
Ketulusan adalah satu-satunya yang akan mempertahankan perasaan cinta dalam hati kita agar tidak hilang dengan seiring berjalannya waktu. Bahkan dengan tulus mencintai seseorang, maka semakin lama berjalannya waktu, maka cinta yang ada semakin tumbuh besar. Dan inilah yang dirasakan pasangan ini.
Usia pernikahan yang tidak terasa sudah sampai dua tahun lamanya. Dan mereka sedang bahagia dengan kehadiran bayi pertama mereka ini yang baru berusia satu bulan. Penantian mereka yang akhirnya bisa terbayarkan juga. Mereka mendapatkan bayi laki-laki yang begitu tampan.
Orang tua Arven yang benar-benar menerima Freya dalam keluarganya ini. Bahkan sekarang Freya sudah bisa tinggal dengan mereka dan tidak lagi merasa tidak enak pada Papa. Karena selama ini, Papa juga semakin menunjukan ketulusannya untuk menerima Freya sebagai menantunya.
Meski pada awalnya, mungkin dia menerima Freya setelah tahu jika dia adalah pendonor untuknya. Namun, nyatanya Papa bisa melihat bagaimana ketulusan Freya mencintai anaknya. Membuat Papa benar-benar menyayangi menantunya itu dengan tulus.
"Cucu Opa sedang apa, Frey?"
Freya langsung berbalik saat mendengar suara Ayah mertuanya. Ternyata Papa yang baru pulang kerja dan langsung menuju kamar bayinya ini. Freya tersenyum, dia menggendong anaknya dari dalam box bayi dan membawanya untuk menghampiri Papa.
"Baru saja selesai ganti baju dan ganti popok" ucap Freya.
Papa tersenyum mendengar itu, dia langsung mengelus kepala bayi mungil dalam gendongan Freya. "Ah, cucu tampan Opa habis ganti baju ya"
Freya tersenyum mendengar itu, dia hampir tidak percaya kalau kehidupannya ini akan berubah jadi seperti ini. Hidup bahagia bersama dengan keluarga suaminya.
Lalu, apa Freya tidak memikirkan tentang Ibunya lagi?
Seorang anak tidak akan pernah melupakan sosok orang tuanya. Mau itu Ibu atau Ayah, hanya saja bagi Freya sudah cukup luka dan kesedihan yang dia alami selama ini. Dia tidak mau terus mencari tahu tentang Ibunya yang jelas tidak pernah mau mengetahui tentang hidupnya ini. Freya hanya tidak ingin kembali kecewa karena berharap terlalu tinggi, hingga akhirnya dia hanya akan mendapatkan hasil yang sama. Kekecewaan.
Jadi, Freya hanya memutuskan untuk tidak memikirkan tentang Ibunya lagi.Biarkan saja mereka tenang dengan pilihan kehidupan masing-masing. Mungkin Ibunya juga akan bahagia dengan pilihannya itu.
"Ya ampun, anak Papa malah keduluan lagi sama Opa. Padahal aku ini Papa kamu loh" ucap Arven yang baru saja datang dan melihat anaknya yang sudah berada di gendongan sang Ayah.
__ADS_1
"Kamu kelamaan untuk pulang, jadi keduluan lagi sama Papa"
Arven mendengus kesal, dia berjalan menghampiri istrinya yang duduk di pinggir tempat tidur. "Aku pulang telat karena Papa yang serahin meeting hari ini padaku. Ck, apa-apa selalu serahin sama anak deh"
Papa hanya tertawa pelan mendengar itu, memang dirinya yang ingin segera pulang dan bertemu dengan cucu pertamanya ini. Jadi dia menyerahkan pertemuan kali ini pada anaknya.
Freya hanya tersenyum melihat perdebatan keduanya. Dia meraih tangan suaminya dan mengecupnya dengan lembut, dibalas dengan kecupan di keningnya oleh Arven.
"Seharusnya kalian segera mempunyai anak kedua, biar rumah ini semakin ramai"
Uhuk..uhuk..
Celetukan Papa yang tiba-tiba itu langsung membuat Freya terbatuk-batuk. Dia baru saja satu bulan setelah melahirkan secara normal, bahkan rasanya masih begitu terasa olehnya. Sekarang tiba-tiba Papa mertuanya itu berkata seperti itu.
"Papa ih, aku baru satu bulan pasca melahirkan. Jadi jangan aneh-aneh deh, masih basah bekasnya" rengek Freya.
"Iya Sayang, iya. Gak sekarang kok, nanti kalau usia anak kita sudah satu tahun. Kamu baru boleh hamil lagi, aku juga tidak akan setega itu"
Freya langsung terbelalak ketika mendengar ucapan suaminya yang bukannya menenangkan, tapi malah semakin membuatnya panik sendiri. Sementara Papa hanya tertawa saja melihat ekspresi menantunya itu yang sangat lucu.
"Sayang, ah, kalian sama saja. Aku mau ngadu sama Mama saja" kesal Freya yang langsung berlalu keluar kamar.
Arven dan Papa hanya tertawa kecil dengan sikap Freya ini. Papa juga bisa melihat kebahagiaan di mata anaknya ini, apalagi ketika dia selalu bersama dengan Freya.
"Papa senang kamu bahagia, Nak. Maafkan Papa karena dulu sempat menghambat kebahagiaan kamu dan Freya" ucap Papa.
__ADS_1
Arven tersenyum tipis mendengarnya. "Tidak papa, semuanya juga sudah berlalu. Yang terpenting sekarang aku sudah bahagia bersama dengan anak dan istriku"
******
Suasana rumah yang selalu ramai ketika sudah kehadiran anak pertama Arven dan Freya. Mama dan Papa yang selalu berebut untuk tidur bersama dengan cucunya itu, bahkan mereka rela bangun tengah malam hanya untuk memberikan asi yang sudah Freya pompa dan siapkan ketika anaknya tiba-tiba menangis tengah malam.
Sementara di dalam kamar ini, sepasang suami istri yang sedang saling bercengkrama dengan berpelukan hangat di sofa dekat jendela. Membiarkan tirai jendela terbuka agar mereka bisa menikmati pemandangan malam ini. Menatap bintang yang bertebaran di langit yang tinggi.
"Sayang, jika suatu saat nanti ada sebuah kendala atau masalah yang menimpa rumah tangga kita, maka kamu harus tetap disampingku dan kita akan menghadapinya bersama" ucap Arven.
Entah kenapa Arven hanya takut jika suatu saat nanti ada sebuah masalah atau rintangan yang menimpa mereka, takut jika istrinya tidak tahan dan malah akan menyerah. Tapi sepertinya Arven harus yakin jika Freya tidak akan pernah melakukan itu.
"Sayang, kamu jadi pengangguran saja aku tetap setia dengan kamu. Masalah apapun yang akan menimpa pernikahan kita suatu saat nanti, maka aku akan tetap bersama dengan kamu dan kita menyelesaikan masalah kita bersama. Tapi..."
Arven tiba-tiba tegang ketika mendengar ucapan Freya yang menggantung itu. "Tapi apa Sayang?"
Freya sedikit menoleh pada suaminya itu, dia tersenyum sebelum melanjutkan ucapannya barusan. "Tapi, jika kamu berpaling pada wanita lain. Mau itu tubuh hanya kamu atau bersama dengan hatimu. Maka aku tidak akan pernah bertahan lagi"
Arven langsung mengecup bahu istrinya yang dia peluk dari belakang. "Rasanya hal itu sangat mustahil terjadi. Karena kamu sudah mengusai tubuh dan hatiku ini"
Dan memang itu yang terjadi sebenarnya. Hati Arven yang sudah dimiliki Freya seutuhnya dan juga hati Freya yang sudah dimiliki oleh Arven seutuhnya. Keduanya memang saling mencintai dengan begitu tulus.
"Aku akan selalu mencintaimu, Freya"
"Dan aku pun akan selalu mencintai Tuan Muda ini"
__ADS_1
...End...