Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#52# Takut Kehilangan Freya Lagi


__ADS_3

Akhirnya hari ini Freya diizinkan pulang oleh Dokter. Namun Arven tidak mengetahui tentang itu, dia yang terpaksa pergi bersama Hendrick pada proyek baru mereka yang belum selesai. Jadi pagi ini Arven tidak datang ke rumah sakit dan menemui Freya seperti biasa.


"Frey, sekarang kita pulang kemana dulu sebelum pulang ke Indonsesia" ucap Sinta.


"Tenang aja, aku sudah sewa Apartemen untuk kita" ucap Haura.


"Wah, untung kita punya teman Sultan" ucap Sinta sambil terkekeh.


Memang hanya Haura yang paling bisa memberikan materi lebih disaat seperti ini. DIa yang sudah terlahir dari keluarga kaya, jadi tidak perlu susah mengeluarkan uang jika untuk teman-temannya ini. Memang keberuntungan untuk Freya dan Sinta bisa berteman dengannya.


"Yaudah, kita pergi sekarang. Aku sudah pesan taksi" ucap Haura.


Dan pagi ini mereka meninggalkan rumah sakit. Freya yang sudah bosan berada di rumah sakit selama ini, dan akhirnya hari ini bisa keluar dari rumah sakit. Freya senang sekali karena sudah bisa menghirup udara segar diluar rumah sakit.


Di dalam mobil taksi yang ditumpangi mereka bertiga itu, Freya hanya menatap keluar jendela untuk melihat suasana diluar sana. Negara orang yang sudah hampir dua minggu dia tinggali, tapi sama sekali tidak pergi kemana pun selain berada di dalam ruangan rumah sakit.


"Frey, kapan kita akan pulang ke Indonesia?" tanya Sinta. "...Kau tidak mungkin terus berada disini hanya karena Arven masih berada disini"


Freya terdiam mendengar hal itu, tentu saja Freya tahu jika sepupunya seolah belum setuju kalau Freya sampai kembali pada Arven. Makanya Freya belum bicara tentang pembicaraan dirinyan dan Arven di ruang rumah sakit saat itu. Tentang Arven yang berjanji untuk melindungi Freya bahkan ingin segera menikahinya. Sinta pasti tidak setuju dengan itu.


"Kalau mau segera pulang, tentukan saja waktunya biar langsung di pesankan tiket" ucap Haura yang duduk di kursi depan.


"Lusa saja kita langsung pulang, jangan sampai terlalu lama disini. Bisa-bisa goyah nih meski udah disakiti selama itu" ucap Sinta.


"Oke, aku akan pesankan sekarang" ucap Haura.

__ADS_1


Dan Freya tidak bisa melakukan apapun, dia juga tidak mau berdebat dengan Sinta saat ini. Apalagi selama ini dia yang sering datang menemani Freya di masa tersulit dalam hidup Freya. Tentu Sinta tahu bagaimana penderitaan Freya saat ditinggalkan oleh Arven selama tiga tahun ini.


"Kamu jangan dulu percaya dengan apa yang dia ucapkan Frey, jelas dia juga sudah bertunangan. Apalagi yang akan kamu harapkan dari dia. Dalam waktu tiga tahun, kamu tidak bisa berpaling pada siapapun. Tapi dia hanya dalam waktu dua tahun saja sudah bisa berpaling dan akhirnya bertunangan" ucap Sinta lagi, berkata menurut apa yang dia lihat saja saat ini.


"Iya Frey, kamu harus ingat kalau sekarang dia sudah bertunangan. Rasanya tidak mungkin kalian bisa bersatu kembali meski kamu sudah menolong nyawanya" Haura yang ikut menimpali, karena dirinya masih tidak rela jika sahabatnya harus kembali tersakiti oleh pria yang sama.


Freya tidak menjawab, dia hanya menatap keluar jendela dengan hembusan nafas pelan. Mungkin memang dia juga tidak bisa untuk percaya begitu saja pada Arven.


Sementara sekarang saja statusnya yang masih mempunyai tunangan.Mana mungkin Arven akan meninggalkan Katlyn yang jelas lebih segalanya dari Freya, dan juga dia adalah wanita yang dipilihkan orang tuanya. Sementara Freya hanya gadis yang tidak pernah disetujui orang tuanya saat bersama dengan Arven.


Apasi yang kamu pikirkan Freya, bisa-bisanya kamu berharap akan bisa bersama kembali dengan Arven. Jelas dia sudah mempunyai wanitanya sendiri. Mungkin apa yang dia lakukan kemarin, hanya karena merasa bersalah saja atas apa yang aku lakukan. Ketika aku yang menjadi pendonor untuknya.


Freya yang bergelut dengan pemikirannya sendiri.


Sore hari, Arven kembali ke rumah sakit setelah dia selesai dari tempat kerjanya. Dia merasa bodoh karena tidak meminta nomor ponsel Freya yang baru agar bisa menghubunginya. Tapi sekarang dia malah susah untuk menghubunginya ketika dia tidak bisa datang ke rumah sakit tadi pagi.


Saat Arven membuka pintu ruangan, dia melihat ranjang pasien yang kosong dan sudah rapi kembali. Membuat Arven sedikit cemas, kemana Freya? Arven langsung keluar dan menahan satu perawat yang kebetulan lewat.


"Sus, kemana pasien disini?" tanya Arven dengan cemas.


"Loh, Nona Freya sudah kembali sejak tadi pagi. Dokter sudah mengizinkannya pulang"


Deg,, seketika tubuh Arven terasa lemas mendengar hal itu. "Kemana dia perginya Dok?"


"Maaf Tuan, saya tidak tahu soal itu"

__ADS_1


Dan Arven benar-benar dibuat cemas dengan kabar itu. Dia segera kembali ke parkiran dan menemui Hendrick di dalam mobilnya.


"Hen, Freya sudah pulang dari rumah sakit. Tapi sekarang masalahnya aku tidak tahu kemana dia pulang. Aku tidak menanyakan dimana dia tinggal selama berada disini" ucap Arven dengan mengusap wajah frustrasi.


"Kau tenang saja dulu, aku akan coba mencarinya. Siapa tahu dia pernah menginap di hotel disini, atau mungkin sewa Apartemen" ucap Hendrick.


Arven mengangguk saja, dia sudah sangat cemas dan was-was. Takut sekali kalau sampai Freya tidak bisa dia temukan. Arven tidak mau terpisah lagi dengannya. Karena sudah sejauh ini mereka berpisah, dan tetap saja Arven tidak pernah bisa melupakannya. Meski sudah ada Katlyn dalam hidupnya.


"Kau harus temukan dia Hen, kalau sampai kau tidak bisa menemukannya, aku pecat kau" tekan Arven.


Hendrick hanya diam saja sambil menghembuskan nafas kasar. Sudah terbiasa dengan ancaman pemecatan seperti ini. Tapi tidak pernah sekalipun Arven berani melakukan itu, pastinya belum ada yang bisa menggantikan Hendrick. Asisten yang selalu bisa diandalkan dalam segala hal. Bahkan selalu siap mendengar keluh kesahnya dalam hal percintaan sekalipun.


Sampai di Aparteman, mood Arven yang sedang buruk semakin terasa buruk ketika melihat Katlyn yang sudah berdiri di depan pintu Aprtemennya. Bukan karena Arven membenci Katlyn, tapi karena sekarang pikirannya yang sedang kacau dan dia juga ingat kalau hubungannya dengan Katlyn juga belum berakhir.


"Kak, bagaimana keadaan Kak Arven sekarang? Maaf ya aku tidak bisa jemput saat Kakak pulang dari rumah sakit, karena aku ada pekerjaan mendadak. Ini saja baru selesai kerja dan langsung kesini. Eh, tapi ternyata Kakak sudah bisa pergi jalan-jalan ya" ucap Katlyn.


Arven mencoba untuk tersenyum dan bersikap biasa pada Katlyn, sadar kalau gadis itu juga tidak salah dalam hal ini. Semuanya menjadi rumit saat Arven merasa jengah saat orang tuanya yang terus menjodohkan dia dengan beberapa wanita kenalan mereka disini, hingga akhirnya pada sepupu Hendrick ini juga. Dan karena sudah bosan terus dijodohkan, membuat Arven menerima Katlyn begitu saja karena dia tahu kalau Katlyn adalah sepupu Hendrick dan dia juga sudah mengenalnya sejak Katlyn masih kecil.


"Aku tidak papa, sekarang sudah lebih baik kok. Kamu tenang saja" ucap Arven.


Dia membuka pintu Apartemen dan mempersilahkan Katlyn untuk masuk ke dalam Apartemennya. "Masuk Kat, aku mau mandi dulu. Kau duduk saja disana"


Arven berlalu ke kamarnya dan membiarkan Katlyn duduk sendirian di ruang tengah Apartemen ini.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2