Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#46# Cinta Mereka Begitu Besar!


__ADS_3

Keadaan Arven yang semakin membaik, tapi masih butuh pemantauan Dokter.  Pagi ini Katlyn sengaja membawa Arven ke taman rumah sakit. Ingin membawanya untuk menikmati suasana pagi yang hangat dengan sinar matahari pagi yang menyehatkan.


Arven sudah bisa berjalan, tidak perlu lagi menggunakan kursi roda. Hanya saja harus benar-benar hati-hati, karena memang luka bekas operasi yang belum benar-benar kering.


Duduk di bangku taman dengan menikmati suasana pagi yang segar. Katlyn senang melihat perkembangan Arven yang semakin membaik. "Kak, tadi kata Dokter mungkin sore ini sudah di izinkan pulang loh"


Arven tersenyum mendengar itu, sebenarnya memang dia sudah merasa jengah dan bosan untuk terus berada di rumah sakit setiap harinya. Selama ini dia yang terbiasa beraktivitas, harus berdiam diri di atas ranjang pasien dengan lemah. Tentu saja membuatnya tidak nyaman dan merasa sangat bosan.


"Baguslah, aku juga sudah malas berada disini" ucap Arven.


Katlyn tersenyum, dia mengangguk mengerti. Pastinya membosankan berada di rumah sakit terlalu lama. "Kak, aku masih penasaran deh, siapa yang sudah mendonorkan ginjalnya untuk Kakak"


Arven menoleh, menatap Katlyn yang sedang menatap lurus ke depan. "Jangankan kamu, aku saja penasaran siapa orangnya. Sampai sekarang belum ada pembocoran tentang pendonornya itu"


Arven dan Katlyn asyik mengobrol, hingga suara dua orang perempuan disana membuat Arven merasa mengenali suara itu.


"Pokoknya kalau sudah benar-benar sembuh, kamu harus segera kembali ke Indonesia"


"Iya Haura, aku mengerti. Lagian kamu juga tidak perlu sampai menjenguk aku kesini, keadaan aku baik-baik saja kok"


"Sempat ngedrop parah, masa mau bilang baik-baik saja, Freya"


Deg,, Arven seakan langsung membeku ditempatnya saat mendengar nama itu disebut. Apalagi cara berbicara mereka yang memang memakai bahasa Indonesia. Membuat Arven langsung menoleh ke arah sumber suara, dan jantungnya langsung berdetak kencang ketika melihat Freya disana yang memakai pakaian pasien dan sedang duduk di kursi roda. Dibelakang kursi roda itu ada Haura yang memegang pegangan kursi roda.


Arven langsung berdiri, dia berlari menghampiri Freya. Hal itu tentu saja membuat Katlyn bingung dan terkejut, tapi dia segera menyusul Arven. 

__ADS_1


"Kak, tunggu" teriak Katlyn.


Freya yang sengaja dibawa oleh Haura untuk menikmati suasana pagi di taman rumah sakit, begitu terkejut saat tiba-tiba ada laki-laki yang berlutut di depan kursi roda yang dia duduki. Dan lebih terkejut lagi ketika tahu siapa laki-laki itu.


Ya Tuhan, kenapa dia bisa menemuiku?


Rasanya Freya tidak bisa berkata-kata saat hari ini harus bertemu dengan Arven secara langsung. Freya yang benar-benar tidak mengerti kenapa bisa bertemu dengan Arven sekarang, padahal jelas dia selalu mencoba menghindar. Sudah beberapa kali dia datang ke taman rumah sakit ini dan selalu melihat adanya Arven juga disini. Namun Freya selalu menghindar agar Arven tidak melihatnya. Tapi sekarang, justru pria itu malah sudah menghampirinya.


"Sedang apa kau disini?" tanya Arven dengan pikiran yang kacau, melihat baju yang dipakai oleh Freya sama dengan baju yang sedang di pakai oleh Arven saat ini.


Freya benar-benar tidak bisa menjawab dengan apa yang ditanyakan oleh Arven saat ini. Dia malah jadi bingung sendiri.


Mata Arven berkaca-kaca, rasa rindu yang begitu mendalam untuk gadis di depannya ini. Belum lagi saat sekarang melihat keadaan Freya, membuat pikiran Arven menuju ke arah lain. Mungkinkah Freya yang mendonorkan ginjalnya untuk Arven? Karena tidak mungkin dia berada disini kalau dia baik-baik saja.


Tubuh Freya semakin membeku mendengar ucapan Arven itu. Tidak bisa dia berucap apapun lagi. Dia langsung menoleh pada Haura yang juga terlihat sangat terkejut dengan keadaan ini.


"Haura, ayo kembali ke kamar. Aku lelah" ucap Freya.


Namun, tangan Arven langsung menggenggam tangannya. Tidak akan lagi membiarkan Freya pergi sebelum dia mendapatkan jawaban yang pasti. Kenapa Freya bisa berada disini.


"Kau mau kemana? Sekarang jawab aku, kenapa kau ada disini?" tekan Arven.


"Ya, Freya memang banyak berkorban untuk kamu. Dia rela datang jauh-jauh kesini hanya untuk menjadi pendonor untuk kamu" Haura yang menjawab, mungkin karena Haura kesal dengan hubungan mereka yang malah saling memendam perasaan.


Arven langsung terduduk di atas rumput taman, semua ini tidak pernah dia duga akan terjadi. Arven tidak akan pernah bisa membayangkan kalau ternyata yang menyelamatkan dirinya itu adalah gadis yang selama ini selalu menjadi pengisi di ruang hatinya.

__ADS_1


Arven mendongak menatap Freya, air matanya sudah tidak tertahankan lagi. "Kenapa? Kenapa harus melakukan ini? Kalau memang kau tidak mencintaiku lagi, kenapa harus berkorban sejauh ini?"


Freya yang melihat Arven seperti itu, tidak bisa hanya diam saja. Freya membungkukan tubuhnya dari kursi roda, mencoba membuat Arven untuk bangun. "Maafkan aku karena membuat kamu kecewa, tapi aku juga tidak akan bisa diam saja melihatmu menderita dalam sakitmu itu"


Arven benar-benar tidak percaya dengan apa yang sebenarnya terjadi, Freya yang selama ini membuat Arven begitu hancur karena ucapannya yang mengatakan kalau dia tidak mencintainya. Tapi sekarang, Arven menemukan bahwa Freya yang telah menjadi penolong hidupnya.


"Berdirilah, jangan seperti ini" ucap Freya, sambil berusaha membuat Arven berdiri.


Arven meraih tangan Freya, mengenggamnya di atas dada tangan itu dengan erat. "Kenapa kau melakukan ini? Kenapa sampai rela berkorban sejauh ini untukku?"


Freya menatap mata tajam itu, mata yang sudah tiga tahun ini tidak pernah dia tatap. Rasanya begitu menyakitkan ketika dia mengingat bagaimana dulu, Freya sendiri yang mengakhiri hubungan dan kisah cintanya dengan terpaksa.


"Karena aku mencintaimu"


Akhirnya tidak ada lagi yang Freya tutupi, perasaannya pada Arven yang masih sama. Dia hanya ingin mengatakan apa yang sebenarnya dia rasakan. Freya yang sudah lelah dan capek, ketika dia harus terus menutupi perasaannya sendiri pada Arven.


Arven langsung berdiri dan memeluk Freya, mendengar ucapan kata cinta itu lagi sungguh membuat hatinya kembali berdebar. Tangisan kedua pecah, tangisan penuh kerinduan yang terpendam. Bahkan Haura saja sampai mengusap ujung matanya yang ikut berair.  Terharu melihat cinta keduanya yang begitu besar, namun terpaksa terpisah karena keadaan.


Katlyn yang sejak tadi hanya diam berdiri di belakang Arven, juga ikut merasakan bagaimana besarnya cinta keduanya. Saat tadi melihat Freya, jelas dia ingat kalau wanita itu adalah foto yang terpajang selama ini di Apartemen Arven dan juga di ruang kerjanya di Kantor.


Cinta mereka begitu besar.


Meski ada sedikit nyeri di hati Katlyn saat melihat mereka berdua. Sadar jika selama ini memang dirinya tidak pernah berarti apapun untuk Arven. Meski sudah menemani hidupnya selama 3 tahun ini. Mengingat hal itu, membuat Katlyn memilih pergi darisana. Karena tidak mau sampai membuat hatinya semakin terluka.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2