
Malam ini Arven kembali tidur di rumah bersama Freya. Setelah Papa bisa pulang dari rumah sakit, maka dia langsung kembali ke rumah. Lagian sudah merindukan istrinya ini. Sudah tiga malam dia tidak tidur di rumah bersama dengan istrinya ini. Malam ini, Arven duduk menyandar di atas tempat tidur sambil memeluk istrinya.
"Sayang, bagaimana kalau kita tinggal di rumah Papa saja? Kemarin Mama bilang seperti itu padaku" ucap Arven.
Freya langsung melepaskan pelukannya, dia menatap suaminya dengan lekat. Tentu saja dia terkejut dengan ucapan suaminya itu. "Sayang, kalau aku tidak mau bagaimana? Kamu akan marah sama aku gak?"
Arven mengelus kepala istrinya dengan lembut, dia mengerti kalau Freya tidak mau tinggal disana mengingat bagaimana perlakuan Papa kepadanya selama ini. "Kalau memang kamu tidak mau, aku tidak akan memaksa kamu. Aku juga tidak akan pernah marah. Kamu berhak menentukan pilihan kamu sendiri"
Freya mengangguk, dia kembali memeluk suaminya. "Beri aku waktu ya, aku tidak bisa jika harus sekarang tinggal bersama dengan orang tuamu"
Arven mengangguk mengerti, mungkin memang harus banyak penyesuaian diantara istrinya dan orang tuanya itu. "Kita tinggal disini saja tidak papa, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk bisa tinggal bersama dengan orang tuaku. Aku tidak papa kalau tinggal disini, dimana pun kita tinggal yang penting selalu bersama denganmu"
Freya mengangguk, bersyukur karena suaminya bisa mengerti situasinya saat ini. "Sayang, aku jadi bingung kenapa tiba-tiba sekali Papa berubah dan mau menerima aku. Apa ada yang terjadi sebelum dia sakit?"
Arven terdiam sejenak, mungkin Freya merasa heran dan seolah mengerti apa yang terjadi sebelumnya. Memang perasaan seorang perempuan tidak akan mudah di bohongi.
"Tidak ada. Memangnya apa yang terjadi, memangnya apa yang terjadi? Bukannya kamu menginginkan ini? Seharusnya kamu senang"
Freya terdiam sejenak, mungkin memang dia sangat senang saat mertuanya itu bisa menerimanya sekarang ini. Tapi dia masih bingung kenapa bisa secepat ini untuk mendapatkan restunya.
"Sayang, kamu tidak bilang tentang aku yang menjadi pendonor untuk kamu 'kan?" tanya Freya dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Arven terdiam sejenak, mungkin memang dia tidak akan bisa membohonginya lagi. Karena sekarang jelas Freya mulai curiga dengan semuanya. "Kalau memang aku membicarakan itu, kenapa? Mungkin memang ini cara untuk kamu bisa diterima dan aku juga tidak akan bisa memilih diantara istriku dan orang tuaku"
Freya langsung terdiam, dia melepaskan pelukannya dari Arven. Menatap Arven dengan lekat. "Sayang, kenapa melakukan itu? Aku tidak mau kalau sampai Papa kamu bisa menerima aku hanya karena merasa berhutang budi saja. Aku tidak mau kalau sampai hal itu terjadi"
Arven menangkup wajah istrinya dengan lekat, dia menatapnya dengan lekat. "Sayang, kamu harus mengerti kalau saat aku mengatakan itu juga karena aku tidak sengaja mengatakannya. Dan saat itu Papa langsung terkejut hingga mengalami serangan jantung itu. Tapi kamu tahu kalau dia meminta maaf dengan sangat ketika dia sadar, dan aku juga tidak pernah melihat Papa sampai begitu. Dia bahkan menangis dengan kencang"
Freya menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia hanya takut jika dirinya diterima oleh keluarga Arven tidak dengan tulus. Tapi hanya karena mempunyai rasa bersalah dan merasa berhutang budi saja.
"Kamu tahu, aku saja tidak pernah melihat Papa sampai seperti itu. Sepertinya memang rasa bersalahnya sangat besar, kamu jangan berpikir yang aneh-aneh. Kamu hanya perlu yakin kalau Papa benar-benar menerima kamu dengan tulus. Kalau sampai Papa memperlakukan kamu seperti dulu, maka kamu harus bicara sama aku dan aku tidak akan tinggal diam" ucap Arven.
Freya terdiam dan mengangguk saja, tentunya dia akan mencoba untuk yakin dengan ucapan Arven barusan. Semoga saja tidak seperti apa yang dia bayangkan. Semoga saja Papa memang sudah benar-benar menerima dirinya apa adanya.
"Semoga saja Papa akan benar-benar menerima aku dengan tulus, bukan karena rasa bersalah atau berhutang budi saja" ucap Freya.
*********
Waktu yang terus berlalu, pernikahan Arven dan Freya sudah memasuki bulan ke delapan. Keduanya masih terlihat sangat harmonis dan romantis. Freya yang sangat bahagia dengan pernikahan ini.
"Sayang, aku lepas kontrasepsi saja ya"
Sudah sejak dua minggu yang lalu, Freya selalu merengek untuk menghentikan kontrasepsi yang dia pakai. Freya ingin segera mempunyai anak, namun Dokter menyarankan satu tahun untuk bisa hamil.
__ADS_1
"Sayang, Dokter bilang harus satu tahun dulu. Kamu habis menjalankan operasi, jadi jangan membantah ucapan Dokter. Aku hanya tidak ingin kamu kenapa-napa" ucap Arven.
Freya mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Menatap Arven dengan wajahnya yang sedikit cemberut. "Bukannya seharusnya sudah hampir satu tahun ya kalau sejak aku selesai melakukan operasi. Hanya sisa tiga bulan lagi, tidak papa 'kan"
Arven tetap menggeleng pelan, dia tidak mau kalau sampai istrinya ini keanpa-napa. Arven mengelus pipi Freya dengan lembut. "Sayang, aku tidak mau ambil resiko. Kamu hamil dengan satu ginjal saja, sudah cukup membuat aku ketakuta. Jadi satu-satunya cara hanya kamu harus menuruti apa yang dikatakan oleh Dokter"
Freya hanya menghela nafas pelan, sepertinya memang akan sulit untuk membujuk suaminya ini. "Tapi kalau aku tidak langsung hamil, aku takut kamu akan berpaling pada wanita lain saat aku belum juga hamil"
Arven tertawa pelan mendengar ucapan Freya yang sebenarnya sangat tidak mungkin terjadi. "Sayang, siapa si yang bilang seperti itu? Lagian mana mungkin aku berpaling dari kamu. Sampai saat ini saja aku tidak pernah menemukan sosok yang begitu tulus mencintai seperti kamu. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh"
Freya langsung terdiam mendengar itu, dia hanya takut saja karena dia mendengar cerita dari senior di Kantornya. "Senior aku pernah bilang kalau dia juga di ceraikan karena tidak kunjung memberikan anak pada suaminya. Sampai sekarang suaminya malah kembali pada mantan pacarnya"
Arven langsung menghembuskan nafas pelan mendengar itu. Sepertinya istrinya itu terlalu banyak memikirkan tentang kehamilan, hingga dia langsung paranoid saat mendengar cerita dari temannya itu.
"Sayang, aku tidak mungkin seperti itu. Untuk bisa kembali bersama denganmu saja sudah sangat sulit. Tidak mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, saat untuk mendapatkan kamu saja sudah butuh perjuangan yang besar untuk aku" tegas Arven.
Mendengar itu membuat Freya terdiam sejenak, dia menatap mata suaminya yang jelas tidak menampilkan kebohongan sama sekali. Mungkin karena memang Arven berkata kejujuran dari hatinya saat ini.
"Awas ya kalau sampai kamu bermain wanita dibelakang aku"
Arven mengelus kepala istrinya dengan memberikan kecupan di kening istrinya itu. "Tidak akan pernah, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melakukan itu. Karena mempunyai kamu saja sudah cukup bagiku"
__ADS_1
Freya hanya tersenyum saja, dia berharap tidak akan ada wanita yang menjadi penggoda untuk suaminya nanti.
Bersambung