
Dengan lunglai, Freya berjalan ke arah dapur, dimana dia tidur. Sebuah ruangan kecil yang awalnya hanya sebuah gudang.Tapi dia bereskan hingga menjadi sebuah kamar. Tidur di kasur yang sudah hampir lapuk dengan barang-barang seadanya saja. Tidak papa, Freya bersyukur karena masih ada yang mau menampungnya di saat Ibunya saja tidak pernah lagi peduli padanya. Mungkin jika Freya mati sekalipun, tentunya dia tidak akan pernah peduli sedikit pun.
Tidur di atas tempat tidur setelah dia bersih-bersih dan berganti pakaian. Beberapa kali ponselnya bergetar, mungkin sebuah pesan yang masuk di grup kampus. Tapi Freya tidak membukanya, karena memang dia hanya anggota yang silent jika di dalam grup chat itu. Hanya menyimak saja apa yang sedang di bahas. Jika sekalinya dia bertanya, benar-benar tidak ada yang jawab dan tidak ada yang menghiraukan.
Freya menatap langit-langit kamar yang sudah lapuk itu. Air matanya menetes begitu saja. Jika saja dia tidak ingat tentang tujuan utamanya untuk melanjutkan kuliah, mungkin dia akan menyerah sampai disini. Karena tahu biaya kuliah untuk orang biasa-biasa saja sepertinya sangat mahal.
Namun Freya masih mempunyai tekad untuk merubah hidupnya kali ini. Dia ingin merubah semua kesulitan dalam hidupnya ini. Ingin mendapatkan pekerjaan yang baik dan bisa untuk sedikit saja membalas budi pada Bibi yang sudah mau menampungnya selama ini.
Freya mengusap kasar air matanya yang menetes begitu saja. "Ayolah Frey, jangan terlihat terlalu lemah begini. Saat ini kamu harus bersyukur karena akhirnya kamu bisa melunasi biaya kuliah kamu dan semua tunggakannya, meski harus menjadi pacar kontrak Tuan Muda"
Memang seharusnya Freya cukup bersyukur, karena atas perjanjian ini dirinya bisa lebih diuntungkan dalam segala hal.
******
Siang ini Freya baru saja selesai dengan kuliahnya. Dia akan pergi ke Restaurant, meski sebenarnya hari ini memang jadwal dia libur. Tapi kalau memang ada pekerjaan, maka lebih baik dia masuk kerja saja. Karena sudah beberapa hari kemarin cukup terganggu waktu bekerjanya. Freya tidak enak pada Haura dan Ayahnya yang selalu baik padanya.
Namun langkah kaki Freya langsung terhenti saat melihat Hendrick yang sudah berdiri di dekan mobil mewah yang terparkir di pekarangan Kampus. Membuat Freya bingung kenapa dia datang, tapi mau bagaimana pun Freya tetap harus menghampirinya. Meski sebenarnya dia tidak mau menghampirinya saat ini. Tapi tentu tidak akan bisa, karena Hendrck juga sudah terlanjur melihatnya. Jadi dia tetap harus menghampirinya.
"Maaf Tuan, ada apa?" tanya Freya dengan sopan dan penuh hormat.
"Tuan Muda meminta saya untuk menjemput anda, dia ingin makan siang bersama anda. Sekarang Tuan Muda sudah menunggu" ucap Hendrick.
Freya langsung terdiam mendengar itu, bingung sendiri dengan sikap Arven ini. Padahal jelas mereka hanya sebagai pacar kontrak. Tapi kenapa makin kesini, Arven malah semakin menjadi saja. Mengajaknya makan siang, bahkan sampai menyuruh asistennya untuk datang ke Kampusnya.
__ADS_1
Aku ingin menolak, sungguh. Tapi aku tidak bisa dan tidak berani. Aaa..
Freya menghembuskan nafas pelan, dia tidak mungkin menolak ajakan Hendrick ini yang memang ditugaskan oleh Tuan Muda. "Tapi saya pergi bawa motor saya saja"
"Sebaiknya ikut dengan saya menggunakan mobil, Nona. Lagian Tuan Muda tidak akan suka jika Nona datang menggunakan motor anda" ucap Hendrick, terdengar sangat kaku tapi memang dari ucapannya jelas jika dia tidak mau dibantah.
"Tapi bagaiamana dengan motor saya ini?" tanya Freya dengan bingung.Tentu saja, jika motor peninggalan Ayahnya ini hilang, lalu dia punya apalagi? Hanya motor ini barang yang paling berharga baginya saat ini.
"Berikan saja kunci motornya pada saya, nanti akan ada yang mengantarkan motor anda ke rumah dengan aman. Kalaupun hilang, Tuan Muda akan menggantinya" ucap Hendrick santai.
Segampang itu dia ngomong, padahal tahu sendiri harga motor memang sangat mahal. Eh, tapi untuk orang kaya memang tidak akan ada harganya.
Akhirnya Freya tidak bisa menolak juga, karena memang Hendrick ataupun Arven sama saja. Tidak pernah mau dibantah ucapannya. "Baiklah Tuan, tapi setelah makan siang bisa langsung pulang 'kan?"
Hendrick langsung membukakan pintu mobil untuk Freya. "Kalau itu hanya Tuan Muda yang akan menentukan"
Sebuah Restaurant yang begitu mewah, dia langsung masuk ke dalam ruangan VVIP yang di tunjukan oleh Hendrick. Awalnya Freya kira Hendrick akan ikut masuk ke dalam ruangan itu. Tapi ternyata dia hanya menyuruh Freya masuk, lalu dia langsung pergi entah mau kemana.
Freya berbalik badan dan melihat Arven yang sudah duduk disana dengan fokus pada ponselnya. Sepertinya Arven masih belum menyadari keberadaan Freya disana.
Sadar Freya, kenapa kau malah merasa dia begitu tampan. Meski sebenarnya memang benar
Freya langsung menggeleng pelan, mengusir segala pikiran buruk dalam kepalanya itu. Merasa kesal dengan dirinya yang malah merasa tergoda dengan ketampanan Arven. Langkah Freya langsung terhenti dan membeku di tempatnya saat dia melihat Arven yang mendongakan wajahnya. Dia menyimpan ponsel di atas meja.
__ADS_1
"Kau sudah datang rupanya, kenapa tidak memanggilku" ucap Arven.
Freya hanya tersenyum saja mendengar itu, dia melanjutkan langkah kakinya dan berjalan menghampiri Arven. Duduk disamping Arven. "Maaf Sayang, tadi aku takut mengganggu kamu yang sedang serius dengan ponsel kamu itu"
Arven mengelus kepala Freya, lagi-lagi berhasil membuat Freya membeku seketika dengan apa yang Arven lakukan itu. Dia ini kenapa selalu membuat jantungku berdebar kencang seperti ini.
"Kau baru pulang kuliah?" tanya Arven.
Freya hanya mengangguk dengan kaku, karena memang dirinya juga tidak tahu harus melakukan apa. Dirinya sedang gugup jadi dia tidak bisa berpikir banyak untuk memulai topik pembicaraan.
"Ayo makan, kenapa kau malah hanya diam saja"
Lagi, Freya hanya mengangguk, dia menatap makanan yang sudah tertata di atas meja. Tentunya dia merasa asing dengan makanan yang terlalu mewah. Makanan yang biasa dia sajikan saat bekerja di Rastaurant, meski sebenarnya dia tidak pernah mencoba makanan disana. Karena tahu harganya terlalu mahal dan tidak terjangkau oleh keuangannya.
Beli makanan seperti ini hanya akan menghabiskan uangku. Memang kehidupan kita yang terlalu berbeda.
Freya melirik ke arah Arven yang sedang memakan makanannya dengan tenang. Sementara Freya yang tidak bisa menikmati makanan yang dia makan saat ini. Tentu saja karena suasana yang terlalu canggung hingga membuatnya tidak bis amenikmati makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
Selama makan siang ini hanya ada sebuah keheningan. Freya yang bingung harus berbicara apa atau mencari topik pembicaraan seperti apa, karena nyatanya dirinya tidak bisa menemukan sebuah obrolan yang santai jika bersama Tuan Muda yang dia anggap sebagai pria berkuasa yang arogan.
"Apa Bibi dan sepupu kau itu tidak melakukan hal yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Arven.
Freya langsung menoleh, dia mengambil minum dan segera meminumnya. Masih tidak mengerti dengan sikap Arven yang menurutnya sangat aneh.
__ADS_1
"I-iya, mereka baik"
Bersambung