Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#59# Aku Capek


__ADS_3

Seolah tidak mau menyerah begitu saja, Arven memilih duduk di kursi depan rumah Bibi. Dia sangat berharap Freya akan keluar dan melihat kalau Arven menunggunya disini. Arven juga berusaha untuk menghubungi Freya, tapi dia tidak mendapatkan jawaban apapun dari Freya.


"Sayang, kamu kemana si? Apa marah karena aku yang terlambat pulang"


Arven yang jadi bingung sendiri dan bingung harus melakukan apa saat ini. Dia menatap ke arah pintu yang masih tertutup, dia berharap Freya akan segera keluar dan menemuinya. Namun sampai dia ketiduran di kursi itu, benar-benar tidak ada yang keluar.


"Hei bangun"


Sebuah tepukan lembut di bahunya membuat Arven mengerjap, dia membuka matanya dan melihat Sinta disana. Arven sedikit memijat belakang lehernya yang terasa sakit karena posisi tidurnya yang tidak benar.


"Sinta, aku mohon izinkan aku bertemu dengan Freya. Apa dia ada di dalam?" ucap Arven yang langsung berdiri di depan Sinta dengan tatapan penuh permohonan.


Sinta sedikit mengerutkan keningnya, dia ingin tertawa sebenarnya karena Arven yang bodoh dan mengira jika Freya masih tinggal di rumah ini.


"Freya memang tidak ada disini, dia sudah lama pindah. Ini aku baru pulang dari rumahnya, semalam sengaja nginep buat temenin dia" ucap Sinta.


Arven terdiam mendengar itu, bahkan dia tidak tahu soal ini. Semalaman menunggu disini hanya akan sia-sia saja, karena memang Freya tidak tinggal lagi di rumah ini.


"Dia tinggal dimana? Aku harus bertemu dengannya" ucap Arven.


Sinta tersenyum sinis. "Kau jangan mengganggunya lagi, bukannya kau sudah mau menikah dengan Katlyn. Jadi tidak perlu mengganggu kehidupan Freya lagi"


Arven terdiam, sepertinya memang terjadi salah faham diantara mereka tentang talkshow malam itu. "Sinta, aku mohon dengarkan aku dulu. Aku tidak akan pernah menikah dengan Katlyn. Kita sudah selesai sekarang. Kamu salah faham"


"Apanya yang salah faham, jelas dia mengumumkan pernikahan kalian di televisi. Apanya yang salah faham. Sudahlah, jangan lagi kamu ganggu Freya" ucap Sinta yang langsung masuk kembali ke dalam rumahnya.


Arven terdiam, dia benar-benar harus segera menemui Freya dan meluruskan semuanya. "Pantas saja dia tidak membalas pesanku dan tidak mau menjawab teleponku"


Arven mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Lalu dia segera menghubungi Hendrick dan memintanya untuk menjemputnya sekarang. Arven harus mencari tahu dimana Freya tinggal selama ini.

__ADS_1


"Hen, Freya sudah tidak tinggal di rumah Bibinya. Apa kau bisa cari tahu dimana dia tinggal sekarang" ucap Arven setelah mobil melaju.


"Saya akan usahakan. Tapi kenapa tidak tanya langsung pada Bibinya dimana dia tinggal?"


Arven menghembuskan nafas pelan, dia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Tatapannya tertuju keluar jendela, melihat padatnya jalanan di pagi hari.


"Keluarganya salah faham lagi padaku, bahkan Bibinya dan Sinta saja meminta aku untuk tidak mengganggu kehidupan Freya lagi. Acara talkshow malam itu membuat mereka mengira jika aku hanya mempermainkan Freya"


"Maafkan saya, Tuan. Sepertinya memang Katlyn sudah keterlaluan malam itu" ucap Hendrick.


Arven tidak menjawab, dia hanya menghembuskan nafas pelan. Rasanya untuk bisa bersatu dengan Freya adalah hal yang begitu sulit. Arven jadi tidak mengerti kenapa hubungannya ini selalu saja mendapatkan masalah. Seolah dunia belum bisa merestui hubungan mereka.


"Kita pulang ke Apartemen saja, Hen. Aku malas pulang ke rumah, lagian mereka juga belum tahu kalau aku sudah kembali sekarang" ucap Arven.


Hendrick hanya mengangguk, saja dia mengerti kalau memang sebenarnya Arven masih begitu terluka dengan keadaan ini. Kenyataan yang dia ketahui, kalau ternyata Ayahnya sendiri yang menyebabkan wanita yang dicintainya pergi meninggalkannya.


*********


Suara notifikasi pesan membuat Freya melihat ponselnya. Dia menghembuskan nafas pelan, ketika masih pesan dari orang yang sama yang masuk ke dalam ponselnya ini.


Sayang, aku bisa jelaskan semuanya. Kamu jangan salah faham dulu.


Pesan dari Arven itu tidak berniat untuk Freya balas. Dia menyimpan kembali ponselnya di atas meja. Ketika dering ponsel berbunyi, Freya masih membiarkan saja. Dia tahu siapa yang menghubunginya.


"Aku lelah, terus berusaha untuk bisa kembali bersama dengannya. Tapi semuanya seolah membuat aku harus menjauh darimu"


Freya menatap langit-langit kamar dengan matanya yang berkaca-kaca. Rasanya terlalu lelah saat dia harus menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginannya dan harapannya.


"Dia mau menikah dengan wanita lain, kenapa malah mengganggu hidupku terus menerus"

__ADS_1


Rasanya Freya ingin menjerit sekuat tenaga dan mengatakan kalau dia lelah dengan semua ini. Nyatanya tetap saja dia tidak bisa bersama dengan Arven. Setelah banyak hal yang dia lakukan selama ini. Tapi masih saja dia tidak diizinkan untuk bisa kembali dengan Arven.


"Aku capek"


Lirih suara itu terdengar sampai matanya perlahan mulai terpejam. Freya yang begitu lelah dan ingin melupakan sejenak semua hal yang mengganggu pikirannya ini.


Diluar rumah, sekitar dua jam kemudian. Arven baru saja sampai di depan rumah minimallis ini. Hendrick berhasil mengetahui keberadaan Freya. Arven langsung meluncur kesini meski hari sudah malam.


Dia mengetuk pintu dan terus memanggil nama Freya, tapi tidak ada jawaban dari dalam sana. Arven melihat jam tangannya dan memang sudah seharusnya Freya berada di rumah.


"Tidak mungkin dia belum pulang kerja jam segini. Kemana dia"


Arven mulai cemas, dia mengintip pada jendela. Tapi tidak bisa karena tirainya yang sudah tertutup. Tidak terlihat apapun dari dalam rumah ini. Sampai sebuah motor terparkir di depan rumah Freya, membuat Arven menoleh.


"Kau lagi, kenapa kau bisa tahu rumah Freya?" ketus Sinta yang baru saja turun dari motornya dan langsung berjalan ke arah Arven.


"Aku harus bicara dengan Freya. Tapi dia tidak mau membukakan pintu"ucap Arven.


Sinta menghela nafas pelan, sepertinya memang pria ini tidak mau menyerah begitu saja. Sinta mengetuk pintu dan menekan bel juga.


"Frey buka pintunya, ini aku" teriak Sinta.


Namun sudah beberapa kali dia berteriak memanggil Freya, gadis itu tidak juga kunjung datang dan membukakan pintu. Hal itu membuat Sinta sedikit cemas.


"Tidak biasanya dia seperti ini"


Sinta mengeluarkan kunci cadangan dari dalam tasnya, beruntung Freya memberikan kunci cadangan pada Sinta dan Haura agar mereka bisa gampang masuk ke rumahnya ini.


Arven juga jadi panik sendiri, takut terjadi apa-apa dengan Ferya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2