Pacar Kontrak Tuan Muda

Pacar Kontrak Tuan Muda
#69# Malam Pengantin Yang Hampir Rusak


__ADS_3

Arven keluar dari kamar mandi, dia melihat istrinya sedang membereskan tempat tidur. Kedua boneka angsa yang tadi berada di atas tempat tidur, sekarang sudah berada di atas nakas. Dan Freya sedang memunguti kelopak mawar merah yang tadi berada di atas tempat tidur begitu rapi dengan membentuk love. Namun karena dirinya yang malah melakukan hal yang entah kenapa dia juga bingung, kenapa dirinya harus melakukan hal itu. Sekarang semuanya jadi berantakan.


"Aku sudah merusak semuanya, malam pengantin yang rusak karena aku" lirihnya dengan isak tangis yang terdengar. Sesekali Freya mengusap air matanya yang terus menetes di pipinya.


Arven langsung menghampiri istrinya dan memeluknya dari belakang. Menghentikan Freya yang terlihat panik dan terus mengambil kelopak bunga mawar dengan tangisan yang tidak berhenti.


"Sudah, tidak perlu di bereskan" ucap Arven yang menahan tangan Freya yang terus mencoba mengambil semua kelopak bunga mawar yang sudah berantakan itu.


Freya terisak, sekarang dia semakin merasa bersalah pada suaminya ini karena sudah mengacaukan malam pengantin mereka. "Maafkan aku.. Hiks.. Maaf karena sudah membuat kacau malam ini. Maaf sudah merusak semuanya.. Hiks"


Arven mengecup bahu Freya, dia bisa melihat kalau istrinya itu sedang mempunyai kesedihan yang cukup besar, hingga dia jadi bersikap seperti ini. Tangisannya juga tidak mau berhenti.


"Sudah, sekarang aku hanya ingin dengar saja kenapa kamu seperti ini?"


Freya terdiam, dia melepaskan pelukan Arven dan langsung berbalik menatapnya. Freya menatap suaminya itu dengan mata yang basah. Melihat itu membuat Arven terluka, dia mengecup kedua kelopak mata Freya untuk menghapus air matanya.


"Kenapa menangis seperti ini?" tanya Arven.


Tidak berkata apapun, Freya langsung menghambur ke pelukan Arven. Dia yang sangat tidak bisa menahan tangisannya yang sudah lama sekali Freya tidak merasakan sesak seperti ini di dadanya. Terakhir kali saat Arven pergi dan dia yang terpaksa harus memutuskan dirinya.


"Apa aku salah? Kenapa Ibu tidak mengenaliku?"

__ADS_1


Deg,, Arven langsung terdiam mendengar ucapan Freya yang diiringi tangisan itu. Sungguh Arven saja tidak mengerti apa maksud Freya. Tapi apa mungkin ada tamu undangan yang ternyata adalah Ibunya, tapi dia tidak mengenali Freya? Begitulah pikiran Arven.


"Sayang, jelaskan padaku apa yang kamu maksud? JanganĀ  membuat aku bingung" ucap Arven.


Freya malah semakin kencang menangis dan mengeratkan pelukannya pada Arven. Sekarang ini dia bahkan tidak tahu harus bagaimana. Namun, Freya akan mencoba untuk tetap bisa bercerita pada suaminya tentang apa yang terjadi. Tapi saat ini dia hanya ingin meluapkan segala sesak di dadanya.


Arven membawa istrinya ke arah sofa, lalu dia duduk disana dengan memangku istrinya itu. Memeluknya dengan lembut, membiarkan Freya mengeluarkan segala kesedihannya dengan tangisan sebelum dia bercerita semuanya.


Hingga beberapa menit kemudia, Freya berhenti menangis. Dia melerai pelukannya. Menatap Arven dengan lekat. "Nyo-nyonya Susan yang kamu sebut tadi, di-dia adalah Ibu aku"


Arven terdiam mendengar ucapan itu, sungguh sangat mengejutkan sekali dengan apa yang baru saja Freya katakan padanya. "Mak-maksud kamu?"


Freya mengusap air matanya yang kembali menetes, padahal dia sudah berusaha untuk menghentikan tangisannya ini. Namun seolah matanya masih belum ingin berhenti untuk mengeluarkan cairan bening dari kelopak matanya.


Arven masih tidak percaya dengan ucapan istrinya ini. Karena dia tahu betul jika Nyonya Susan dan Tuan Heri hanya mempunyai satu anak, yaitu Cintya. Tapi ternyata ada kisah menyakitkan dibalik semua itu. Apalagi yang paling menyakitkan bagi istrinya ini.


Arven kembali memeluk Freya, mengelus punggungnya untuk menenangkan istrinya itu. "Sudah ya, nanti kita cari solusinya untuk masalah ini. Sekarang kamu jangan terus bersedih seperti ini. Ingatlah, jika hari ini adalah malam pengantin kita. Jangan menjadikan malam ini penuh dengan tangisan ya"


Freya mengangguk, dia sadar jika dirinya juga tidak boleh menghancurkan malam pengantin mereka ini. Dia melerai pelukannya dan menatap Arven dengan lekat. Isakan kecil masih cukup terdengar, namun Freya sudah berusaha untuk menghentikan tangisannya.


"Sayang, tidak perlu menunda lagi. Aku siap memberikan hak aku sama kamu"

__ADS_1


Arven sedikit tertegun dengan ucapan istrinya itu. Padahal memang Arven berniat untuk menunda malam pertama mereka saat dia melihat Freya yang seperti ini. Namun ternyata malah istrinya sendiri yang meminta untuk tidak menunda lagi tentang malam pertama mereka ini.


"Sayang yakin? Kondisi kamu sedang seperti ini, aku tidak papa kalau harus menung...Emptt"


Entah apa yang Freya lakukan, namun dia hanya mengikuti kata hatinya saja. Memotong ucapan Arven dengan mencium bibirnya. Hal itu tentu saja membuat Arven begitu terkejut, namun tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan oleh istrinya ini.


Memegang tengkuk leher Freya dan semakin memperdalam ciuman mereka. Arven benar-benar tidak ingin melepaskan kesempatan ini. Kecupan-kecupan kecil itu berpindah ke leher istrinya. Tangan Arven yang perlahan membuka kancing piyama yang dipakai istrinya. Hingga semuanya terbuka, meninggalkan pakaian dalam saja. Setelah itu segera Arven menggendong Freya ke arah tempat tidur dengan tidak melepaskan ciuman bibir mereka.


Saat Arven sudah tidak sabar untuk memulai dan ingin membuka pakaian dalam yang tersisa di tubuh Freya, namun istrinya itu menahan tangannya. Membuat Arven langsung menatap ke arahnya dengan tatapan mata yang sayu.


"Aku takut, apa akan menyakitkan?" ucap Freya, untuk pertama kali baginya pasti mempunyai ketakutan yang besar. Karena dia tahu jika untuk pertama kalinya akan terasa sakit.


Arven tersenyum, dia mengecup bibir Freya dengan lembut. "Aku akan lakukan dengan perlahan. Kalau memang sakit kamu bisa lakukan apa saja padaku untuk menghilangkan rasa sakit itu"


Freya menatap suaminya yang sudah bergairah. Sudah pasti Arven tidak tahan lagi. "Lakukanlah"


Arven tersenyum mendengar itu, dia membuka pakaian dalam Freya hingga kini tubuhnya benar-benar polos tanpa apapun. Tidak langsung pada inti permainan, Arven sedikit bermain-main dengan milik istrinya yang terlihat sangat menggiurkan.


"Ah, Sayang..." Freya yang mulai bergelinjang dengan permainan Arven di bawah sana.


Saat dirasa istrinya itu sudah rileks dan siap mendapatkan serang darinya, barulah Arven melepaskan handuk yang melilit di pinggangnnya. Melemparkannya ke sembarang arah. Dan dia mulai melakukannya dengan perlahan.

__ADS_1


Cengkraman erat tangan Freya di seprei putih itu menandakan jika dia begitu kesakitan hingga menjerit keras. Namun perlahan rasa sakit yang dia rasakan mulai berubah menjadi sebuah kenikmatan yang baru dia rasakan selama ini dalam dirinya.


Bersambung


__ADS_2