
Freya menatap hiruk pikuk orang-orang yang berada di Bandara. Akhirnya dia telah sampai di Negara dimana selama ini prianya melarikan diri kesini. Karena semua rasa sakit dan luka yang diciptakan oleh Freya sendiri. Sungguh terkadang memang Freya ingin menyesali semuanya. Tapi percuma karena sudah tidak ada yang dapat di sesali lagi. Semuanya sudah terjadi dan tidak akan bisa diulang kembali.
Langkah kaki Freya dengan menarik kopernya itu menuju sebuah taksi yang sudah menunggunya. Freya masuk ke dalam taksi dengan dibantu oleh supir taksi itu untuk memasukan kopernya ke dalam bagasi. Freya menyebutkan tujuannya kali ini pada supir taksi.
Freya hanya diam dengan pandangan keluar jendela mobil. Kaca jendela sengaja dia buka setengahnya, beberapa kali menghembuskan nafas pelan. Tentu saja dia hanya ingin menenangkan hatinya, karena mungkin harus menghadapi sikap terburuk dari Arven jika di bertemu lagi dengannya.
Seandainya bertemu lagi, apa dia akan marah padaku dan mengusir aku ya.
Rasanya Freya malah jadi bingung sendiri untuk membayangkan apa yang sudah terjadi. Tentunya pertemuan dengan Arven akan membuatnya canggung setelah tiga tahun ini mereka tidak pernah saling menyapa.
Setelah sampai di rumah sakit tempat Arven dirawat menurut informasi yang sudah dia dapatkan dari Satpam yang menjaga rumah Arven itu. Segera Freya menarik kopernya menuju lobby pendaptaran. Dia tetap harus menanyakan dimana ruang rawat Arven berada. Setelah bertanya pada perawat, Freya langsung diantarkan oleh perawat itu ke ruangan dimana Arven berada.
Langkahnya memelan ketika melihat kedua orang tua Arven di depan ruangan itu bersama dengan Katlyn, yang Freya ketahui sebagai tunangan Arven. Freya mulai ragu untuk melanjutkan langkahnya. Ingat bagaimana dulu, Papanya Arven itu meminta dia untuk pergi meninggalkan Arven dan menyudahi hubungan diantara mereka. Rasanya jika sekarang Freya datang dan menemui mereka dengan tiba-tiba, maka suasananya tidak akan nyaman.
"Ayo Kak, biar saya antar ke ruangan Tuan Arven" ucap perawat yang merasa heran karena Freya malah diam saja.
Freya mengerjap pelan, tentunya dia mencoba mencari jalan lain yang bisa mengetahui bagaimana kondisi Arven yang sebenarnya, tanpa harus diketahui oleh keluarganya.
"Em, Sus, saya ingin bertemu dengan Dokter yang menanganinya saja. Ada yang ingin saya bicarakan, dan ini penting" ucap Freya.
Perawat itu sedikit kebingungan, mungkin dia sedikit tidak yakin untuk mempertemukan Freya dengan Dokter yang menangani Arven saat ini. Wajar saja karena memang Freya baru pertama kali datang menjenguk Arven setelah satu bulan Arven berada di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Saya berniat menolong pasien Sus, jadi tolong izinkan saya bertemu dengan Dokternya saja" ucap Freya lagi meyakinkan.
"Baiklah, mari saya antar ke ruangan Dokter. Semoga dia sedang berada di ruangannya"
Freya mengangguk dan mengikuti langkah perawat itu yang berputar arah. Bersyukur karena tidak perlu bertemu dengan orang tua Arven saat ini.
#######
Keluarga sedang cemas dengan keadaan Arven saat ini. Karena masih belum juga menemukan donor yang cocok untuk pria itu. Apalagi Arven yang bersikeras tidak ingin dioperasi, seolah dia yang sudah putus harapan saja untuk tetap melanjutkan hidupnya ini. Membuat pihak keluarga begitu sedih.
"Kak, aku janji deh kalau Kakak mau di operasi dan menjalani pengobatan sampai sembuh..." Katlyn sedikit mendekatkan bibirnya ke telinga Arven untuk berbisik. "...Aku akan membantu Kakak kembali sama cinta pertama Kakak itu"
Arven menoleh pada Katlyn yang sejak tadi hanya duduk di kursi samping ranjang pasien. Dia tersenyum tipis dengan bibirnya yang terlihat pucat itu. "Kau tidak akan bisa membantu apapun, sudah tahu dia sendiri yang mengatakan kalau dia tidak pernah cinta sama aku. Mungkin saja sekarang dia sudah menemukan pria yang benar-benar dia cintai"
Arven hanya terkekeh lucu mendengar ucapan Katlyn, menganggap gadis itu hanya seorang gadis kecil yang belum tahu apa-apa hingga bisa mengatakan hal seperti itu barusan.
"Kamu tidak pernah jatuh cinta, jadi kamu juga tidak akan mengerti bagaimana kisah kami dimulai. Sangat wajar sekali kalau seandainya dia merasa terpaksa untuk terlihat benar-benar mencintaiku. Semuanya hanya karena sebuah hutang budi, kau faham?" ucap Arven.
Katlyn menatap pria itu, rasanya memang tidak akan pernah bisa jika Katlyn masuk ke dalam hati Arven yang sudah beku dan tertutup rapat itu untuk wanita lain. Karena hatinya yang sudah dimiliki oleh satu orang wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta.
"Siapa bilang aku tidak pernah jatuh cinta, saat ini aku sudah sangat jatuh cinta sampai rela melakukan apa saja untuk menyembuhkan orang yang dicintai" ucap Katlyn santai.
__ADS_1
Lagi, Arven hanya terkekeh mendengarnya. Karena sampai saat ini dia tidak bisa untuk percaya pada ucapan Katlyn. Gadis itu hanya Arven anggap sebagai gadis kecil yang menjadi adiknya.
"Sudahlah, jangan terus membujuk aku. Lagian tidak akan ada donor yang cocok untuk aku. Papa dan Mama saja sudah periksa kecocokan dan tidak menghasilkan apapun. Apalagi orang lain" ucap Arven yang sudah merasa jengah untuk terus berada di rumah sakit, hanya untuk menunggu waktu kematiannya saja.
"Kalau jodoh tidak akan kemana Kak, siapa tahu saja dari orang lain bisa memiliki kecocokan" ucap Katlyn.
Arven hanya tersenyum tipis, merasa tidak yakin dengan ucapan Katlyn barusan. Sampai pintu ruangan terbuka membuat keduanya langsung menoleh ke arah Dokter yang baru saja masuk dengan diikuti oleh kedua orang tua Arven.
Arven menatap kedua orang tuanya yang terlihat lebih cerah wajahnya dari sebelumnya. Entah ada apa dengan mereka.
"Selamat Tuan Arven, akhirnya ada donor ginjal yang cocok untuk anda. Lusa akan segera melakukan operasi" ucap Dokter.
Arven maupun Katlyn begitu terkejut mendengar hal itu. Karena baru saja mereka membahas tentang hal ini dan Arven yang menganggap jika tidak akan ada yang mau mendonorkan ginjalnya untuk Arven. Tapi sekarang benar-benar ada.
"Siapa Dok?" tanya Katlyn dengan penasaran.
"Masih belum bisa dibocorkan siapa pendonornya. Sekarang yang terpenting Tuan Arven akan bisa sembuh ya" ucap Dokter.
Arven hanya terdiam dengan tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca karena dia tidak menyangka jika bisa mendapatkan pendonor yang cocok. Sampai tidak sengaja tatapan matanya terarah pada pintu ruangan, di balik kaca transparan yang ada di bagian atas pintu ruangan itu, Arven melihat sosok yang dia kenali berada disana.
"Freya" lirihnya sangat pelan, bahkan sampai tidak terdengar dengan orang-orang disana. Arven mengerjapkan matanya karena kaget, namun saat dia kembali membuka mata dan melihat ke arah pintu, halusinasinya tentang Freya langsung hilang seketika.
__ADS_1
Ternyata hanya bayangan saja, lagian mana mungkin juga dia datang kesini. Untuk apa juga?
Bersambung