sekarang!"


Arven menidurkan Freya di atas tempat tidurnya yang sudah hampir kehilangan kesadarannya akibat terlalu lama berendam di dalam air bak mandi. Atau sepertinya Freya sempat menenggelamkan wajahnya ke dalam bak mandi. Karena terlihat saja dari kesadarannya yang mulai hilang.


Arven memeluk Freya yang dibalut selimut tebal itu. Dirinya yang bahkan tidak tahu kenapa istrinya sampai melakukan hal seperti ini. "Sayang, kamu ini kenapa? Apa harus melakukan seperti ini? Kalau memang ada masalah cerita sama aku, kalaupun kamu merasa ada perbuatan aku yang membuat kamu marah, bilang sama aku"


Freya hanya diam saja dalam pelukan Arven yang terlihat jelas sangat ketakutan saat ini. Melihat dirinya yang hampir mati.


Arven mengelus pipi Freya yang terasa sangat dingin, mengecupnya beberapa kali agar gadis itu tetap tersadar dan mencoba untuk menghangatkan kembali tubuhnya. "Aku mencintaimu, kenapa kau tega melakukan ini? Ingin membuat aku mati karena panik"


Freya menggeleng pelan, namun dia masih belum bicara apapun. Bibirnya terlihat menggigil dan membiru. Arven langsung memeluknya dengan erat, membenarkan selimut yang menutupi tubuh Freya agar istrinya itu bisa lebih hangat lagi.


"Nona tidak papa Tuan, dia hanya kedinginan saja. Sebaiknya segera diberi makanan dan minum hangat. Saya sudah berikan suntikan vitamin ke tubuhnya" ucap Dokter.


Arven mengangguk, beberapa saat kemudian seorang pagawai hotel membawa makanan ke dalam kamarnya. Memang sudah waktunya makan malam, dan mereka sengaja memberikan sup hangat dan juga susu hangat untuk tamu di kamar ini karena tahu ada kejadian seperti ini. Pelayanan hotel berbintang yang memang sudah terjamin tingkat pelayanannya.


"Baik Dok terima kasih"


Dan setelah Dokter dan pegawai hotel itu keluar dari kamar mereka. Arven langsung membantu Freya untuk bangun dan memakaikan dia baju. Sejak tadi dia hanya memakai lilitan handuk saja. Sebenarnya Freya merasa sangat malu saat Arven melihat seluruh tubuhnya dengan keadaan polos seperti ini. Namun saat ini Freya benar-benar dalam keadaan yang lemah sampai dirinya saja tidak bisa melakukan apapun.

__ADS_1


Arven membantu Freya duduk bersandar di atas tempat tidur, dengan menempatkan bantal di belakang tubuhnya agar dia lebih nyaman. "Sekarang makan dulu, kamu harus makan yang banyak agar tidak lemas seperti ini terus menerus. Lagian kamu ini kenapa sampai melakukan ini?"


Freya menghela nafas pelan, sebenarnya dia hanya merasa lelah dengan harapannya sendiri yang tidak terwujud. Freya yang berharap Ibunya bisa datang di hari pernikahannya, dan saat benar semua harapannya terwujud, tapi bahkan Ibunya tidak mengenalinya. Rasa sakit yang dulu dia rasakan ketika pertama kali Ibu meninggalkannya, sekarang kembali terbuka dan ditambah lagi rasa sakitnya.


"Maaf" lirih Freya, akhirnya dia bisa berkata juga setelah sejak tadi dia hanya diam saja seperti orang yang kehilangan tujuan.


"Memangnya kamu kenapa? Cerita sama aku kenapa kamu sampai melakukan ini. Tapi sekarang makan saja dulu" ucap Arven yang langsung menyuapi makanan ke arah Freya.


Freya hanya mengangguk saja dan menerima suapan makanan dari suaminya. Sekarang dia jadi merasa bersalah karena sudah membuat Arven panik dan khawatir dengan keadaannya. Tapi saat tadi, Freya hanya seperti sedang kehilangan arah tujuan dan dia yang sebenarnya tidak ingin melakukan semua ini. Tapi entah kenapa hati dan pikirannya seolah berperang saat itu.


Selesai dengan makan semangkuk sup, Arven memberikan susu hangat yang disediakan oleh pihak hotel ini. Freya hanya menurut saja dan meminumnya sampai setengahnya.


Arven mengelus kepala Freya dengan lembut, memberikan kecupan di keningnya. "Sayang, aku mandi dulu. Awas kalau sampai kamu melakukan yang aneh-aneh lagi"


Freya mengangguk saja, karena dia juga tidak mungkin melakukan hal bodoh itu lagi. Dan setelah Arven masuk ke dalam kamar mandi, Freya hanya terdiam dengan tatapan menerawang pada kejadian masa lalu.


Bagaimana saat itu Ibunya yang memilih pergi karena tidak mau lagi bersama Ayahnya yang terus sakit-sakitan. Sampai Freya harus menjual rumah untuk melunasi hutang Ayah dan pengobatan Ayah. Namun hasil jual rumah itu tidak cukup untuk semua pengobatan Ayah, hingga dirinya banyak berhutang yang akhirnya harus di bayar oleh Paman setelah Ayah meninggal dunia.


Freya hanya perlu jawaban saja, kenapa Ibunya sampai tega meninggalkan dia yang baru lulus sekola menengah atas saat itu. Sampai Freya harus kuliah dengan kerja paruh waktu hanya untuk bisa kuliah.


Namun tetap menunggak biaya kuliah, dan Freya yang bertemu dengan Arven berawal dari semua kesialan yang ada dalam hidupnya. Semuanya terlalu menyakitkan bagi Freya. Namun sekarang dia bersyukur pernah dipertemukan dengan Arven meski caranya kurang baik.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2