
Setelah mendapatkan restu dari Bibi, maka hari ini adalah satu lagi tugas Arven dan Freya sebelum hari pernikahan mereka. Mengunjungi makan Ayah dan Paman Freya.
Sampai di depan dua gundukan tanah yang memang berdamping. Freya terdiam dengan matanya yang berkaca-kaca. Lalu dia berjongkok diantara dua gundukan tanah itu. Mengusap nisan yang bertuliskan nama Ayahnya. Lalu mengusap nisan yang bertuliskan nama Pamannya juga.
"Ayah, Paman, Eya datang. Maaf ya baru bisa datang hari ini. Sudah cukup lama juga Eya tidak kesini ya..."
Freya menghembuskan nafasnya kasar, mencoba menahan air mata yang siap menetes. Suaranya yang sudah terdengar bergetar. Melihat itu membuat Arven langsung merangkulnya untuk menguatkan Freya. Dia tidak pernah berada di posisi Freya, jadi dia tidakĀ bisa cukup mengerti bagaimana perasaan Freya sekarang ini.
"Ini Kak Arven, dia calon suami Eya. Dulu, Ayah dan Paman selalu memberi tahu aku dan Sinta kalau kita harus menikah karena cinta. Dan ya, Eya mencintainya. Do'akan kami akan bahagia ya" ucap Freya dengan air mata yang akhirnya lolos juga. Tidak bisa lagi dia menahannya.
"Ayah tenang saja, aku tidak papa meski Ibu tidak mungkin datang. Aku saja sudah tidak tahu dimana dia berada"
Dan tangisan Freya benar-benar pecah saat mengatakan itu. Dia hanya mengingat tentang Ibunya yang sampai saat ini tidak tahu dimana dia berada setelah meninggalkan Ayahnya saat sakit parah.
"Aku sudah tidak akan mencari tahu lagi dimana dia. Karena dia saja tidak pernah mengingatku lagi, tidak pernah sekalipun datang hanya untuk menemuiku dan menanyakan kabar tentang aku" tangisan Freya pecah begitu saja.
"Sayang sudah, jangan menangis seperti ini. Ayah dan Paman kamu tidak akan senang melihat kamu menangis seperti ini"
Freya menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Arven. Tangisannya masih belum berhenti. Sudah lama dia tidak mengeluarkan tangisannya yang selalu menimbulkan rasa sesak didadanya.
Arven mengelus kepala Freya dan mengecupnya. "Semuanya akan baik-baik saja ya. Ayah, Paman, maaf kalau aku bukan seorang pria yang baik. Namun aku menjamin Freya akan bahagia bersamaku"
Tetap tidak berani mengucapkan janji, karena Arven takut tidak bisa menepati janjinya. Namun dia tetap akan menjamin hidup Freya akan bahagia bersamanya.
"Sudah ya, jangan menangis seperti ini. Aku sudah menjamin kamu akan selalu bahagia selama bersamaku. Sekarang kalau kau menangis begini, bagaimana aku bisa menepati itu pada Ayah dan Paman kamu ini" ucap Arven sambil terus mengelus kepala Freya.
__ADS_1
Freya melerai pelukannya, dia menghapus sisa ai matanya dan menatap Arven dengan lekat. "Mereka akan tahu kalau aku bahagia bersama denganmu"
Dan setelah mereka berdo'a disana untuk Paman dan Ayah. Arven langsung mengantar Freya ke tempat kerjanya hari ini. Untuk pertama kalinya Arven mengetahui tempat kerja calon istrinya ini.
"Sayang cepat ambil cuti ya, pernikahan kita akan dilaksanakan satu minggu lagi" ucap Arven.
Freya mengangguk. "Tapi Sayang, apa tidak terlalu mendesak ya waktunya? Hanya satu minggu loh?"
Arven menggeleng pelan, tentu saja dia sudah memikirkan ini matang-matang. "Tidak. Pokoknya kita akan segera menikah, lagian aku tidak mau menunggu lagi"
"Baiklah, calon suamiku" Freya mengecup pipi Arven sebelum dia turun dari dalam mobil. Membuat Arven tersenyum penuh kebahagiaan.
*******
"Tuan, anda sudah siap?" Hendrick yang muncul di balik pintu menatap Tuannya yang berdiri di depan cermin.
Arven tersenyum tipis, dia menatap pada Hendrick dari balik pantulan cermin. "Hen, bagaimana penampilanku? Ah, aku gugup sekali. Kau tidak akan mengerti, kau 'kan belum pernah menikah. Jangankan menikah, pacaran saja belum pernah"
Aku tidak tahu ini sebuah pujian atau hinaan? Mungkin jika bukan Tuannya yang dia hormati selama ini, Hendrick sudah memukul Arven dengan keras karena ucapannya yang seenaknya itu. Meski memang benar apa yang Arven ucapkan sekarang.
"Saya sudah waktunya untuk berangkat" ucap Hendrick.
Arven mengangguk, dia segera keluar dari Apartemennya bersama dengan Hendrick. Saat berada di dalam lift, memang hanya mereka berdua saja.
"Hen, apa Mama datang?" tanya Arven, setidaknya meski Papa tidak mungkin datang ke acara pernikahan ini. Tapi Ibunya harus bisa menghadirinya.
__ADS_1
"Mungkin akan datang, tapi Nyonya juga tetap harus minta izin pada Tuan Besar. Jadi kita tunggu saja, kalau dia tidak datang, jangan kecewa" ucap Hendrick, dia tahu kalau Arven sangat berharap Ibunya bisa datang. Jadi dia mencegah Arven kecewa jika Ibunya memang tidak bisa datang ke acara pernikahannya ini.
Arven hanya diam saja, entah kenapa suasana pernikahan ini memang akan terasa berbeda saat kedua orang tuanya tidak pernah datang. Namun semua ini sudah Arven pikirkan sebelumnya, dan ini adalah pilihannya, tidak mungkin Arven akan memaksa keadaan di saat dia sendiri yang sudah memilih hal ini meski tahu resikonya.
"Terus, kenapa kau masih saja mengikutiku? Aku sudah tidak bisa bekerja di Perusahaan lagi. Sebaiknya kau kembali saja ke Negaramu itu" ucap Arven.
"Kau tahu hubunganku dan orang tuaku juga tidak baik. Lagian tidak salah menjadi seorang pengangguran sejenak, kita bisa menikmati hidup yang sebenarnya tanpa harus disibukan dengan pekerjaan lagi" ucap Hendrick santai.
Arven hanya tersenyum mendengar itu. Mungkin memang hari pengangguran ini mereka akan manfaatkan untuk menikmati hidup yang sebenarnya"
Ketika sudah sampai di sebuah gedung untuk acara pernikahan mereka. Arven langsung masuk dan menuju ruangan tunggu untuk pasangan pengantin. Hingga waktunya tiba, dia keluar dengan ditemani Hendrik. Menunggu di ujung karpet merah yang tergelar, para tamu sudah duduk di kursi depan karpet merah itu untuk menyaksikan pernikahan mereka berdua.
Arven sangat berdebar ketika pengantinnya di panggil. Freya yang berjalan ditemani Ibu dan Sinta. Wanitanya itu berjalan mendekat ke arahnya, semakin saja membuat Arven berdebar.
"Bibi tahu betul luka yang dialami Freya, jadi tolong jangan lukai dia lagi. Sembuhkanlah luka yang tidak nampak ke permukaan itu" ucap Bibi sambil menyerahkan tangan Freya pada Arven.
Arven mengangguk. "Saya akan menjaganya untuk tetap bahagia dan tidak sedikit pun terluka"
Dan dengan perlahan, Arven membuka kain yang sejak tadi menutupi wajah Freya. Dan dia benar-benar merasa sangat terkejut dengan wajah Freya yang begitu cantik. Sangat jauh sekali dari bayangannya. Freya sangat cantik hari ini.
"Mulai saat ini, mari kita melalui semuanya bersama" ucap Arven.
Freya hanya mengangguk dengan matanya yang berkaca-kaca. Sungguh dia juga tidak pernah menyangka jika dirinya akan bisa menikah dengan Arven saat ini. Setelah banyak sekali rintangan yang mereka lalui.
Bersambung
__ADS_1