
Akhirnya Arven dan Freya memutuskan untuk tinggal di rumah Freya. Karena jika tinggal di Apartemen, Freya tidak mau karena dia sudah lebih nyaman tinggal di rumahnya ini.
Rutinitas pagi ini terasa sangat berbeda ketika Freya terbangun dan sudah ada seorang pria yang memeluknya semalaman. Masih seperti mimpi saat ada seorang pria yang tidur disampingnya seperti ini selama dia tinggal di rumah ini.
Freya mengelus hidung mancung Arven dengan jari telunjuknya, tersenyum sendiri dengan apa yang dirinya lakukan. Semoga pernikahannya ini bahagia selamanya. Begitulah do'anya dalam hati.
"Sayang, peluk"
Freya terkekeh saat Arven memegang tangannya dan ingin Freya memeluknya, padahal matanya saja masih terpejam. Tapi seolah dia tidak mau Freya bangun lebih dulu hingga tidak memeluknya lagi. Padahal dia masih ingin dipeluk.
"Ya ampun Sayang, aku mau buat sarapan ini. Kamu bangun, ini juga sudah pagi" ucap Freya sambil mengelus pipi Arven dengan lembut, lalu dia mengecupnya.
"Kan kita masih punya waktu untuk bersama selama masih belum ada aktivitas lain" ucap Arven.
Akhirnya Freya hanya menurut saja, dia beringsut masuk ke dalam pelukan Arven dan memeluknya. Sama sekali tidak menghindar saat Arven mulai mengecup leher dan bahunya.
Freya tidak kembali tidur, dia hanya menatap langit-langit kamar disaat Arven masih memeluknya dengan erat. "Sayang, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan saja hari ini. Kan aku juga masih ambil cuti"
Arven langsung membuka matanya, menatap Freya yang tersenyum begitu indah. Seolah pagi ini memang Arven akan memulai hari dengan indah bersama dengan sang istri.
"Sayang, apa kamu berhenti bekerja saja?"
Freya langsung menoleh pada suaminya. "Kenapa? Aku masih senang bekerja kok, lagian ini impian aku loh. Bisa bekerja di dunia perkantoran, jadi aku menikmatinya"
Arven mengelus kepala Freya, merapikan rambutnya yang sedang berantakan dan menghalangi pipinya. "Aku hanya tidak mau saja kamu capek. Lagian aku juga sudah dapat tawaran kerja baru dari Perusahaan cukup besar. Jadi kamu tidak perlu khawatir tentang keuangan kita"
Freya menangkup wajah suaminya, sebenarnya dia tidak pernah khawatir dengan hal itu. "Aku hanya senang saja dengan pekerjaan ini. Bukan karena aku khawatir dengan keuangan kita, lagian selama kita belum punya anak, jadi aku masih bisa bekerja ya"
__ADS_1
Dan akhirnya Arven tidak bisa menahan keinginan istrinya ini. Tapi melihat Freya yang memang menyukai dan menikmati pekerjaan ini, tentunya tidak akan mungkin juga Arven melarangnya.
"Baiklah, aku izinkan kamu untuk tetap bekerja. Tapi kalau memang kamu sudah lelah, maka jangan ragu untuk bilang sama aku dan berhenti bekerja saja" ucap Arven.
Freya hanya mengangguk saja mendengar itu. Dunia kerja masih terlalu menyenangkan bagi Freya yang baru saja masuk ke dunia kerja.
"Sayang, sekali lagi ya?"
Apa? Freya langsung menatap Arven dengan terkejut. Semalam sudah menghabiskan banyak waktu, tapi sekarang suaminya malah selalu menginginkannya danseolah tidak puas dengan kegiatan semalam.
"Aku lelah dan ingin mandi, jangan lagi ya" ucap Freya dengan tatapan memohon.
Arven terkekeh pelan, dia menatap istrinya dengan lembut. Mengelus pipinya dengan lembut. "Yaudah, kalau gitu kita mandi bersama saja"
"Hanya mandi bersama ya? Awas kalau kamu macam-macam"
Freya hanya mendengus kesal, dia tahu jika suaminya ini memang sangat berubah sejak mereka menikah. Seolah tidak ada puasnya dengan tubuh Freya.
Berendam di bak mandi dengan Freya yang berada di depan Arven, tangannya itu terus mengelus perut Freya dengan lembut. "Semoga saja segera bisa menanamkan benihku di perutmu ini"
Freya hanya tersenyum, dia juga berharap yang sama. "Kita berdo'a saja ya"
Akhirnya setelah mandi bersama, maka mereka langsung pergi untuk jalan-jalan. Pergi ke taman bermain dan Freya yang terlihat senang saat menaiki beberapa wahana permainan. Sudah lama sekali dia tidak mempunyai waktu untuk menyenangkan dirinya sendiri seperti ini.
Berakhir dengan mereka yang membeli eskrim dan duduk di sebuah bangku yang ada di sana. Menatap aktivitas orang-orang yang masih asyik dengan taman bermain ini.
"Kau senang?" ucap Arven sambil mengelus kepala istrinya.
__ADS_1
Freya langsung mengangguk dengan semangat, memang dia sangat senang ketika dia bisa bermain dan menikmati waktu ini. "Aku senang sekali, sudah lama aku tidak mempunyai waktu untuk bermain di tempat seperti ini. Hanya untuk menghilangkan penat saja"
"Loh, kenapa?"
"Karena sejak bekerja, aku hanya fokus dengan pekerjaanku. Jadi tidak punya waktu untuk sendiri dan menyenangkan diri sendiri"
Arven langsung mengelus kepala istrinya, entah kenapa dia seolah melihat dirinya sendiri dalam diri Freya. Karena memang dia saja tidak pernah bisa meluangkan waktu untuk dirinya sendiri jika sudah bekerja. Namun berbeda saat dia bersama dengan Freya. Selalu saja menyempatkan diri untuk bisa mempunyai waktu bersama dengan Freya.
"Mulai sekarang, kita harus rubah kebiasaan itu. Sesibuk apapun, kita tetap harus mempunyai waktu untuk bersama. Tidak boleh sampai disibukan oleh pekerjaan dan akhirnya kita tidak bisa mempunyai waktu bersama" ucap Arven.
Freya mengangguk, tentu saja dia juga ingin seperti itu. Karena sekarang situasinya sudah berbeda, Freya yang sudah menikah dengan Arven. Maka sebagai seorang istri yang masih ingin bekerja, maka Freya harus bisa membagi waktu dengan suaminya.
"Sayang, setelah ini kita pergi makan siang di Restaurant Haura. Anak itu entah kemana sampai langsung pergi lagi setelah acara pernikahan kita. Mungkin memang sibuk ya menjadi anak tunggal" ucap Freya, tidak sadar kalau dirinya juga seorang anak tunggal.
"Karena anak tunggal tidak mempunyai saudara lain untuk bekerjasama. Aku saja seperti itu" ucap Arven.
Freya terkekeh pelan, dia baru sadar jika dirinya dikelilingi oleh anak-anak yang tidak punya saudara kandung. "Ya, kita memang anak tunggal yang tidak punya Kakak atau adik yang bisa diajak bekerjasama"
Dan setelah puas bermain seharian, mereka pun kembali pulang. Di saat Freya masih mandi, Arven pergi keluar kamar dan melihat sekitarnya di rumah ini. Memang dia sangat senang sekali bisa tinggal di rumah minimallis seperti ini dan hanya berdua saja dengan Freya. Seolah memang kehidupan mereka tidak ada yang akan mengganggu karena hanya ada mereka berdua di dalam rumah ini.
Arven duduk di sofa dengan memainkan ponsel untuk menghubungi Hendrick. "Hallo Hen, apa besok kita jadi bertemu dengan pihak dari Perusahaan itu?"
"Seharusnya jadi, tapi entah kenapa tiba-tiba saja pihak dari sana membatalkan. Katanya mereka sudah mendapatkan arsitek baru dari Perusahaan Tuan Besar. Entahlah aku tidak mengerti, karena jelas kau pasti lebih baik dari Arsitek baru di perusahaan Tuan Besar"
Arven menghela nafas pelan, dia tahu jika semua ini adalah perlakuan Ayahnya. "Sudahlah, kita biarkan dulu sampai kapan Papa akan menghalangi pekerjaan anaknya"
Bersambung
__ADS_1